Faedah Usai Gas Sirna

Filed in Perkebunan by on 01/07/2013 0 Comments
Larva uret Lepidiota stigma. Pemberian sluri membuat hama perusak akar atau tebu itu enggan menyerang

Larva uret Lepidiota stigma. Pemberian sluri
membuat hama perusak akar atau tebu itu
enggan menyerang

Berkat ampas, biaya produksi tebu terpangkas 30%. Panen meningkat 25%.

Tegakan batang tebu rapat menjulang dengan daun menghijau itu terhampar di lahan 2 ha. Sebagian tanaman Saccharum officinarum itu mulai berbunga menjadikan hati Yanu Budihartono turut berbunga-bunga. Betapa tidak, tanaman kerabat jagung itu hampir pasti mengucurkan rupiah ke dalam koceknya. Harapannya menjadi nyata: pada Mei 2013, pekebun di Desa Manggis, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu memanen 200 ton batang tanaman penghasil gula.

Dengan harga Rp42.000 per kuintal, omzet Yanu Rp84-juta. Padahal, biaya perawatan selama 12 bulan hanya Rp9,3-juta, sehingga ia menangguk laba Rp74-juta. Rahasia pria 44 tahun itu sederhana: menambahkan ampas reaktor biogas kotoran sapi atau sluri. Penggunaan sluri memangkas kebutuhan pupuk anorganik hingga 50%. Meski pekebun mengurangi dosis pupuk, produksi tebu justru meningkat dari 160 ton menjadi 200 ton per 2 ha.

Nitrogen 100%

Sluri merupakan produk sisa pengolahan biogas berbahan campuran kotoran ternak dan air. Kedua bahan itu mengalami proses fermentasi tanpa oksigen dalam reaktor selama 50—60 hari, menghasilkan gas metan, karbondioksida, dan air serta menyisakan limbah semipadat, yaitu sluri. Setelah keluar dari reaktor, sluri cair diendapkan atau didiamkan di lubang penampungan selama 1 minggu. Tujuannya menghilangkan gas beracun—antara lain gas metan—yang berbahaya bagi tanaman atau ternak.

Bahan sluri bisa berasal dari kotoran sapi, ayam, dan burung puyuh. “Di beberapa tempat seperti Bali dan Nusa Tenggara Barat, sluri terbuat dari kotoran babi,” ujar Yudha Hartanto, penyuluh pupuk organik lembaga swadaya masyarakat Biogas Rumah di Bandung, Jawa Barat. Kandungan hara sluri lebih baik dibandingkan kompos (lihat tabel). Menurut Ir Arie Mudjiharjati, MS, dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember, sluri dan pupuk kandang mengalami fermentasi yang berbeda. Sluri terfermentasi anaerob alias tanpa oksigen, sedangkan pupuk kandang membutuhkan oksigen untuk proses fermentasi.

Ada dua jenis sluri: cair dan padat. Sluri cair memiliki pH 7,9—8,3 dan kadar air 90—93%, warna cokelat atau hijau gelap, tidak mengeluarkan gelembung, tidak berbau, dan tidak mengundang lalat. Sementara sluri padat berwarna cokelat gelap dengan ukuran yang tidak seragam. Teksturnya lengket, tidak mengkristal, dan mampu menahan air lebih baik daripada pasir. Menurut Yudha Hartanto, kualitas sluri dipengaruhi kandungan ion amonium.

Sluri cair memiliki kandungan nitrogen efektif 100%. Artinya, tanaman bisa menyerap seluruh kandungan nitrogen itu. Kandungan amonium berkurang bila terjadi penguapan berlebih akibat paparan sinar matahari.  Pengeringan sluri yang ternaungi masih memiliki 85% kandungan nitrogen efektif. Sluri yang dikeringkan dengan sinar matahari langsung hanya mengandung 65% nitrogen efektif. Dengan demikian, sluri cair yang berasal dari reaktor lebih baik jika langsung diberikan ke lahan. Jika disimpan, pastikan terlindung dari sinar matahari.

Pahit

Sluri cair dengan kadar nitrogen 100% itulah yang dimanfaatkan Yanu untuk budidaya tebu. Yanu mengocorkan 1.200 liter sluri per ha 7 hari pascaolah tanah. Ia mengolah tanah dengan cara membajak sedalam 15 cm, lalu membuat larikan untuk menanam bibit tebu. Pekebun tebu  itu membeli limbah sluri dari Riyanto, pemasok pupuk sluri di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, Rp150.000 per tangki 200 liter.

Sepekan berselang, petani tebu sejak 2007 itu menanam bibit sepanjang 1,5 meter dengan 10—12 mata tunas. Jarak tanam antarbibit 1,1 m x 1,1 m sehingga populasi 8.264 tanaman per ha. Bibit berasal dari tebu berumur 12 bulan.  Ia biasanya menanam tebu varietas BR hijau 62 pada Mei. Pasalnya, saat itu bertepatan dengan musim kemarau, ketersediaan air dan suhu ideal untuk pertumbuhan tebu.

Bulan ketiga pascatanam,  ia menyemprotkan 1 rit alias 500 liter per ha pupuk tetes tebu atau sipramin. Pupuk itu terbuat dari limbah bahan penyedap makanan. Empat bulan kemudian atau 7 bulan pascatanam, ia membenamkan pupuk Phonska dan pupuk ZA masing-masing 500 kg per ha atau 600 g per tanaman. Berikutnya ia tinggal menanti panen pada bulan ke-12 pascatanam.

Selama 12 bulan masa tanam Yanu membenamkan total jenderal 2.400 liter sluri, 2 rit molase, 1 ton Phonska, dan 1 ton ZA. Total biaya pemupukan berikut tenaga kerja mencapai Rp9,3-juta. Tanpa sluri, ayah dua anak itu mengeluarkan Rp13,4-juta untuk biaya pemupukan di lahan 2 ha. Dari biaya itu, Rp5,6-juta di antaranya untuk pembelian masing-masing 4 ton pupuk Phonska dan ZA. “Itu sebabnya 2 tahun terakhir saya menggunakan sluri,” ujar Yanu.

Kelebihan lain pupuk sluri: membuat tebu terhindar serangan uret Lepidiota stigma. Hama itu merusak akar tanaman tebu yang tumbuh di tanah tegal berpasir. Menurut Riyanto, pada 2011 serangan mbug atau uret, menyebabkan mayoritas petani di Kecamatan Ngancar gagal panen. Namun, pekebun yang menggunakan sluri luput dari serangan. Menurut Yudha Hartanto, rasa sluri yang pahit menjadi penyebab larva uret enggan menyerang akar. Sekali memberikan sluri, pekebun meraih beragam manfaat: hemat, produksi meningkat. (Kartika Restu Susilo/Peliput: Lutfi Kurniawan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software