Gurami: Banyumas di Atas

Filed in Ikan konsumsi by on 01/03/2010 0 Comments

Frekuensi pemijahan induk Osphronemus goramy sangat penting diketahui sebab terkait erat dengan ketersediaan benih. Hingga kini masih banyak peternak mengeluh sulit memperoleh benih. Pun bagi penyedia benih. Tengok saja dari pemijahan seekor betina paling pol diperoleh 3.000—5.000 telur. Dari jumlah itu pun hanya 40% yang menetas. Pantas dengan kondisi itu hingga saat ini belum pernah terjadi booming atau benih gurami melimpah.

Riset pemijahan induk itu dilaksanakan selama 9 bulan dari Februari—Oktober 2007 di Purwokerto. Dari setiap sentra diambil sampel masing-masing sebanyak 10 induk. Induk tidak sembarangan dipilih. Agar dapat dibandingkan dipakai jenis gurami abu-abu matang gonad berbobot 2—3 kg per ekor.

Benih

Selama percobaan, induk dari ketiga sentra itu diaklimatisasi selama 1 bulan sebelum kemudian dipindahkan ke kolam pemijahan berukuran 3 m x 3 m. Aklimatisasi penting terutama pada induk gurami dari Tasikmalaya dan Blitar yang mengalami perubahan kondisi lingkungan, terutama penyesuaian terhadap kualitas air ketimbang induk dari Banyumas. Waktu satu bulan dianggap cukup bagi gurami untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

Pada setiap petak kolam kemudian dibenamkan sepasang induk gurami. Total ada 15 kolam percobaan yang dilengkapi songgo (bambu yang ujungnya berbentuk setengah kerucut sebagai tempat gurami meletakkan sarang, red) dan sabut kelapa sebagai tempat betina meletakkan telur. Selama pemeliharaan gurami diberi pakan pelet plus hijauan seperti daun sente dan kecambah kacang hijau. Kecambah diberikan karena banyak mengandung vitamin E yang penting dalam proses pembentukan telur.

Bagaimana hasilnya? Selama 9 bulan penelitian itu diperoleh frekuensi pemijahan gurami dari Banyumas mencapai 1—6 kali; gurami tasikmalaya 1—4 kali; dan gurami blitar sebanyak 1—2 kali. Selang waktu antarpemijahan bervariasi sekitar 13—54 hari. Dari masing-masing induk yang dipakai, induk dari Banyumas 8 ekor di antaranya memijah. Gurami dari Tasikmalaya dan Blitar yang memijah masing-masing 3 dan 2 ekor.

Selama riset, bulan-bulan paling banyak gurami memijah adalah Maret—April dan Agustus—Oktober. Pada periode Mei—Juli induk memijah 1—2 kali. Hal ini terjadi karena suhu pada bulan itu cenderung rendah, sekitar 25—26oC. Meski gurami mampu hidup pada kisaran suhu 24—30oC, tetapi pada temperatur rendah, frekuensi pemijahan menurun. Idealnya suhu pemijahan mendekati suhu penetasan sekitar 28—30oC.

Selain suhu, musim hujan juga mempengaruhi pemijahan gurami. Saat itu mayoritas gurami di kolam percobaan cenderung menunda pemijahan. Sebab, saat hujan telur gurami banyak yang busuk. Sehingga jika gurami sedang membuat sarang dan tiba-tiba turun hujan, ikan labirin itu akan berhenti dan melanjutkan pembuatan sarang saat cuaca cerah.

Penetasan

Selain frekuensi pemijahan tinggi, pada penelitian ini juga dicari induk gurami yang memiliki fekunditas atau jumlah telur banyak. Pun tingkat fertilitas dan penetasan telur yang bagus. Gurami blitar rata-rata menghasilkan 3.855 telur per induk. Gurami tasikmalaya 3.620 telur per induk dan gurami banyumas sekitar 3.005 telur.

Hasil di atas jika dirunut berhubungan erat dengan frekuensi pemijahan. Semakin sering induk memijah, produksi telur otomatis lebih sedikit. Sebaliknya bila jarang memijah, produksi telur jumlahnya lebih banyak. Hal lain yang tampak, jumlah telur sangat bergantung pada umur, panjang tubuh, dan bobot induk. Pada umur produktif sekitar 2—3 tahun, gurami dapat menghasilkan lebih banyak telur. Gurami bisa berproduksi hingga umur 7—9 tahun. Pun saat bobot dan panjang tubuh gurami lebih besar, produksi telur melimpah.

Dari sisi fertilitas atau pembuahan, induk dari ketiga daerah itu memiliki tingkat pembuahan relatif sama. Telur dibuahi berwarna kuning cerah. Fertilitas lazimnya tinggi jika induk sudah pernah memijah dan nutrisi yang diterima induk bagus. Gurami banyumas memiliki fertilitas sebesar 99,34%; gurami blitar 98,93%; dan gurami tasikmalaya 97,803%. Persentase telur menetas dari para induk itu juga relatif seragam. Persentasenya berturut-turut untuk induk gurami banyumas, blitar, dan tasikmalaya adalah 97,38%, 98,52%, dan 96,69%. (Gratiana E Wijayanti PhD, Drs Soeminto SU & Sorta B I Simanjuntak MSi, Dosen Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto)

Keterangan Foto

  1. Gurami banyumas produktivitas paling tinggi selama penelitian di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
  2. Songgo berisi media sarang digunakan untuk tempat meletakkan telur induk gurami
  3. Kolam pemeliharaan induk gurami di peternak
  4. Searah jarum jam: perkembangan telur gurami menjadi larva. Dari sekitar 3.000—5.000 telur yang dihasilkan
  5. betina gurami, hanya sekitar 40% yang menetas menjadi larva
  6. Benih gurami masih sulit diperoleh peternak
 

Powered by WishList Member - Membership Software