Fantastik, 8 Kg Tomat per Tanaman

Filed in Sayuran by on 01/07/2009 0 Comments

Itu bukan kebetulan. Sudah 2 kali penanaman, Doyo Mulyo Iskandar selalu menuai produksi tinggi, 6 – 8 kg per tanaman. Ia menanam varietas martha keluaran PTEast West Seed Indonesia di dalam greenhouse. Para pekebun yang menanam varietas itu hanya menuai rata-rata 3,5 kg per tanaman. Menurut Yos Sutiyoso, ahli budidaya tanaman, produktivitas tomat yang dibudidayakan di dalam greenhouse maksimal 4 kg. ‘Tapi rata-rata 2,5 – 3 kg per tanaman,’ kata Yos.

Doyo membudidayakan 1.600 tanaman di rumah tanam seluas 3.000 m2. Jarak tanam 100 cm x 60 cm. Cara budidaya Doyo sama dengan pekebun lain. Yang membedakan adalah ia menambahkan cairan pembenah tanah sebelum memasang mulsa plastik. Untuk lahan seluas itu ia memerlukan 5 liter pembenah tanah seharga total Rp150.000. Satu liter cairan pembenah tanah dilarutkan dalam 200 liter air dan disemprotkan ke tanah yang telah diolah. Sepekan berselang, barulah ia memasang mulsa plastik.

Mutu

Tanaman tumbuh subur dan kokoh. Malahan, pekebun sayuran sejak 1987 itu memetik tomat lebih cepat: pada umur 75 hari pascatanam. Padahal, varietas itu biasanya panen pada umur 90 hari. Volume panen perdana hanya 80 kg, kemudian meningkat menjadi 400 kg pada panen kedua. Produksi puncak saat panen ke-7: 3,2 ton. Sedangkan panen ke-16 dan 17 mencapai 2,1 ton; panen ke-21, 1,3 ton. Setelah itu produksi melorot hanya 300 kg hingga panen berakhir.

Total, Doyo memanen 48 kali dengan frekuensi 3 kali sepekan selama 4 bulan. Padahal, sebelum menggunakan pembenah tanah ia hanya 12 – 15 kali panen selama 1,5 bulan. Umur produksi tanaman 2,5 bulan lebih lama ketimbang tanaman tanpa pembenah tanah. Ketika Trubus berkunjung ke rumah tanam Doyo pada Mei 2009, tomat yang ditanam pada November 2008 masih berproduksi.

Setelah menggunakan pembenah tanah, pekebun berusia 47 tahun itu menuai 10 ton. Artinya, rata-rata produksi mencapai 6,25 kg per tanaman. Bukan hanya produksi yang meningkat, kualitas buah Lycopersicum esculentum itu juga bagus. ‘Tekstur tomat keras sehingga kesegarannya lebih lama,’ kata Doyo.

Saat belum menggunakan pembenah tanah, Doyo hanya mampu memproduksi tomat untuk pasar swalayan 40% dari total panen; sekarang, 80% atau 8.000 kg. Pasar swalayan menghendaki tomat bermutu tinggi: ukuran seragam 100 – 150 g, sehat, dan tidak terlalu matang. Dengan harga jual Rp5.000 per kg, omzet Doyo Rp40-juta.

Sedangkan 20% atau 2.000 kg selebihnya dijual ke pasar tradisional dengan harga Rp2.000 per kg. Menurut Doyo, biaya produksi mencapai Rp3.400 per tanaman. Biaya produksi tomat di luar greenhouse hanya Rp2.200 per tanaman. Dengan produksi minimal 5 kg saja per tanaman dan harga jual Rp5.000 per kg, laba bersih Doyo Rp21.600 per tanaman.

Kuat

Menurut Ir Kharisun PhD, ahli tanah di Universitas Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, pembenah tanah merupakan bahan sintetis atau alami yang mampu memperbaiki sifat fisik, biologis, dan kimia tanah. Pembenah tanah yang digunakan Doyo itu ramuan Dady Riyanto. Pria kelahiran 15 Maret 1947 itu meriset pembenah tanah pada 2001 – 2006. Sayang, alumnus Fakultas Biologi Universitas Nasional itu merahasiakan bahan baku pembenah tanahnya.

Hasil uji Balai Penelitian Tanah menyebutkan pembenah tanah mengandung kalsium oksida, magnesium oksida, dan karbon organik. ‘Senyawa-senyawa itu berperan penting sebagai unsur hara, memperbaiki tekstur dan keasaman tanah,’ kata Kharisun. Kalsium memperkokoh dinding sel sehingga tanaman lebih kuat menahan gempuran penyakit.

Pada umur 40 hari, pekebun-pekebun tomat di Lembang menghadapi serangan phytophthora dan sercospora. Serangan kedua penyakit itu tak terdapat di kebun Doyo. Selain itu kalsium juga mencegah rontoknya buah. Adapun magnesium oksida berperan membentuk inti klorofil. Tanaman yang banyak mempunyai klorofil menyebabkan proses fotosintesis lancar sehingga nutrisi yang diperlukan tanaman memadai.

Secara umum pembenah tanah berfaedah memperbaiki kemampuan tanah dalam menyimpan unsur hara, menyerap, dan mengalirkan air. Itulah sebabnya produksi tanaman pun terdongkrak sangat signifikan, 2 kali lipat produksi rata-rata. (Ari Chaidir/Peliput: Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software