Gebyar Madu

Filed in seputar agribisnis by on 31/07/2011

Konsumsi madu bangsa Indonesia tergolong paling rendah di dunia.  Menteri Zulkifli mengatakan anak-anak kita paling hanya meneguk 10—15 gram alias satu sendok madu per kapita per tahun.  Padahal, konsumsi madu per kapita di Jepang dan di Australia 1.600 gram per tahun.  Seratus kali lebih banyak daripada yang dinikmati orang Indonesia.

Budaya madu

Banyak madu yang masih mendapat label madu hutan.  Ada madu dari Baduy, madu Sumbawa, dan berbagai etnis di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi.  Di meja makan saya juga ada madu flores, kiriman teman-teman dari Dusun Waerebo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Dusun Waerebo terletak 1.200 meter di atas Laut Sawu. Kalau kita berjalan kaki dari dusun terakhir, paling cepat perlu waktu 4 jam, menanjak jalan setapak.

Di atas gunung-gunung itu banyak kebun kopi.  Jadi madu yang dikirim untuk saya adalah madu bunga kopi. Rasanya mantap, pekat, dan enak di mulut. Tentu saja, madunya alami.  Bukan diolah dengan cara modern. Maka masih terasa juga sedikit lilin dan aroma rumah tawon hutan yang memproduksinya. Kemasannya juga sederhana, memakai botol bekas air mineral 600 ml. Botol-botol macam itulah yang silih berganti menghuni dapur istri saya.

Terkadang madu arab, madu kalimantan, madu bunga randu dari Jawa Timur, madu bunga sengon dari Sumatera Utara, madu inggris, madu taiwan, dan seterusnya. Jadi dia selalu siap dengan madu, meskipun jangan harap akan pernah dimadu sepanjang hidupnya! Mengapa kita perlu senantiasa sedia madu? Minimal ada 19 manfaat madu untuk kesehatan kita.  Yang paling utama, mengurangi kemungkinan serangan jantung. Itu bagi saya.  Bagi perempuan?  Madu sarana mempercantik kulit, sejak zaman Ratu Cleopatra.

Beribu tahun sebelum Masehi, orang-orang Mesir kuno sangat rajin mengonsumsi madu. Kelihatannya memang ada korelasi antara konsumsi madu dan peradaban setiap bangsa.  Saya mulai suka madu, ketika bekerja di BBC London, Inggris 1988—1991. Setiap pagi, di meja makan selalu tersedia madu bermacam kemasan.  Ada dalam saset kecil, dalam kotak plastik, dalam botol gelas, bermacam-macam.  Orang Inggris percaya setiap pagi mereka sebangsa dan setanahair bersama raja dan ratu mereka minum susu dan madu bersama-sama.

Inggris termasuk bangsa dengan konsumsi madu paling tinggi per kapita.  Konsekuensinya, Inggris juga menjadi contoh dalam peternakan lebah dunia.  Dalam acara pameran madu lebah itulah, saya sempat bertemu mendiang Putri Diana. Waktu itu, ibunda Pangeran William ini mengunjungi paviliun British Beekeepers Association (BBA). Jangan heran, peternak lebah di Inggris terdiri dari bermacam lapisan masyarakat.

Mencegah penuaan

Bukan hanya petani, peladang, pekebun, dan peternak, tapi juga guru sekolah, sopir bus, bahkan bankir memelihara lebah madu di loteng rumahnya. Mohon diingat itu berarti, setiap pencinta lebah, otomatis harus menjadi pencinta bunga.  Tanpa ada banyak kembang di seputar rumah kita, mustahil kita memanen madu secara rutin. Almarhum kakek saya, menyiasati hal itu dengan menaruh rumah tawon di pohon nangka. Harap maklum, nangka berbuah dan berbunga sepanjang tahun.

Di seputar pohon nangka itu kami menanam prabu-kenya, rambatan yang bisa disayur, pohon turi, dan bunga susan. Kakek saya—Mbah Warisa—bukan orang Inggris, tapi juga rajin sebagai petani bunga di Kota Batu,  Jawa Timur. Budaya madu sepertinya memang menjadi bagian hidup para naturalis, pencinta lingkungan.  Termasuk dulu, para nabi yang hidup sederhana di padang gurun.

