Fulus Asal Polong Harum

Filed in Majalah, Perkebunan by on 15/10/2019

Produk-produk La Dame in Vanilla yaitu ekstrak vanili, pasta vanili, vanili kering, gula vanila, garam laut vanila, dan bubuk biji vanili.

 

Mengolah polong vanili menjadi beragam produk seperti pasta, garam laut vanila, dan gula vanila untuk mengisi pasar ekspor serta domestik.

Lidya Angelina Rinaldi, S.Sos mengawali bisnis olahan vanili dari hobi.

Pekerjaan Lidya Angelina Rinaldi, S.Sos berubah-ubah, periklanan, pemasaran, perhotelan, dan perbankan. Namun, hobi Lidya tetap, yakni memanggang hidangan manis. Selain gemar mengolah makanan, perempuan 32 tahun itu mencintai vanili. Ia kerap memanfaatkannya untuk membuat kue panggang. Lidya mencintai aroma polong kerabat anggrek itu karena harum.

Sayang, mendapatkan vanili murni amat sulit. “Susah banget menemukan vanili murni di pasaran. Padahal, kalau mengikuti resep dari luar negeri umumnya menggunakan ekstrak vanili,” ujar sarjana Ilmu Komunikasi itu. Kebanyakan produk perisa vanili di pasar Indonesia berupa esens. Jika murni bersumber dari vanili, produk mengandung alkohol atau yang disebut ekstrak vanili alkoholik.

Beragam olahan

Lidya memutuskan membuat sendiri ekstrak vanili nonalkohol menggunakan gliserin nabati. Saat itu pada 2014 harga vanili kering di pasar swalayan Rp10.000 per 20—50 gram. Lidya membayar Rp50.000 untuk membeli bahan ekstrak vanili. Harap mafhum, harga vanili anjlok karena vanili Indonesia masuk daftar hitam perdagangan dunia. Lidya membagikan sebagian ekstrak vanili bikinannya kepada kerabat.

Mereka menyukai ekstrak vanili buatannya. Lidya melihat peluang bisnis ekstrak vanili. Oleh karena itu, ia mengembangkan bisnis olahan vanili. Perempuan kelahiran Bandar Lampung itu lalu mengembagkan ekstrak vanili. Namun, ketika mencoba berjualan, “Susah sekali karena banyak orang Indonesia tidak paham vanili. Mereka tahunya (produk) vanila itu harus berwarna putih,” kata Lidya.

Konsumen Lidya banyak yang mengeluhkan hasil masakannya menjadi kotor.  Padahal, ekstrak vanili berbintik-bintik cokelat yang kerap disebut kaviar vanili. Olahan pangan menggunakan ekstrak vanili murni mesti berwarna cokelat-kekuningan alih-alih putih salju. Respons konsumen yang terbilang negatif justru semakin membakar semangat Lidya mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai vanili.

Seiring bertumbuhnya kapasitas produksi, pada 2015 Lidya mencari petani vanili di Bali. “Mbak yakin mau bisnis vanili? Ini tidak ada harganya,” kata Lidya mengulangi respons petani. Saat itu Lidya hanya membayar Rp700.000 untuk 1 kg vanili kering. Satu kilogram vanili kering berasal dari sekitar 4—10 kg vanili segar. Padahal, harga vanili kering Madagaskar saat itu mencapai ratusan dolar per kg.

Polong vanili mesti kering sempurna agar kandungan vanillin optimal.

Lidya menakar nilai vanili di pasar daring. “Saya coba jual Rp3 juta per kg polong vanili kering masih ada yang beli. Saya naikkan lagi Rp5 juta per kg masih ada yang beli juga. Saya naikkan lagi Rp7 juta masih ada yang beli juga. Terakhir saya pasang harga Rp11 juta dan masih ada juga yang beli,” papar Lidya. Menurut Lidya masyarakat Indonesia masih belum sadar akan komoditas andalannya.

