Gede Pilih Organik

Filed in Sayuran by on 05/12/2010 0 Comments

Pilihan Gede menjadi pekebun organik memicu kontroversi dari pekebun lainnya. Maklum saat itu mayoritas pekebun di Kabupaten Tabanan masih getol memakai pupuk dan pestisida kimia. Gede yang baru berusia 25 tahun masih dipandang sebelah mata.

Kabupaten berjarak 26 km dari kota Denpasar itu masih didominasi sawah seluas 22.252 ha dari total lahan 83.399 ha. Namun, pilihan Gede berkebun organik di sana bukan tanpa alasan. ‘Selain tubuh sehat, berkebun secara organik juga menyehatkan tanah dan tidak mencemari lingkungan,’ ujar pemilik Bali Rungu (rungu = peduli, red) itu.

Gede memilih beragam jenis tanaman untuk dibudidayakan sesuai permintaan pasar. Sayuran yang ditanam, misalnya, mayoritas untuk bahan salad seperti wortel, selada korina, dan seledri. Yang lain tomat cherry, lobak, cabai, dan brokoli. Buah-buahan yang ditanam antara lain stroberi, mulberi, nanas, dan pepaya.

Beragam jenis

Tak sulit menjumpai kebun milik Gede. Lokasi kebun itu berjarak 5 m dari jalan utama Dusun Mayungan yang beraspal. Saat pintu gerbang kayu terbuka tampak 6 guludan selada korina – berwarna hijau dan merah – di bawah sungkup plastik putih. Sebagian jejeran itu tampak kosong karena tanaman baru saja dipanen. Di samping selada terdapat jejeran tomat cherry yang juga selesai dipanen. Saat Trubus berkunjung di pengujung September 2010 masih tersisa beberapa buah tomat berwarna jingga yang berasa manis.

Tak jauh dari lokasi tomat terdapat hamparan brokoli. Di sana tampak 2 pekerja tengah asyik memanen lobak dan brokoli. Saat itu yang dipanen sekitar 2 kuintal. Gede menanam 2 jenis seledri: berdaun besar dan kecil. Kedua jenis seledri yang ditanam di bawah sungkup plastik putih itu siap dipanen. Begitu pula cabai merah besar.

Uniknya, sekitar 6 pohon mulberi ditanam sebagai tanaman pagar. ‘Itu karena akar mulberi dapat menyimpan air,’ kata Gede. Dari semua jenis yang ada, kehadiran casa banana Sicana odorifera paling menarik perhatian. Harap mafhum, sosok keluarga Cucurbitaceae berkulit tebal itu mirip pepaya: panjang dan lonjong. Meski kulit buah berwarna merah, tapi belum menandakan matang. ‘Saat matang rasanya manis seperti pepaya,’ tambah suami dari Darsi Sawnick itu.

Semua sayuran dan buah yang diproduksi itu langsung terserap pasar. Maklum, pasar organik di Bali terbuka lebar. Bahkan ada jadwal khusus untuk penjualan produk-produk organik. Pasar organik Arma di Ubud, misalnya, menyuguhkan sayuran organik setiap Rabu pukul 9.30 – 14.30 WITA. Sedangkan di Pizza Bagus di Pengosekan Ubud Setiap Sabtu. Gede juga melayani jasa pesan antar untuk para ekspatriat.

Tanam rapat

Sebelum terjun ke lapangan Gede membekali diri dengan menimba ilmu selama sebulan di Greenhands Field School di Nanggroe Aceh Darussalam. Di sana ia belajar beragam teknik budidaya organik. Salah satunya menggunakan jerami sebagai pengganti mulsa. Berdasarkan pengamatan Gede jerami lebih baik karena mampu menyerap air lebih banyak.

Penanaman pun dibuat rapat. Alasannya sederhana, dengan rapat populasi tanaman banyak. Dari sekian banyak tanaman pasti ada yang kuat dan ada yang lemah. Tanaman lemah jadi sasaran hama dan penyakit, sedangkan yang sehat tetap tumbuh dan dapat dipanen. Ia memanfaatkan gulma untuk diolah menjadi kompos atau langsung dibenamkan ke tanah. Untuk menyuburkan tanah Gede menanam kacang kedelai, yang mampu menjerat nitrogen di udara. Nitrogen berfungsi mempercepat pertumbuhan, memperbanyak biji dan buah, serta memperbaiki kualitas daun dan akar.

Benih sayuran dan buah masih didatangkan dari berbagai negara seperti Amerika, Australia, dan Slovenia, Rusia. Sebelum ditanam, benih disemai. Setelah muncul 3 – 4 daun, siap ditanam di lahan.

Meski lokasi kebun Gede berada di ketinggian 1.400 m dpl, tapi kebun itu mudah mendapat air. Gede memperoleh air dari sungai yang terletak persis di salah satu sisi kebun. Sungai itu berada 15 m di bawah areal penanaman. Untuk menaikkan air ke atas Gede memasang mesin penyedot air.

Pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida dan insektisida organik. Ia meramu insektisida alami dari daun tanaman-tanaman asli Bali yang tumbuh di sekitar kebun. Selain itu dilakukan juga pengendalian secara manual. ‘Hama ulat dikendalikan dengan cara diambil satu per satu,’ kata Gede.

Banjir

Berdasarkan pengalaman Gede, budidaya organik bukan tanpa kendala. Perubahan iklim tak menentu akibat pemanasan global menjadi kendala utama. Akibatnya musim hujan semakin panjang. ‘Sampai 15 bulan dalam 2 tahun terakhir,’ ucap Gede. Salah satu dampaknya, jerami di bedeng penyemaian mudah tercecer sehingga tidak dapat menyangga bibit dengan kuat. Akhirnya bibit mati. Kendala lain hujan besar, yang menyebabkan areal kebun kebanjiran dan tanaman gagal panen seperti yang dialami Gede pada 2006.

Namun aral itu tak membuat Gede patah arang. Sebab ia termotivasi, ‘Pasar organik di Bali begitu besar,’ ujarnya. Kebunnya sendiri baru bisa memenuhi 40% dari total permintaan. Apalagi harga produk organik pun relatif stabil. Untuk selada, misalnya, dibanderol Rp20.000/kg; seledri Rp25.000 per kg, dan lobak Rp10.000/kg.

Kini Gede bercita-cita memperluas lahan untuk meningkatkan produksi. Tak hanya itu, ia ingin membuat restoran organik. Dengan begitu, ‘Barang yang diproduksi dapat dimanfaatkan sendiri,’ kata Gede yang masuk dalam jajaran 6 besar pembudidaya organik di Bali oleh majalah The Yak pada Maret 2010. Tak salah memang bila Gede memilih berkebun organik. (Lastioro Anmi Tambunan)

Rumah plastik selada korina

Casa banana, buah eksotik dari Amerika Latin, rasanya mirip pepaya (kiri), Gede menanam 54 sayuran organik (kanan)

Lobak untuk penuhi permintaan pasar ekspatriat Tomat cherry, manis dan juicy

Foto-foto: Lastioro Anmi Tambunan

 

Powered by WishList Member - Membership Software