Hari Sapi

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 07/07/2020

Sapi holstein friesian jenis sapi perah menghasilkan hingga 20 liter susu per hari.

Hari Buaya sedunia jelas, 17 Juni.  Tapi Hari Sapi bebas, boleh kapan saja di pekan kedua bulan Juli. Pada 2020 ini ditetapkan 10 Juli. Tradisi hari sapi diawali pada 7 Juli dan diakhiri 14 Juli.  Namun, ada saja negara yang merayakan hingga 20 Juli. Buaya diperingati karena terancam punah. Sapi dihormati karena jasa-jasanya.  Hampir tidak mungkin sehari pun lewat tanpa sapi.  Sepatu dan ikat pinggang saja dari kulit sapi.  Juga susu yang kita konsumsi. Baik susu segar, susu bubuk, keju, dan banyak ragam kue yang mengandung produk turunan sapi.

Beras, gandum, dan buah-buahan yang kita makan pun berkembang subur berkat pupuk kotoran sapi.  Ya, kotoran sapi itulah yang memberi rezeki sehari-hari bagi para peternak maupun petani.  Jadi, bersiaplah merayakan Hari Sapi. Di Amerika, Asia, dan Eropa ada saja keluarga sudah menyiapkan kostum sapi. Bukan hanya topeng bertanduk, tapi juga piayama putih hitam dengan motif sapi perah.

Peringatan vegan

Eka Budianta

Penghormatan pada sapi disebut Cow Appreciation Day–hari penghargaan untuk sapi.  Bermacam videonya bisa kita tonton di internet.  Apa saja acara yang menarik dari tahun ke tahun?  Ada parade sapi paling gemuk, paling lucu, dan terutama paling banyak menghasilkan susu. Ada juga lagu-lagu mars yang dinyanyikan untuk sapi. Titiek Puspa bisa melengking-lengking, “Aku ini gembala sapi!”

Ah, saya jadi ingin pulang ke desa Junrejo di Kota Batu, Jawa Timur.  Rumah kelahiran ibu saya menyatu dengan kandang sapi. Di sana adik sepupu saya tercinta, Yudi merawat tujuh sapi perah yang menghidupi keluarganya dari hari ke hari.  Ia bangun sebelum subuh dan mengantar hasil perahannya ke koperasi. Di Indonesia, perayaan hari sapi nasional kalah meriah dibandingkan dengan peringatan Hari Susu Internasional, 1 Juni.

Boleh dikata hari susu lebih penting ketimbang hari sapi.  Sepanjang Juni 2020 saya mencatat beragam acara terkait sapi.  Harian Kompas menonjolkan peran peternak sapi zaman now, bernama Setyo Hermawan, kelahiran1998. Yang paling berkesan adalah wisata daring ke Selandia Baru, dengan moderator Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. Zulkieflimansyah. Katanya peternakan sapi memang cocok untuk provinsinya dan kita perlu menghargai cowboy di masa krisis wabah korona.

Acaranya digelar Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan.  Bersyukur saya bisa mengikutinya, diajak Gemala Hatta.  Setiap kali ada urusan pertanian dan peternakan, selalu ia memberi tahu.  Pagi 10 Juni ia mengingatkan akan tampil ustaz Reza Abdul Jabbar. Siapakah dia?  Dr. Reza Abdul Jabbar ustaz dan peternak 2.500 sapi di lahan 1.000 hektare di Selandia Baru.

Bangga sebagai putra Borneo,  lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, dan sukses sebagai peternak merangkap ustaz di Invercargill, Selandia Baru. Setiap hari ia memerah susu paling sedikit seribu ekor sapi. Sesuai cita-citanya, ingin jadi peternak terbesar di sana. Dalam wisata daring itu, ustaz bicara tentang rumput yang paling cocok untuk sapi-sapinya dan kerja sama peternak sapi di desa-desa.

Yang paling mengesankan, bagi saya adalah lincahnya mengelola lahan begitu luas.  Tentu dengan sejumlah karyawan, termasuk mahasiswa Indonesia yang ingin belajar peternakan. Pembicara tamu pagi itu, adalah duta besar Republik Indonesia di Selandia Baru, Y.M. Tantowi Yahya. “Ada dua tantangan besar bagi para peternak sapi,” katanya.  Pertama adalah maraknya gerakan vegan–menolak konsumsi daging. Kedua rumitnya diplomasi perniagaan daging internasional.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Yang kedua itu membuat kedudukan Selandia Baru sebagai eksportir daging ke Indonesia digeser oleh Brasil dan Argentina. Namun, peringatan pertama, saya rasa lebih penting.  “Gerakan vegan makin lama semakin kuat,” kata Tantowi.  Rupanya dia baru menyaksikan demo antisusu, telur, satai ayam, domba, dan terutama abon sapi.  Dikatakan, gerakan kaum vegetarian meningkat signifikan dari tahun ke tahun.  Mungkin hal itu patut direnungkan oleh aktivis peternakan.

Siap melayani

Harus diakui hubungan manusia dan sapi bukan hanya dalam urusan konsumsi, tenaga kerja, dan ekonomi. Hubungan spiritual pun cukup kuat dan mendalam. Kita mengenal Nandini, lembu betina yang sering juga dipanggil Handini. Dalam ajaran Hindu, sapi adalah makhluk sakral. Ia lahir ketika alam semesta diciptakan. Cukup banyak perempuan diberi kedua nama itu. Harapannya supaya hidupnya suci, selalu siap berbakti, rajin bekerja dan penurut.

Filosofi mencintai sapi sebagai sesama mahluk ini terpatri lama sejak sebelum Masehi. Berbagai candi Hindu di Jawa ditandai dengan kehadiran lembu Nandini sebagai kendaraan Dewa Siwa. Festivalnya berlangsung sampai sekarang. Nandini juga dikenal sebagai pusat konservasi sapi endemik di Desa Taro, Kabupaten Gianyar, Bali. Indonesia punya banyak sapi asli yang tidak boleh dilupakan.

Sapi Aceh membuat dendeng menjadi oleh-oleh utama kalau kita pulang dari Serambi Mekah. Saya ingat ketika tinggal di Wisma Tamu Kampus Universitas Syah Kuala. Cukup banyak sapi hidup bebas dan gemuk-gemuk di sana. Di Banten Selatan ada sapi-sapi asli yang disebut banteng Bos javanicus.  Di Madura ada sapi madura, dan di Bali ada sapi putih, serta banteng mini yang bobot maksimalnya 450 kg.

Semua itu sangat perlu dilindungi dan dikembangkan. Dalam menghadapi perubahan iklim, sapi-sapi endemik punya kontribusi genetik. Bukan hanya eksistensinya, tapi juga kualitasnya sebagai lembu terbaik di bumi. Pada Juli ini kita merayakan jasa sapi,  persahabatan, bahkan persaudaraan manusia dan sapi.  Harga susu ultra dengan kalsium tinggi memang sedikit naik.  Dari Rp19.000 menjadi Rp 21.000 pada akhir Juni.

Menghadapi pandemi korona, kesehatan perlu dijaga.  Terima kasih, masih banyak yang percaya susu untuk melengkapi empat sehat lima sempurna. Saya menelepon Yudi yang suka permen susu kopi. Saya ingin mengajaknya bernyanyi, “Aku bangga menjadi sapimu” – I am proud to be your cow! Lagu itu menyentuh, menganjurkan kita berterima kasih pada semua sapi yang ikut membangun dan menyehatkan dunia. ***

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software