Hara Mikro Amankan Panen

Filed in Inspirasi, Majalah by on 13/07/2019

Pemberian hara mikro pada kelapa sawit memengaruhi produksi.

 

Pemberian hara mikro meningkatkan produksi kelapa sawit.

Product Development Marketing PT Wilmar Chemical Indonesia, Ramdhani.

Daun kelapa sawit itu berkerut, pecah, dan berwarna gelap. Bentuk daunnya memendek, berbelit, dan permukaannya tipis. Jaringan muda yang tumbuh pun cacat. Itulah gejala tanaman kelapa sawit kekurangan unsur hara mikro boron. Menurut Product Development Marketing PT Wilmar Chemical Indonesia, Ramdhani, pekebun di lapangan kerap salah menduga antara kekurangan hara dan serangan penyakit.

Menurut Ramdhani ciri tanaman kekurangan hara mikro biasanya hanya beberapa pohon di satu hamparan. “Lazimnya hanya di spot tertentu,” kata Ramdhani. Adapun serangan penyakit biasanya menyerang banyak tanaman di satu hamparan. Gejala kekurangan hara mikro paling sering terjadi pada kelapa sawit biasanya kekurangan unsur boron. Ramdhani menuturkan, defisiensi hara banyak ditemui di area yang makin dekat dengan garis ekuator.

Hara mikro

Banyak kebun sawit yang ditanam di lahan gambut dan makin dekat dengan ekuator. Harap mafhum, kualitas tanah gambut rendah mineral sehingga tanaman berpotensi tinggi kekurangan unsur hara. Menurut Ramdhani penggunan pupuk mikro pada kelapa sawit relatif baru di tanah air. Perkebunan swasta lazim menggunakannya untuk menunjang hasil terbaik. Perusahaan itu rutin menguji tanah 2 kali per tahun, sehingga mengetahui kondisi tanah.

Artinya perusahaan itu mengantongi data unsur hara apa saja yang diperlukan. Setelah mengetahui kondisi tanah, kemudian menetukan pemupukan tepat. Adapun di perkebunan rakyat kerap abai. Oleh karena itu, produktivitas kebun rendah. Apalagi jika kebun berada di lahan gambut, maka potensi defisiensi hara tinggi. Imbas defisiensi hara berupa penurunan produksi.

Menurut Ramdhani pemberian unsur hara mikro seperti borat pun tidak semerta-merta mengatasi masalah itu. Tanaman tidak bisa menyembuhkan sendiri jaringan rusak. “Perbaikan baru pada pertumbuhan tunas berikutnya setelah aplikasi pupuk mikro. Pertumbuhan tanaman membaik diikuti pula dengan hasil panen,” kata Ramdhani. Alumnus jurusan Agronomi Universitas Padjadjaran itu menuturkan, kegunaan boron sebagai katalis bagi tanaman.

Ragam pupuk mikro untuk kelapa sawit. Dari sebelah kiri: seng, tembaga, dan borat berfungsi untuk mencegah defisiensi hara dan meningkatkan produksi.

Peran katalis menunjang penyerapan unsur hara lain bagi tanaman. Fungsi lain membantu pembentukan sel sehingga jaringan tanaman baik. (baca: Hara Mikro Harus Ada). Menurut ahli kelapa sawit di Jakarta, Dr. Ir. Witjaksana Darmosarkoro, setiap panen per tandan buah segar (TBS) kira-kira mengandung boron 15 ppm. Kalau produksi per tanaman 250 kg atau 30 ton per hektare per tahun, banyak sekali hara yang tidak kembali ke tanah.

Ada masa tanah tidak mampu mendukung kebutuhan hara sawit. Oleh karena itu, pemupukan mikro juga tidak kalah penting. Menurut Ramdhani semula pupuk mikro dipandang sebagai pupuk tersier. Namun, seiring dengan terus memacu produksi kebutuhan pupuk mikro berangsur-angsur menjadi sekunder. Hara mikro yang semula tersedia di tanah terkuras dan butuh asupan dari luar.

Tandan kosong

Setiap panen per tandan buah segar (TBS) kira-kira mengandung boron 15 ppm.

Pemberian hara mikro terutama ketika tanaman belum menghasilkan hingga tanaman menghasilkan. “Kebutuhan pupuk mikro sedikit, hanya sekitar 0,5—1% dari pupuk total tergantung umur tanaman. Namun, jika kekurangan berpengaruh pada hasil panen,” katanya. Menurut Witjaksana produksi berhubungan dengan kultur teknis antara lain input pupuk dan disiplin tenaga kerja.

Pemupukan yang efektif sesuai dosis, jenis, frekuensi, tergantung keadaan tempat. Doktor alumnus Lowa State University itu mengatakan, pekebun kelapa sawit juga perlu memperhatikan kandungan C-organik tanah. Dampak C-organik tanah kurang dari 1% berupa tandan kosong. C-organik merupakan hal vital untuk kesehatan tanah. Kondisi ideal kadar C-organik pada kisaran 4%.

Menurut praktikus nutrisi sawit di Jakarta, Herman Suriato, hasil panen sawit dipengaruhi oleh pemilihan lokasi kebun. Salah satunya kualitas tanah yang ditentukan humus. Tanah dengan kondisi humus ideal optimal pertukaran kationnya jika diberi pupuk. Indikator tanaman kelapa sawit sehat panjang akar bisa mencapai 90 cm. Menurut Herman di kebun produktivitas rendah lazimnya perakaran pendek. Akar panjang memudahkan mengambil air di dalam tanah ketika kemarau.Terpenuhinya hara mikro jaminan produksi kelapa sawit membubung. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software