Gambir Mungka Mendunia

Filed in Perkebunan by on 05/12/2010 0 Comments

 

Jefri Manto mencetak gambir hasil olahan daun pada September 2010Di setiap sudut kebun gambir terdapat gubuk tempat mengolah daun basah menjadi gambir kering siap jualPada bulan-bulan itu ladang gambir memanggil para kepala keluarga agar bergegas datang untuk menuai daun-daun yang melonjong dengan pangkal membulat. Hepni pun meninggalkan rumah, berpisah dengan keluarga, dan menetap di sebuah gubuk sederhana berlantai dua di sudut ladang. Di lantai bawah ia mengolah daun; lantai atas, tempat beristirahat. Jarak gubuk dengan rumah 10 km.

Di rumah berukuran 3 m x 3 m itulah mereka mengolah daun tanaman kerabat kopi. Selain September, musim mengolah daun gambir jatuh pada Maret. Dalam setahun, Hepni 2 kali panen komoditas perkebunan bernama ilmiah Uncaria gambir itu. Hepni yang mengelola lahan 1,5 ha, menuai 3 – 4 ton daun dan ranting gambir sekali panen. Ia mengampo alias mengolahnya menjadi padatan yang lazim sebagai teman sirih ketika seseorang menyirih.

Hasilnya adalah 200 kg gambir kering. Sekilo gambir berasal dari 20 kg daun segar. Gambir padatan itulah yang ia bawa pulang sebagai komoditas ekspor. Para tetangga Hepni di Desa Simpangkapuk, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, melakukan hal serupa.

‘Rata-rata setiap warga punya 1 – 2 ha lahan gambir,’ kata Hepni. Wajar jika pada kedua bulan itu, suasana ladang gambir ramai. Asap pengolahan daun gambir membubung dari bangunan kayu itu. Namun, di luar Maret dan September, ladang kembali senyap karena warga setempat bercocok tanam padi sawah.

Harga bergeming

Di Kecamatan Mungka, perkebunan gambir tersebar di tiga wilayah, yaitu Desa Talangmaur, Sungaiantuan, dan Simpangkapuk. Hampir 60% warga ketiga desa itu ‘berprofesi’ sebagai pekebun gambir. Tanaman semak yang tumbuh memanjat itu memang menjadi komoditas utama bagi warga Mungka. Mereka mengelola kebun secara turun-temurun. Hepni, misalnya, meneruskan usaha keluarga yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup pada perkebunan tanaman anggota famili Rubiaceae itu.

Hasil ‘pengasingan’ mereka selama sepekan untuk mengolah gambir di ladang cukup memadai. ‘Saat harga bagus, sekali mengampo bisa mengantongi Rp4-juta – Rp5-juta,’ kata Jefri Manto, produsen gambir di Simpangkapuk. Jefri mengatakan harga bagus itu bila gambir laku Rp20.000 – Rp25.000 per kilogram. ‘Empat bulan terakhir harga gambir Rp25.000 sekilo, tetapi biasanya harga tidak stabil. Awal tahun lalu anjlok Rp14.000 per kilo,’ kata pria 29 tahun itu.

Sayangnya, posisi produsen gambir relatif lemah. Sebab, penentu harga jual adalah pengepul. Ketika harga catechu alias gambir di pasar dunia naik, tetapi harga jual di sentra gambir terbesar itu tak juga terkerek. ‘Petani mengikuti harga yang diberikan pengepul. Kadang karena keterbatasan modal, banyak pekebun yang berutang dulu pada pengepul. Ketika musim mengampo tiba, baru dilunasi dengan hasil panen. Kondisi itu membuat posisi tawar pekebun sangat lemah,’ kata Hepni.

Boleh jadi itu menjadi penyebab para pekebun gambir merawat tanaman ala kadarnya sehingga produktivitas tanaman rendah. Setelah menanam, mereka membiarkan gambir tumbuh begitu saja. ‘Perawatan cuma penyiangan gulma 2 kali setahun. Tanaman tidak pernah dipupuk, hanya ditaburi daun sisa mengampo,’ kata Hepni. Wajar saja ia cuma memanen 4 ton daun dan ranting basah dari lahan 1,5 ha. Padahal, menurut Daswir, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro), Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat, potensi produksi mencapai 7,5 ton per hektar.

