Gampang Karena Gamping

Filed in Tak Berkategori by on 01/06/2012 0 Comments

Herdi Waluyo memanfaatkan gamping untuk mempersingkat waktu penyulingan hanya 6 jam; semula 12 jam.

 

Biasanya Herdi Waluyo memerlukan 12 jam untuk menyuling nilam hasil fermentasi. Lama penyulingan mempengaruhi biaya produksi. Itulah sebabnya ia kembali berinovasi dengan menambahkan 1% batu gamping. Jika ia menyuling 500 liter larutan fermentasi daun nilam, maka alumnus Sekolah Teknik Elektronika dan Informatika Institut Teknologi Bandung itu menambahkan 5 kg serbuk batu gamping. Ia mengaduk campuran itu hingga merata.

Ia menambahkan batu kalsium karbonat itu usai fermentasi. “Molekul air akan terserap gamping sehingga mempermudah pemisahan minyak,” kata Herdi. Musababnya, rapat massa minyak nilam dan air nyaris sama, yakni minyak nilam 0,985 g/ml, air 1 g/ml. Penambahan gamping memperbesar rapat massa air hingga lebih dari 1 g/ml. Dengan bantuan gravitasi, air dan serbuk gamping turun, sedangkan air tercampur minyak yang lebih ringan terdorong naik.

Itulah sebabnya, sejam kemudian terbentuk tiga bagian larutan, yakni minyak nilam bercampur air di atas; di tengah, air; paling bawah, serbuk gamping. Herdi hanya mengambil lapisan paling atas- volumenya 75 liter-untuk disuling. Artinya ia hanya menyuling 75 liter larutan yang mengandung minyak nilam dan sedikit air. Jadi bukan 500 liter seperti biasanya. Wajar jika durasinya pun lebih singkat.

Murah

Selain mengubah kerapatan massa air, gamping mampu mengikat partikel-partikel pengotor dan mengendapkannya di dasar wadah. Kelebihan lain, gamping bersifat polar sehingga tidak mengikat minyak nilam yang nonpolar. Pemisahan pada akhir proses pun mudah lantaran mengendap di dasar. Sudah begitu, harga gamping sangat murah-kurang dari Rp1.000 per kg-dan mudah diperoleh. Di bagian sisi wadah, kira-kira seperempat bagian dari dasar dan atas, terdapat masing-masing sebuah keran untuk mengeluarkan cairan.

Agar terbentuk tiga lapisan itu, terlebih dulu Herdi memanaskannya pada suhu 1000C sampai nyaris mendidih-sekitar 3 jam. Pemanasan pascafermentasi berguna untuk mengelompokkan partikel minyak yang semula tersebar dalam air. Akibat perbedaan titik didih dalam pemanasan, minyak dan air saling mengelompok berdasarkan prinsip kohesi alias sifat saling menarik antarmolekul sejenis. “Selama masih terikat air, minyak nilam tidak mudah menguap meskipun dipanaskan,” kata master dari University of Brooklyn, Amerika Serikat, itu. Tanpa pemanasan, tidak akan muncul batas tegas antarlapisan.

Sebelum tahap fermentasi pun ada perubahan, dengan pemanasan prafermentasi. Usai mencacah daun kering, alumnus Desain Elektronika Philips International Institute, Eindhoven, Belanda, itu memasukkan rajangan daun ke dalam air hingga seluruhnya tercelup, lalu memanaskan pada suhu 450C selama 15-20 menit. Tujuannya melunakkan jaringan spons alias bunga karang yang menjadi “persembunyian” minyak.

Bagian tengah daun alias mesofil terdiri dari 2 jaringan sel, yaitu jaringan palisade alias pagar dan jaringan spons alias bunga karang. Susunan sel jaringan palisade rapat seperti pagar. Adapun susunan sel jaringan spons longgar dan banyak menyisakan rongga. Dalam rongga-rongga itulah minyak nilam tersimpan. Masalahnya, sel jaringan spons tersusun tegak lurus permukaan daun.