“Kita salah satu penghasil terbesar vanili di dunia, tetapi kenapa kita menggunakan esens?” kata Lidya. Ia mendatangi toko-toko yang menjual produk organik di Kota Denpasar, Provinsi Bali. Pelanggannya masyarakat sadar sehat dan sadar produk berbahan alami. Selain ekstrak vanili, Lidya mengembangkan varian produk lain yaitu vanili kering, pasta vanili, garam laut vanila, dan gula (nonrafinasi) vanila. Ia menjual 550 ml pasta vanili, produk La Dame in Vanilla terfavorit nomor dua, senilai Rp730.000.

Lidya Angelina Rinaldi, S.Sos dan petani vanili mitra La Dame in Vanilla.

Sayang, Lidya enggan membuka jumlah dan biaya produksi beragam olahan vanili itu. Begitu pun dengan omzet total per bulan. Menurut Lidya untuk menghasilkan 2 sendok teh pasta vanili membutuhkan 1 polong vanili kering. Alumnus Universitas Katolik Indonesia Atmajaya itu mampu membuka pasar di luar negeri lebih luas setelah menerapkan endorsement produk pertama kali ke warga negara Perancis.

Setiap bulan Lidya membutuhkan setidaknya 50—100 kg vanili kering untuk mengolah bahan baku. Ia mengembangkan merek buatannya “La Dame in Vanilla.” Dalam bahasa Prancis, frasa itu berarti perempuan dalam vanila. Lidya yang menyerap 8 tenaga kerja itu mengatakan, produk-produk La Dame in Vanilla merupakan produk vanila bersertifikasi halal pertama di Indonesia.

Pertumbuhan kapasitas produksi La Dame in Vanilla 1.500 liter ekstrak vanili pada 2016 menjadi 1.775 liter di tahun 2017. Pada tahun 2018 Lidya membuka pasar ekspor ke Australia, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, dan Rusia. Pada 2018 Lidya menjual 4.005 liter ekstrak vanili ke konsumen domestik dan mancanegara. Sebanyak 35% hasil produksi La Dame in Vanilla untuk pasar ekspor.

Menurut Lidya lebih mudah menjual olahan vanili ke luar negeri. “Karena vanili dianggap seksi dan eksotis oleh konsumen luar negeri, justru mereka yang lebih berminat. Agak berat menjual vanili di pasar domestik,” kata Lidya. Pada 2019 Lidya berhasil menjual 1.100—1.500 liter ekstrak vanili yang menjadi bahan utama pasta vanili, gula vanila, dan garam vanila. Tahun ini meskipun belum terdata, Lidya merasakan ekspor produk-produk La Dame in Vanilla sudah melebihi 35% hasil produksi.

Lidya membuat olahan vanili tergantung pesanan yang diterima. Pertumbuhan pesat produksi juga berpengaruh pada margin pendapatan Lidya. “Tahun ini sudah di 39% ebitda (earnings before interest, pendapatan sebelum pajak) margin. Waktu di 2016 kita masih di 29%,” ujar wanita kelahiran tahun 1987 itu. Pantas petani mitra La Dame in Vanilla makin tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Pulau Alor, dan Bandar Lampung.

Ia memperhatikan kualitas produk yang beraroma tajam. Oleh karena itu, ia mensyaratkan petani memanen polong tua berumur 9—12 bulan sejak mekar bunga atau hingga muncul kekuningan di ujung polong. Kadar vanilin—senyawa yang menyebabkan aroma harum—polong muda masih rendah. Selain itu pengeringan juga harus tepat hingga polong berkadar air 20—30%.

Olahan vanili kreasi Lidya Angelina memenangi kompetisi perusahaan rintisan.

“Kalau pengeringannya salah, aroma vanila tidak keluar. Malah aromanya agak tengik dan tidak harum sebagaimana mestinya. Aroma akan berkaitan dengan hasil produksi,” kata Lidya. Petani kerap kali memanen vanili per tandan, padahal dalam satu tandan belum tentu semuanya sudah siap panen. Harap mafhum memanen polong vanili memang membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Setelah proses pengeringan yang juga membutuhkan waktu berbulan-bulan, pembuatan ekstrak vanili memakan waktu 3 bulan. Kontrol mutu produk dari panen hingga hasil produk olahan memang mesti ketat supaya produk yang dihasilkan berkualitas tinggi dan juga dihargai lebih tinggi. (Tamara Yunike)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software