Perbukitan

Hasil penelitian Daswir menunjukan pemberian 200 kg pupuk NPK 15:15:15 per ha dapat meningkatkan produktivitas tanaman menjadi 5 – 6 kg daun per rumpun, sedangkan tanpa pupuk, 2,5 – 3 kg. Sayang, pekebun belum menerapkan pemupukan intensif sehingga produksi rendah. Panen perdana gambir saat berumur 1,5 tahun dengan produksi 2 ton daun basah per hektar setara 100 kg gambir kering. Puncak produksi ketika tanaman berumur 3 – 10 tahun, mencapai 7,5 ton daun dan ranting basah per ha.

Warga menanam gambir di perbukitan di ketinggian 550 meter di atas permukaan laut. Hamparan tanaman gambir menghijau mirip kebun teh di kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Namun, di sentra gambir itu tak ada jalan beraspal nan mulus. Untuk mencapai kebun gambir, pekebun harus melewati jalan tanah berbatu di lereng pegunungan. Hanya kendaraan roda dua yang bisa melewati jalan itu. Itu pun pengendara mesti berhati-hati agar tak terperosok ke dalam jurang di sisi jalan.

Bahkan, untuk mencapai beberapa kebun tertentu hanya dengan berjalan kaki menyusuri jalur setapak yang mendaki. Itulah sebabnya Hepni dan produsen gambir lain, selalu menginap di ladang setiap kali musim panen tiba. Tak heran bila di setiap ladang selalu terdapat hunian dari kayu berlantai dua. Selama sepekan mereka tinggal di sana untuk mengampo alias mengolah daun gambir. Mereka membawa bekal makanan, minuman, dan perlengkapan sehari-hari dari rumah.

Sentra terbesar

Kabupaten Lima Puluh Kota memang merupakan produsen gambir terbesar di Sumatera Barat. Sebanyak 70% gambir Sumatera Barat berasal dari kabupaten seluas 3.354 km2 itu. Salah satu sentra gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota adalah Kecamatan Mungka yang menghasilkan 439,5 ton gambir per tahun dengan luas penanaman sekitar 862 ha.

Selain Kecamatan Mungka, sentra gambir lain di Kabupaten Lima Puluh Kota terdapat di Kecamatan Kapursembilan, Harau, Pangkalan Koto Baru, dan Bukitbarisan. Hasil panen gambir dari wilayah itu diekspor ke berbagai negara seperti Australia, Bangladesh, India, Filipina, Jepang, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Negara pengimpor itu memanfaatkan gambir untuk beragam keperluan seperti industri makanan, farmasi, pewarna cat, perekat kayu, dan tekstil.

Masyarakat India, misalnya, turuntemurun memanfaatkan gambir sebagai pelembap kulit. Getah daun kerabat mengkudu itu diyakini mampu menjaga kelenturan kulit. Pasokan gambir untuk bahan baku industri itu di antaranya berasal dari Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Ekspor gambir itu bukan baru-baru ini saja. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia mencatat, ekspor gambir berlangsung sejak 1918. Saat itu tercatat ekspor gambir mencapai 5.794 ton. Hampir seratus tahun, gambir dari Lima Puluh Kota mengisi pasar dunia. Itu bisa bertahan karena para pekebun gembira memenuhi panggilan ladang gambir. (Ari Chaidir)

 

  1. Harga gambir fluktuatif, saat ini Rp25.000 per kilo
  2. Dari 20 kg daun gambir dihasilkan 1 kg gambir kering
  3. Jefri Manto mencetak gambir hasil olahan daun pada September 2010
  4. Di setiap sudut kebun gambir terdapat gubuk tempat mengolah daun basah menjadi gambir kering siap jual

Foto-foto: Ari Chaidir

 

Powered by WishList Member - Membership Software