Flotim 1 Produksi Naik 50%

Filed in Perkebunan by on 05/12/2010 0 Comments

 

Mete flotim 1, ukuran besar sehingga disukai pasar EropaPohon induk flotim 1 di Desa Balukhering berumur 33 tahunKebun 6.400 m2 itu tampak padat. Tajuk 115 pohon jambu mete berumur puluhan tahun saling bersinggungan. Koten Karolus, pemilik kebun di Desa Balukhering, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, itu hanya memanen 700 kg biji gelondongan alias belum terkupas. Karolus memang tak menanam sendiri pohon anggota famili Anacardiaceae itu, tetapi warisan orangtua. Ia menerima kebun jambu mete itu pada 2008.

Orangtua Karolus menanam jambu mete pada 1983 dengan jarak tanam 7 m x 7 m. Pekebun-pekebun lain di desa itu juga menanam jambu mete sangat rapat. Mereka beranggapan makin banyak tanaman di satu lahan, kian banyak pula hasilnya. Kebun dibiarkan apa adanya, ‘Tidak ada perawatan sama sekali,’ kata Dominikus Pati di Balukhering.

Jarangkan

Jarak tanam rapat dan budidaya ala kadarnya itu menyebabkan produksi jambu mete rendah. Kondisi itu mendorong Karolus menjarangkan pohon berumur 25 tahun pada 2008. Ia mengurangi populasi hingga 72 pohon dan memperlebar jarak tanam menjadi 12 m x 12 m sehingga populasi menyusut tajam jadi 43 pohon. Hasilnya? Meski populasi hanya tersisa sepertiga, tetapi produksi melambung signifikan. Pada musim panen 2009, misalnya, Karolus menuai 1.100 kg.

Itu 400 kg lebih banyak daripada panen-panen sebelumnya. Sebanyak 400 kg biji mete gelondongan itu setara 114 kg biji kupasan. Satu kilogram kupasan berasal dari 3,5 kg gelondongan. Harga biji jambu mete gelondongan di tingkat pekebun mencapai Rp12.000 per kg. Artinya, Karolus memperoleh omzet Rp4,8-juta lebih banyak daripada panen sebelumnya.

Dari segi produktivitas, flotim 1, varietas itu, juga unggul. ‘Potensi produksinya mencapai 1,5 ton per ha,’ kata Eman Boleng, kepala Bidang Produksi Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Flores Timur. Produktivitas per pohon sekitar 50 – 70 kg gelondongan. Sayang, pada 2010 musim hujan berkepanjangan di Balukhering sehingga banyak bunga rontok menyebabkan produktivitas turun.

Dengan jarak tanam lebih lebar, pekebun terbukti memanen jambu mete lebih banyak. Selain itu mereka masih dapat membudidayakan tanaman sela seperti ubijalar dan jagung di antara pohon Annacardium occidentale itu. Upaya budidaya intensif itu bertepatan dengan pelepasan varietas jambu mete yang dibudidayakan oleh Karolus dan pekebun lain di Balukhering menjadi varietas baru bernama flotim – singkatan dari Flores Timur.

Menurut Eman Boleng, Departemen Pertanian menetapkan flotim menjadi varietas baru pada 2007. Keunggulannya adalah ukuran gelondong biji relatif besar. ‘Tiap kg gelondongan rata-rata berisi 80 butir,’ kata Ir Hadad MSc APU, peneliti jambu mete di Balai Penelitian Tanaman Industri, Bogor, Jawa Barat. Sebagai perbandingan, varietas unggul lain, GG 1 asal Jawa Timur rata-rata terdiri atas 200 – 220 butir gelondongan per kg. Sementara SM 9, varietas unggul asal Sri Lanka yang termasuk besar, hanya berisi 100 – 110 butir per kg. Balakrisna alias BO2 asal India berisi 140 butir per kg.

Pendatang

Ukuran biji jambu mete yang relatif besar itu menjadi incaran pasar domestik dan pasar ekspor. ‘Pasar Eropa menyukai jambu mete berukuran besar,’ kata Hadad. Selain itu citarasa flotim 1 juga manis. Bandingkan dengan SM 9 dan BO 2 yang tawar. Flotim 1 sebetulnya bukan asli Flores, tetapi pendatang dari Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dinas Perkebunan Kabupaten Flores Timur mendatangkan bibit jambu mete dari Yogyakarta pada 1977. Penanaman pertama di Desa Balukhering yang tanahnya berbatu-batu dengan topografi miring. Komoditas lain sulit bertahan di sana. Dinas Perkebunan berharap jambu mete bisa tumbuh baik di Balukhering sehingga meningkatkan perekonomian warga.

Sayang, 8 tahun setelah penanaman, para pekebun justru pesimis. ‘Mereka menganggap jambu mete tidak ada pasarnya, sehingga banyak pekebun yang menebang pohon,’ kata Eman. Pada 1986 pemerintah Provinsi NTT mengambil inisiatif membeli jambu mete produksi para pekebun untuk meyakinkan mereka bahwa pasar jambu mete terbuka lebar.

Setahun berselang, para pekebun sudah bisa membuka pasar sendiri ke Makassar, Sulawesi Selatan, dan Surabaya, Jawa Timur. Warga pun beramai-ramai menanam kembali jambu mete. Dinas Perkebunan setempat kemudian mendampingi pekebun untuk membudidayakan secara intensif. Salah satu di antaranya adalah mengatur jarak tanam. Pohon-pohon di desa itu ditetapkan sebagai blok penghasil bibit dan menjadi varietas unggul.

Saat ini di Balukhering terdapat 500 pohon induk jambu mete flotim 1 berumur 33 tahun. Dinas memperbanyak dan menyebarkan bibit dari pohon-pohon yang tersebar di lahan milik 120 pekebun. Dari pohon-pohon itulah para pekebun di Balukhering menjual mete gelondongan. Para pengepul yang langsung datang ke kebun membelinya dengan harga Rp9.000 – Rp12.000 per kg.

Tidak hanya mete gelondongan yang menambah pundi-pundi warga, tapi juga dari penjualan benih. Karolus sudah melayani 1 ton benih jambu mete ke Kefa, Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Lembata di NTT pada Januari – Juni 2010. Tahun sebelumnya permintaan mencapai 4 ton. Harga benih flotim Rp15.000 per kg. Selain itu ada juga warga Balukhering yang mengolah buah semu jambu mete menjadi minuman. (Tri Susanti/Peliput: Endah Kurnia Wirawati)

  1. Koten Karolus, pekebun flotim 1 menuai mete gelondongan 60% lebih banyak setelah melakukan penjarangan
  2. Mete flotim 1, ukuran besar sehingga disukai pasar Eropa
  3. Pohon induk flotim 1 di Desa Balukhering berumur 33 tahun
 

Powered by WishList Member - Membership Software