Gula Nontebu Merintis Pasar

Filed in Majalah, Perkebunan by on 10/02/2017

Potensi bahan baku gula selain tebu berlimpah. Kalau tergarap serius, tidak perlu mengimpor gula.

Gula.

Gula.

Jarum jam menunjukkan pukul 21.00 ketika Ade Fia mengempaskan tubuhnya di sofa depan televisi. Kegiatan hariannya terbagi 2 antara pekerjaan kantor dan mengurus kedua anaknya. Sepulang bekerja, ia segera menyuapi, menyusui, lalu meninabobokan keduanya. Segelas teh hangat tiba-tiba melintas dalam benak perempuan 35 tahun itu. Ia bangkit dan menuju dapur lalu merebus air sembari mengisikan teh ke dalam cangkir.

Setelah mendidih, air panas itu ia tuangkan ke dalam cangkir teh. Sambil menunggu, Ade menuangkan 2 sendok makan gula cair ke dalam gelas terpisah. Gula cair yang ia konsumsi itu bukan berasal dari tebu, melainkan gula singkong. Ia mengonsumsi gula singkong setahun terakhir lantaran memiliki riwayat diabetes mellitus dari ayahnya.

Indeks rendah
Meski berbahan singkong, Ade tidak merasakan perbedaan rasa gula cair yang ia konsumsi dengan gula pasir. “Justru gula singkong itu lebih enak, tidak ada rasa masam di rongga mulut seperti yang kerap terasa setelah minum teh dengan gula pasir,” kata bungsu dua bersaudara itu.

Selain untuk minuman, pehobi kucing itu juga menambahkan gula singkong ketika membuat kue basah atau makanan tradisional. Gula cair produksi CV Inovasindo Berkah Mandiri (IBM) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, itu seluruhnya berbahan singkong. Pendiri dan direktur IBM, Dian Purwaningtyas, mengandalkan tapioka dari produsen lokal di Lampung. Gula cair produksinya mengandung 55% fruktosa dan 45% glukosa.

Melalui promosi di dunia maya, produk alumnus Jurusan Biologi Universitas Brawijaya itu memikat konsumen dari seluruh tanahair. Melalui dunia maya pula Dian mendapatkan agen yang memasarkan produknya. “Hampir semua agen mulanya adalah konsumen yang merasakan manfaat konsumsi gula singkong,” ungkap perempuan berusia 36 tahun itu. Menurut Dian gula singkong mempunyai indeks glisemik 55.

Singkong menyimpan potensi sebagai sumber gula sehat.

Singkong menyimpan potensi sebagai sumber gula sehat.

Itu lebih rendah daripada gula pasir yang mencapai 68. Indeks glikemik  angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan atau tingkatan pangan menurut efeknya terhadap kadar glukosa darah. Kelebihan itu membuat penderita diabetes menggemari gula singkong karena tidak memicu lonjakan gula darah. Kebanyakan konsumen Dian memang mempunyai riwayat penyakit gula, baik langsung maupun keturunan.

Dian membuat gula cair singkong sejak 2015. Produk itu terbilang “berkah di balik musibah” lantaran bermula dari gulung tikarnya usaha kuliner yang ia rintis. Saat itu, sajian di tempat Dian menggunakan gula singkong yang ia beli dari seorang rekan sehingga ia mempromosikannya sebagai kuliner sehat. Ternyata kebanyakan konsumen datang lantaran tertarik mencicipi kuliner sehat ala Dian.

Begitu usaha kuliner itu surut, istri Iin Budianto itu memutar otak mencari peluang bisnis potensial. Benaknya langsung terpikir pada gula singkong. “Nilai kalori gula singkong lebih rendah ketimbang gula tebu sehingga tidak memicu kenaikan kadar gula darah pada penderita diabetes,” ungkap Dian. Sudah begitu, pembuatan gula singkong tidak memerlukan bahan tambahan apa pun. Sejatinya, di tanahair banyak produsen gula cair singkong.

Bikin sendiri
Para produsen gula singkong itu tidak melayani penjualan eceran dan hanya melayani pesanan dari kalangan industri. Itulah sebabnya Dian mempelajari peluang pasar, ketersediaan pasokan, dan proses produksi gula berbasis pati umbi singkong Manihot esculenta itu. Pada 2015 Dian bangkit dari kebangkrutan lalu mulai memproduksi gula cair singkong. Ia menjajakan produk buatannya melalui toko daring (online).

