Hanjeli Gempur Asam Urat

Filed in Laporan khusus by on 01/02/2013 0 Comments

Kadar asam urat Rianida Fatmawati membubung 13 mg/dl, kadar normal kurang dari 6 mg/dl.

Rianida Fatmawati-bukan nama sebenarnya-tak menyangka kadar asam urat di darahnya bisa mencapai 13 mg/dl. Ia teringat badannya lemas terserang panas dingin diikuti rasa nyeri di persendian kaki pada 2007. “Jari kaki kiri membengkak sehingga sulit berjalan. Kaki terasa kaku semua,” ujar perempuan 79 tahun itu. Kondisi itu menyebabkan Rianida hanya bisa terbaring di tempat tidur selama 3 hari.

 

Bila ingin bepergian perempuan yang berdomisili di Jakarta itu menggunakan kursi roda. Suatu ketika Rianida memutuskan menemui dokter dan menjalani beberapa tes. Hasil tes laboratorium menunjukkan kadar asam uratnya melebihi batas normal, mencapai 13 mg/dl. Adapun kadar asam urat normal pada perempuan 2,6-6 mg/dl dan 3,5-7 mg/dl untuk pria. Bila di atas kisaran tersebut tergolong hiperurisemia.

Purin

Asam urat merupakan hasil akhir dari metabolisme purin yang menumpuk di jaringan lunak di tubuh yang dapat menyebabkan radang sendi. Menurut dr Danarto SpB SpU, dari Pusat Pelayanan Urologi RS An-Nur Yogyakarta, bila fungsi ginjal kurang bagus, purin dapat mengendap di ginjal. “Endapan itu bisa menyebabkan gagal ginjal karena menghambat sekresi urine,” ujarnya.

Penderita asam urat didominasi kaum pria. Itu karena perempuan mempunyai hormon estrogen yang turut membantu pembuangan asam urat lewat urine. Untuk menurunkan kadar asam urat, dokter akan memberikan allupurinol. Di dalam tubuh, allupurinol dimetabolisme menjadi enzim penghambat oksidase yang menurunkan produksi asam urat.

Danarto mengatakan bahwa salah satu pemicu asam urat adalah seringnya mengonsumsi makanan tinggi purin seperti melinjo, jeroan, dan kacang-kacangan. Menurut dr Nyoman Kertia SpPD KR, spesialis penyakit dalam di subbagian reumatologi Rumahsakit dr Sardjito, Yogyakarta, penyebab asam urat sangat beragam. Selain faktor makanan, pemicu lainnya adalah keturunan, gangguan ginjal, dan kelebihan bobot badan.

Menurut Kertia bobot tubuh berlebih mempengaruhi kerja persendian yang menyebabkan gesekan antarsendi terjadi lebih banyak dan memicu asam urat. Dokter yang memeriksa Rianida memberikan obat penurun kadar asam urat. Rianida mengonsumsi 39 pil dalam sehari. Konsumsi pil itu memang mampu mengurangi nyeri sendi, tetapi nyeri itu bertambah ketika ia menghentikan konsumsi pil. Itu membuat Rianida yang bobot badannya turun hingga 10 kg bergantung kepada obat dokter.

Rianida cemas karena konsumsi beragam pil dalam jangka panjang akan mempengaruhi fungsi ginjal. Itulah sebabnya pada 2012 atau setelah lima tahun rutin mengonsumsi beragam pil penurun kadar asam urat, Rianida akhirnya memutuskan berhenti konsumsi obat dokter. Pada tahun yang sama seorang rekan menyarankannya untuk berobat pada herbalis di Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati.

Jali

Valentina lantas meresepkan jali Coix lacryma-jobi yang dikombinasikan dengan greges otot Equisetum debile, serai Cymbopogon citratus, lengkuas Alpinia galanga, dan daun sirsak Annona muricata. Rianida merebus semua ramuan dalam bentuk serbuk kering itu dalam 3 gelas air hingga mendidih, menyaring, lalu meminumnya sehari tiga kali. Valentina memakai serbuk kering yang direbus dengan air lantaran, “Zat aktif di masing-masing herbal bisa larut bersama dengan air, sehingga mudah diserap usus,” tutur Valentina.

Setelah 6 bulan rutin konsumsi, kondisi Rianida berangsur-angsur membaik. Nyeri di kaki mulai berkurang. “Alhamdulillah sekarang sudah membaik,” ucapnya bersyukur. Sayangnya, Rianida belum memeriksakan diri ke laboratorium untuk mengecek kadar asam urat. Baginya yang penting adalah merasa kondisinya membaik.

Valentina menduga jali berfungsi sebagai antitoksin yang mengurai zat gizi yang mengandung asam urat. Greges otot dan lengkuas sebagai antirheumatoid, serai menurunkan tekanan darah tinggi, sedangkan daun sirsak antiinfeksi.  Selain membantu menyembuhkan asam urat, Valentina memanfaatkan jali untuk mengatasi gangguan fungsi paru-paru, ginjal, dan limpa.

Jali sebagaimana riset Shiva Ram Bhandari dari Departemen Bioteknologi Medis, Soonchunhyang University, Asan, Korea Selatan, mengandung beragam senyawa aktif.

Beberapa senyawa aktif itu adalah γ-tocopherol 14,76 mg dan 14,18 mg/kg γ-tocotrienol. Kandungan fitosterol jali sebesar 80,43mg/kg campesterol; 131,1 mg/kg stigmasterol; dan 313,38 mg/kg β-sitosterol. Selain itu biji jali juga mengandung 46,3% asam lemak oleat  dan 37,4%. asam linoleat. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Andari Titisari)


Keterangan Foto :

  1. Jali dapat menurunkan kadar asam urat
  2. Valentina Indrajati meresepkan jali untuk mengatasi asam urat, gangguan fungsi paru, ginjal, dan limpa
  3. Konsumsi makanan mengandung purin tinggi picu munculnya asam urat
  4. Lengkuas sebagai herbal pendamping untuk mengatasi asam urat
 

Powered by WishList Member - Membership Software