Menurut Herdi, “Kalau bisa mencacah daun secara mendatar, rendemen pasti tinggi.” Toh, itu nyaris mustahil sehingga pria 57 tahun itu menggunakan cara lain, yaitu melunakkan daun dengan pemanasan. Harapannya rongga sel spons mengembang terisi air dan “menggusur” minyak nilam yang tersembunyi.

Efisien

Akhir keseluruhan proses itu tentu saja efisiensi biaya, tenaga, dan waktu. Tanpa pemanasan prafermentasi dan pelevelan, Herdi mesti menyuling sampai 500-600 l air hasil fermentasi. Maklum, untuk memfermentasi 100 kg daun, ia menambahkan 400-500 liter air.

Untuk menyuling 500 liter cairan, pria kelahiran Provinsi Kepulauan Riau itu memerlukan waktu 48-60 jam dan menghabiskan hingga 8 tabung gas Elpiji ukuran 12 kg. Kini, keseluruhan proses itu paling banter cuma memerlukan gas sebanyak 2 tabung. Biaya pun terpangkas hingga kurang dari Rp100.000 per kg minyak nilam dengan rendemen 10-15%. Bandingkan dengan kebanyakan penyuling lain, yang biayanya mencapai Rp400.000 per kg minyak dengan rendemen maksimal hanya 2%.

Ahli minyak asiri dari Institut Pertanian Bogor, Dr Dwi Setyaningsih, meragukan pencapaian Herdi Waluyo. Menurutnya, pada suhu ruangan saja minyak nilam sangat mudah menguap, “Apalagi dipanaskan berkali-kali seperti itu.” Ia sangsi masih ada minyak yang tersisa usai penyulingan. Menurut ahli minyak asiri Ernest Gunther, potensi kandungan minyak dalam daun mencapai 50%.

Menurut Sugono, pengusaha minyak asiri di Bogor, Jawa Barat, efisiensi biaya kunci keberhasilan pengusaha minyak nilam. Pasalnya, minyak nilam tergolong minyak asiri yang elastisitas harganya tinggi. “Harga pasaran minyak nilam bisa mendadak berubah jauh,” kata Sugono. Itulah sebabnya Herdi Waluyo tetap memutar otak agar pengolahan minyak nilam semakin efisien dan menghasilkan minyak berkualitas. Temuan terbaru dengan memanfaatkan gamping sehingga proses penyulingan pun jadi gampang. (Argohartono Arie Raharjo)

Keterangan Foto :

  1. Batu gamping berperan menyerap molekul air
  2. Minyak nilam tergolong minyak yang harganya elastis

 

Murah dan Irit


  1. Layukan daun nilam selama 2-3 hari secara kering angin.
  2. Cacah dengan mesin chopper.
  3. Rendam dan panaskan pada 450C selama 15-20 menit. (Pemanasan prafermentasi)
  4. Masukkan dalam fermentor, tambahkan air 4-5 kali bobot biomassa dan kapang 10%. Fermentasi selama 12 jam dengan pengadukan pada 80 rpm (rotation per minute).
  5. Saring air hasil fermentasi, peras biomassa, lalu campurkan kedua cairan itu.
  6. Masukkan kembali ke tabung fermentor, panaskan sambil tetap mengaduk. (Pemanasan pascafermentasi).
  7. Saat muncul gelembung tanda mulai mendidih, matikan api sambil tetap mengaduk.
  8. Setelah dingin, pindahkan ke dalam drum-drum transparan dengan keran di sisi. Tambahkan gamping 1% volume cairan, tunggu sampai terbentuk 3 lapisan dengan batas tegas.
  9. Keluarkan lapisan teratas melalui keran.
  10. Suling sampai yang keluar air saja.
 

Powered by WishList Member - Membership Software