Akhir tahun sama ia mendaftarkan merek dagang Gulakong untuk gula singkong buatannya ke Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Kehakiman. Tahun berikutnya, ia membuka keagenan sehingga agen Gulakong kini ada di 32 kota di Jawa dan 5 kota luar Jawa. Setiap bulan Dian mendapat kiriman 3—4 ton tapioka bahan baku gula. Ia mengolahnya menjadi 3—4 ton gula cair.

Potensi sagu belum tergarap optimal.

Potensi sagu belum tergarap optimal.

“Jumlah agen terus bertambah sehingga produksi juga semakin meningkat,” tutur Dian. Dian Purwaningtyas hanya memanfaatkan tapioka asal singkong varietas gajah hasil pemuliaan Prof Ristono dari Samarinda, Kalimantan Timur, pada 2013. Menurut Dian singkong gajah menghasilkan tapioka dengan kadar fruktosa dan glukosa sesuai spesifikasi yang ia inginkan. Untuk menjaga keajekan pasokan, ia membuat perjanjian kerja sama dengan produsen tapioka berbasis singkong gajah di Provinsi Lampung.

“Saya memilih produsen itu karena memiliki sertifikat keamanan pangan dari 2 lembaga kelas dunia, yaitu ISO dan FSSC,” tutur Dian. Demi menjamin kualitas produk, ia meminta produsen tapioka melakukan pengujian laboratorium setiap kali mengirim dan melampirkan hasilnya bersama pengiriman tapioka. Prosedur itu ia lakukan sampai sekarang lantaran “Konsumen menginginkan kesehatan sehingga saya tidak berani main-main,” ungkap Dian.

Sementara produksi gula cair ia lakukan secara sulih pabrik (maclone, manufacture cloning, red) di salah satu fasilitas pabrik gula cair di Jawa Tengah. Dian menyatakan bahwa produksi singkong tanahair sangat tinggi sehingga peluang gula cair singkong terbuka lebar. Selain singkong, bahan baku gula potensial yang belum tersentuh antara lain sagu dan sorgum. Menurut guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Moch Hasjim Bintoro, potensi sagu 523.000 ton per tahun.

Jika menggunakan teknologi serupa pembuatan gula singkong untuk membuat gula sagu, yang rendemennya minimal 85%, potensi sagu itu setara 444.500 ton gula cair. Sayang, potensi itu belum tergarap optimal. “Pohon sagu siap panen kerap dibiarkan membusuk karena tidak ada yang memanen,” kata pengurus inti Masyarakat Sagu Indonesia (MASSI) itu. Hal itu paling banyak terjadi di Papua, yang merupakan sentra penanaman sagu di Indonesia timur.

Ia menduga potensi sagu yang terolah baru dua per tiga potensi total. Sementara sorgum yang kini mulai ditanam meluas di lahan marginal dengan curah hujan rendah (kurang dari 1.000 mm per tahun) juga menyimpan potensi besar. Produsen gula cair di Jombang, Jawa Timur, Rahardi, mengolah batang tanaman Sorghum bicolor itu menjadi gula cair (baca Sorgum Sumber Gula halaman 124—125).

Sejatinya, kandungan gula dalam singkong, sagu, maupun sorgum bisa diolah menjadi gula pasir. Masih di Jombang, Slamet Sulaiman menggunakan teknik pemanasan suhu rendah dalam kondisi vakum dan sentrifusa panas untuk memperoleh gula pasir dari nira kelapa (baca Gula Pasir Asal Kelapa halaman 126—127). Berbagai potensi itu, seandainya tergarap, tentu dapat menutup kebutuhan gula pasir nasional, yang pada 2015 silam mencapai 5,68-juta ton.

Produksi gula tanahair yang tidak genap 3-juta ton tidak mampu menutup kebutuhan itu sehingga tahun itu mengalir gula impor 2,9-juta ton. Mengoptimalkan potensi sagu saja bisa memangkas satu per enam angka itu. Apalagi kalau semua potensi bahan gula tergarap, Indonesia bisa terbebas dari belenggu gula impor. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software