Madu sudah dipakai menjadi bahan pemanis jauh-jauh hari sebelum gula curah ditemukan dan tebu mulai dikebunkan.  Madu dipakai untuk pemanis roti dan sereal.  Di Inggris, setiap nyawa lebah pun diperhitungkan. Jangan heran kalau dalam persidangan ada beberapa lebah mati dijadikan bukti untuk menggugat pemakaian pestisida. Sudah jelas bahwa musuh utama peternak lebah adalah penggemar insektisida dan pestisida kimia. Semakin hati-hati kita menggunakan racun, semakin sejahtera para tawon dan manusia. Benarkah populasi lebah madu sekitar 7 kali jumlah manusia, atau sekitar 49-miliar tawon?  Mungkin lebih!  Atau mungkin semakin berkurang?  Yang jelas jumlah peternak lebah cenderung menurun meski produksinya terus meningkat.

Produksi harus meningkat terus karena jumlah manusia juga terus bertambah dan kebutuhan akan madu tak boleh berkurang. Mengapa? Karena dengan madu, umur manusia mungkin dapat diperpanjang. Percobaan khasiat madu dapat dilihat pada tikus.  Dengan diberi madu, rasa cemas bisa diturunkan.

Tikus yang tidak minum madu tercatat lebih buru-buru, hidupnya lebih tegang dan umurnya lebih pendek. Sedangkan tikus yang diberi madu, ternyata lebih tenang, berani meluangkan waktu lebih lama untuk mengamati dan mempelajari liku-liku sarangnya.  Penelitian di Selandia Baru itu menunjukkan,  madu membuat memori tikus lebih kuat.  Harapan kita, madu dapat mencegah kepikunan dan penuaan pada manusia.

Multikhasiat

Bapak ilmu kedokteran, Ibnu Sina, pada abad ke-10 menulis berbagai khasiat madu, terutama terkait dengan kesehatan jantung.  Pada zaman kita sekarang, bermacam khasiat madu semakin terperinci.  Misalnya madu bunga durian bagus untuk fungsi otak dan mengatasi insomnia, madu bunga karet mencegah hepatitis dan mempertahankan vitalitas lelaki.  Madu kaliandra membantu perawatan kanker,  madu bunga mahoni menyembuhkan asam urat, madu bunga lengkeng untuk mengatasi sakit pinggang, dan seterusnya.

Yang paling sederhana adalah madu bunga randu untuk memperbaiki fungsi lever dan mencegah bau mulut.  Kalau Anda menyeduh satu sendok madu bunga randu Ceiba pentandra dalam satu cangkir air hangat, dijamin napas Anda segar sepanjang hari. Berapakah harga sebotol madu? Harga madu tradisional bervariasi antara Rp50.000—Rp75.000 per botol.

Amerika Serikat sebagai pengimpor madu terbesar di dunia menghargai sekantong madu cengkih organik US$7 untuk kemasan 13 ons.  Sedangkan di Inggris, sebotol ukuran 340 gram madu berkisar antara 2 hingga 3 poundsterling. Pada masa kecil, saya mendapat madu gratis langsung dari Tuhan, di atas pohon nangka.  Kakek membakar merang untuk memanen sarang lebah menjelang bulan purnama. Ia tidak memakai jarring penutup wajah sebagai pengaman.  Cukup membaca mantera supaya lebah-lebah tidak menyengat.

Tahukah Anda bagaimana mantera supaya tidak disengat tawon?  Bacalah secara terbalik 20 alfabet Jawa, hanacaraka  dari belakang. Dengan cara sederhana seperti itu, tentu kita tidak pernah menjadi eksportir madu.  Namun, jangan kecil hati, bahkan negara-negara yang paling maju, mengutamakan produksi madu alamnya untuk konsumsi putra-putrinya sendiri.  Jepang, Swedia, dan Negeri Belanda tetap mengimpor madu, meski produksinya terhitung besar dan berkualitas prima.

Meningkatkan konsumsi madu tentu bukan tugas Kementerian Kehutananan.  Ada 100- juta orangtua Indonesia yang perlu dibantu, supaya 140-juta putra-putri Indonesia menyukai madu.  Bukan hanya untuk kesehatan, tetapi juga untuk kecerdasan dan umur panjang.  Bukankah dari dulu kita diajar rajin bekerja dan murah hati seperti lebah?  Itulah esensi dari Gebyar Madu dan hikmah terpenting dari Pekan Madu Nasional. Sudah merdeka 66 tahun, konsumsi madu baru  satu sendok per kapita. Apa kata dunia? Merdeka!***

Eka Budianta, budayawan, pengurus Tirto Utomo Foundation dan konsultan Jababeka Botanic Gardens, kolumnis Trubus.

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software