Gairah Pekebun Sayuran Jepang

Filed in Sayuran by on 01/09/2009 0 Comments

 

Pekebun di Cikajang, Garut Selatan, Jawa Barat, itu membudidayakan gerkin alias mentimun jepang di lahan seluas 1 ha. Untuk menjaga kontinuitas produksi, ia membagi lahan di ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut itu menjadi 4 blok. Masing-masing blok seluas 0,25 ha. Dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, satu blok dipadati populasi 3.000 tanaman. Gerkin ditumpangsarikan dengan bawang daun dan kacang merah.

Selang 45 hari pascapenanaman Iis mulai memetik hasilnya. “Sebetulnya di dataran rendah dan bertemperatur panas, gerkin dipanen pada umur 30 hari,” ungkap Iis. Namun, gerkin yang ditanam di dataran tinggi buahnya lurus dan lebih padat. Iis memanen mentimun berukuran 20 cm itu setiap hari selama 45 hari untuk setiap periode tanam. Rata-rata dalam sehari ia mampu memetik 50—60 kg.

Sebelum dijual gerkin itu difermentasi lebih dulu dalam tong berkapasitas 120 liter air. Buah berwarna hijau itu disusun berlapis dengan diselingi taburan garam sebanyak 7,5 kg. Selanjutnya campuran 2 liter cuka asam, 13,5 kg garam dapur, dan 1 ons kalsium klorida dituang ke dalam tong dan ditutup.

Untuk mengecek keberhasilan, setiap dua hari selama 1 bulan sampai gerkins siap jual, tong diperiksa. Tanda fermentasi berhasil: tercium wangi seperti acar, warna hijau kekuningan, dan tekstur buah padat kenyal. Jika tercium bau busuk dan tekstur gerkin lembek tanda fermentasi gagal. Menurut Iis kunci keberhasilan adalah dengan menjaga kadar garam stabil pada 15 ppm. Jika salinitas turun Iis menambahkan sekitar 1 kg garam kasar untuk menaikkan salinitas 1 ppm. “Kalau rajin diperiksa dan kebersihan terjaga keberhasilan fermentasi mencapai 90%”, tambah Iis.

Pasar terbuka

Iis mengungkapkan sebuah perusahaan olahan makanan di Jakarta rutin meminta pasokan 3 ton per bulan dengan harga Rp4.500/kg. Menurut perempuan kelahiran Bandung itu dengan harga jual Rp4.500/kg,

pekebun yang menjual gerkin dalam bentukan olahan mendapat keuntungan 125%. “Kalau hanya dijual segar, keuntungan tidak sebesar itu,” kata Iis.

Limpahan rezeki gerkin juga dinikmati oleh Didin Hidayat dan 70 petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Gerkin Cikajang, Garut, Jawa Barat. Didin membudidayakan gerkin di Bayongbong, Cisurupan, Garut Selatan, dengan ketinggian lahan 900 m dpl dan suhu harian 240C. Setiap bulan mereka menambah luasan sebanyak 5 ha. Total jenderal dalam setahun mereka mengusahakan gerkin seluas 60 ha.

Luasnya lahan itu untuk memenuhi permintaan yang datang. Setiap bulan mereka mengekspor 5 kontainer setara

70 ton gerkin ke Jepang. Angka itu lebih rendah dibanding permintaan yang mencapai 10 kontainer atau 140 ton per bulan. Harga jualnya untuk kategori B1 dengan diameter 3,7—4 cm adalah Rp4.000/kg. Sementara untuk kategori BRp3.600/kg untuk gerkin dengan diameter 4,1—4,3 cm. “Omzet yang kami dapat mencapai  Rp272-juta per bulan,” kata Didin. Sama seperti Iis yang memasok pasar lokal, untuk pasar ekspor juga dibutuhkan gerkin olahan. “Pasar gerkin baik lokal maupun ekspor memang bagus,” kata Iis.

Sayuran jepang

Tak hanya pekebun gerkin yang terciprat rezeki karena sayuran negeri Sakura. Di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Ujang Wasita yang mengebunkan horenzo alias bayam jepang juga berpenghasilan memadai. Di lahan seluas 700 m2 ia mengebunkan 4.000 horenzo. Selang 30 hari ia memetik 2—2,5 kuintal horenzo. Dengan harga Rp7.000/kg, omzetnya mencapai Rp1,4-juta—Rp1,75-juta.

Tarpin Arifin yang mengebunkan kabocha si labu jepang pun menuai rupiah. Dari luas lahan 560 m2 dengan 400 tanaman, ia berhasil memanen 9 kuintal kabocha. Dengan harga Rp3.000 per kg, omzet pekebun kelahiran 1968 itu mencapai Rp2,7-juta. Nasib serupa dialami Ayi yang mengebunkan kyuuri. Pekebun di Sukamulya, Cibodas itu bisa berpenghasilan Rp7,2-juta dari menanam 6.000 kyuuri dengan hasil 1,2 ton.

Permintaan sayuran jepang yang dalam 2 tahun ke belakang ini demikian pesat membuat Bobon Turbansyah dari PDGrace tak ragu bermitra dengan petani. Ia diminta memasok 22 gerai pasar swalayan di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Dari lahan yang dikelolanya seluas 80 ha, setiap Ahad, Selasa, dan Kamis, tak kurang 1,5 ton sayuran jepang berbagai jenis dipasok ke Jakarta. “Ada sekitar 20 jenis sayuran jepang yang kami usahakan,” ucap alumnus Universitas Parahyangan itu.

Namun menurut Bobon, mengebunkan sayuran jepang harus benar-benar jaga kualitas. Mafhum konsumennya adalah ekspatriat yang mengutamakan kualitas dan kebersihan. “Sayuran jepang 90% konsumennya warga Jepang,” tutur Ridwansyah dari pasar swalayan Cosmo di Jakarta. Demi menjaga mutu, “Makanya kami hanya menerima 30% pasokan dari mitra. Selebihnya diambil dari kebun sendiri,” imbuh Ridwansyah.

Musim panas

Senada dengan Cosmo, Papaya, gerai penyedia sayuran jepang di bilangan Melawai, Jakarta Selatan pun 90% konsumennya didominasi warga ekspatriat terutama jepang. Di sini kol jepang menduduki posisi puncak dengan volume penjualan 40 kg per hari. Menurut Aliong, supervisor sayuran di Papaya, pada Agustus omzet penjualan menurun hingga 70%. Musababnya banyak warga jepang yang sedang menikmati liburan musim panas di negaranya.

Jadi, meski pasar terbentang, mengusahakan sayuran jepang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan untuk bibitnya saja harus diimpor dari Jepang seperti yang dialami Didin. Belum lagi jika pasar menginginkan dalam bentuk olahan. Pekebun harus bisa menangani pascapanennya seperti gerkin fermentasi yang diusahakan Iis. (Faiz Yajri)

Kyuuri, sayuran jepang andalan pekebun di Cibodas

Konsumen sayuran jepang di pasar swalayan 90% ekspatriat

Horenzo panen 30 hari sejak tanam

 

Powered by WishList Member - Membership Software