Fikri 35 Ton/Ha

Filed in Uncategorised by on 03/09/2012 0 Comments

Umbi kentang fikri dengan bobot rata-rata 60—100 gTurunan kentang granola dengan produksi menjulang, 35 ton per ha atau meningkat 40%.

 

Muhammad Khudori SP, Penanaman kentang fikri di ketinggian tempat 1.200 m di atas permukaan lautTanaman granola biasaPada umur 50 hari tinggi fikri 1 m, granola biasanya 0,5 mTiga panen terakhir, produksi kentang di lahan Enjang Nurmuttakin memang terus meningkat. Panen terakhir pada Januari 2012, mencapai 35 ton per ha sehingga ia mesti menambah pemanen menjadi 15 orang selama 4 hari, biasanya hanya 8 orang. Produksi itu meningkat daripada panen sebelumnya pada Oktober 2011, yakni 30 ton dan 28 ton per ha (Juli 2011). Ketiga panen itu memberikan hasil tinggi, di atas rata-rata produksi.

Bandingkan dengan panen-panen sebelumnya, Enjang hanya menuai rata-rata 23-25 ton per ha. Artinya terjadi peningkatan produksi hingga 10 ton per ha. Peningkatan produksi 40% itu keruan saja memberikan laba besar kepada pekebun di Garut, Provinsi Jawa Barat, itu. Ia menjual umbi Solanum tuberosum itu kepada pengepul Rp4.000 per kg.

Sosok berbeda

Para pekebun kian girang karena lonjakan hasil panen itu tak diikuti oleh peningkatan biaya produksi. Pekebun yang mengelola lahan 1 ha itu mengeluarkan biaya Rp70-juta per ha. Itu sama dengan biaya budidaya kentang sebelumnya. Enjang Nurmuttakin juga tak mengubah teknis budidaya. Enjang memberikan 20 ton pupuk kandang per ha sebagai pupuk dasar sepekan sebelum tanam.

Saat penanaman, pekebun 44 tahun itu menaburkan 300 kg pupuk ZA, 500 kg SP-36, dan 300 kg NPK. Ia kembali menaburkan 400 kg NPK per ha pada 30 hari setelah tanam. Bertahun-tahun menjadi pekebun, begitulah cara Enjang menanam kentang. Lonjakan produksi itu lantaran Enjang menanam benih kentang fikri, hasil penangkaran Koperasi Penangkar Benih Kentang (KPBK), Garut.

Kentang fikri sejatinya bukan asli tanah Garut. Kisahnya bermula saat Ketua KPBK, Muhammad Khudori, mendapat bantuan 200 botol planlet kentang granola hasil perbanyakan teknologi kultur jaringan dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) di Lembang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, pada pengujung 2010. Khudori lantas memperbanyak planlet itu hingga 100.000 bibit.

Pada awal 2011, KPBK menangkarkan bibit-bibit itu di Kecamatan Cikedug, Pasirwangi, Cikajang, Cisurupan, dan Samarang-semua di Kabupaten Garut, total di lahan 2,5 ha. Saat tanaman berumur 50 hari, penampilan tanaman kentang di semua lahan sangat menonjol. Tinggi tanaman rata-rata mencapai semeter, padahal biasanya hanya 0,5 m. Dengan ajir bambu setinggi 120 cm, sosok tanaman itu tampak mencolok.

Pria kelahiran 27 November 1977 itu segera mengabarkan temuannya kepada rekan-rekan di KPBK. “Semua bibit menunjukkan pertumbuhan luar biasa,” kata Khudori. Saat tanaman berumur 110 hari, Khudori dan rekan-rekannya di KPBK memanen kentang granola bongsor itu. Lahan seluas 2,5 ha menghasilkan 75 ton kentang alias 30 ton per ha. Setiap rumpun tanaman menghasilkan rata-rata 15-20 umbi, jumlah itu sama dengan granola biasa. Dari segi cita rasa juga tidak berbeda.

Terbatas

Yang membedakan adalah bobot umbi, yakni 60-100 gram. Bobot granola lazimnya hanya 40-60 gram. Itulah sebabnya Khudori dan pengurus KPBK menjadikan kentang-kentang itu sebagai bibit. Dari bibit-bibit itulah fikri menyebar di Kabupaten Garut. Mereka memang memberikan nama fikri, mengacu pada nama Bupati Garut saat ini, HM Aceng Fikri SAg. Sebutan lain untuk kentang fikri di kalangan petani Garut adalah granola jerman karena bersosok tinggi atau granola khudori karena berasal dari Khudori.

Petani Garut menanam kentang di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Mereka membudidayakan kentang berjarak tanam 75 cm x 30 cm sehingga total populasi 40.000 bibit per ha. Menurut Khudori hingga kini tercatat 20 pekebun yang menanam fikri di lahan seluas 10 ha. Hasilnya pun konstan, 30-35 ton per ha. “Penanaman skala luas terkendala ketersediaan bibit sehingga belum tersebar ke semua petani di Garut,” kata Khudori.

Pasalnya, banyak petani lebih suka menjual langsung kentang hasil panen. Akibatnya, saat hendak menanam kembali, mereka tidak memiliki persediaan bibit dan terpaksa membeli dari petani lain. Untuk menyiasati keterbatasan bibit, Khudori memotong sebuah umbi berbobot 100 gram menjadi empat bagian. Sementara benih berukuran kurang dari 100 g ia potong menjadi 2 bagian sama besar. Khudori menggunakan pisau tersterilisasi yang dicelupkan dalam alkohol 95%.

Setelah terpotong, ia menempelkan bagian terluka ke serbuk fungisida berbahan aktif mankozeb. Ia lalu menyimpan benih kering angin pada suhu ruang hingga keluar akar muda 7 hari kemudian. “Tingkat keberhasilan mencapai 99%,” tuturnya. Menurut Asih Kartasih Karyadi, peneliti kentang di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, induk fikri adalah kentang varietas granola koleksi kebun lembaga itu di Lembang, Jawa Barat. Para periset mengambil jaringan meristem kentang itu, lalu mengkulturkannya.

Selang 2 tahun, lahirlah fikri. Asih mengatakan produktivitas kentang bongsor itu menjulang lantaran kualitas benih dan teknik budidaya unggul. “Benih hasil kultur jaringan meristem sehingga bebas infeksi virus, selain itu kondisi iklim di Kabupaten Garut dan teknik budidaya para petani setempat turut menunjang,” tutur alumnus Jurusan Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. Kedua hal itulah yang menyebabkan fikri bongsor. (Bondan Setyawan)

Keterangan Foto :

  1. Muhammad Khudori SP, “Luas tanam fikri saat ini 10 ha. Penanaman skala luas terkendala bibit.”
  2. Umbi kentang fikri dengan bobot rata-rata 60-100 g
  3. Penanaman kentang fikri di ketinggian tempat 1.200 m di atas permukaan laut.
  4. Penangkaran benih kentang G0-G1 dilakukan di dalam greenhouse
  5. Perbandingan tinggi tanaman granola biasa (kiri) dengan fikri. Pada umur 50 hari tinggi fikri 1 m, granola biasanya 0,5 m
 

Powered by WishList Member - Membership Software