Euphorbia: Delapan Dewa Istimewa

Filed in Laporan khusus by on 04/09/2013 0 Comments

Euphorbia—euphorbia unik hasil silangan antarspesies: pendek berbunga lebat, berbunga menjuntai, batang tanpa duri, dan berdaun elok.

Sosok euphorbia itu tampak berbeda. Sosok tanaman sangat pendek tapi berbunga semarak. Bunga terlihat dominan karena berukuran relatif besar dibandingkan daun yang langsing dan kecil. Euphorbia itu salah satu koleksi Kang Chien Chung, pehobi di Kaohsiung, Taiwan.

Kang Chien Chung mengoleksi 100 pot euphorbia dan menempatkannya di dak rumahnya berlantai lima. Koleksinya berupa spesies dan hasil silangan antarspesies euphorbia  Di dak rumahnya, Kang Chien Chung memang mengoleksi beragam spesies tanaman hias anggota famili Euphorbiaceae itu. Sebut saja euphorbia berdaun besar dan berbunga kecil dengan tangkai menjuntai panjang. Menurut Hendik Purwanto, penangkar euphorbia di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tanaman itu hasil silangan E. lophogona dan E. poissonii atau E. venefica. Poissonii dan venefica mewariskan daun besar dan tebal. Sementara tangkai bunga panjang menitis dari lophogona.

 

Daun elok

Koleksi lain Kang Chien Chung adalah euphorbia dengan bunga bertumpuk. Dari satu bunga muncul bunga lain sehingga membentuk untaian. Euphorbia setinggi 40 cm itu juga tampak gagah. Uniknya batang euphorbia itu tanpa duri: polos dan tampak halus. Lazimnya tanaman gurun itu berduri di sekujur batang.

E. iharane berdaun unikMenurut penangkar tanaman hias Taiwan, Jung Sheng Lin, tren euphorbia di negerinya masih menghendaki euphorbia tanpa duri, berbunga mini, dan kompak. Beberapa tahun silam euphorbia asal Thailand juga beredar di pasar tanaman hias. Namun pamornya tidak pernah melambung. Pasalnya euphorbia asal Negeri Gajah Putih cenderung tumbuh nglancir, berduri besar, dan bunga kurang kompak.

Chung juga mengoleksi euphorbia berdaun indah. Selama ini pehobi memang menikmati keelokan bunga tanaman kerabat kastuba itu. Namun, selagi tanaman belum berbunga, Kang pun dapat menikmati keindahan daunnya yang tak kalah elok. Sekilas tanaman itu mirip Euphorbia francoisii var crassicaulis forma rubrifolia. Bagian tepi daun bergerigi dan tebal. Yang paling kentara tulang daun berwarna merah muda, persis penampilan Euphorbia francoisii.

Hendik menduga tanaman itu hasil silangan antara E. francoisii betina dan E. francoisii var crassicaulis forma rubrifolia jantan. E. francoisii mewariskan daun berwarna hijau. Sementara francoisii var crassicaulis mewariskan tulang daun kemerahan. Menurut Hendik kekhasan E. francoisii terletak pada kaudeks yang membesar dan eksotis. “Meskipun kaudeks berada dalam tanah, jika sudah cukup besar bisa kelihatan,” kata Hendik. Ciri lain francoisii yaitu warna dan corak daun yang bervariasi sehingga memanjakan mata. Selain itu daunnya juga tebal sehingga sangat lama bertahan dan tidak mudah rontok.

Silangkan sendiri

Untuk mendapatkan jenis-jenis terbaru, Kang Chien Chung menyilangkan euphorbia antarspesies. Setiap pagi setelah bangun tidur ia rutin menyilangkan euphorbia. Kemudian setelah pulang bekerja Chung kembali menjadi penghulu bagi euphorbia koleksinya. Kang Chien Chung memerlukan beberapa spesies euphorbia sebagai indukan dalam penyilangan. Di antara koleksi euphorbia spesies adalah E. iharanae bersosok indah.

Daun E. iharanae berbentuk lonjong dengan tangkai hingga tulang daun berwarna merah muda. Chung beruntung bisa menumbuhkan tanaman asli Madagaskar itu dari biji. Sebab, “E. iharanae sulit berbiji,” kata Hendik yang juga pehobi euphorbia. Chung bukan tanpa alasan memperbanyak euphorbia dari biji. Menurut penangkar tanaman hias di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Anwar, membudidayakan euphorbia dari biji menghasilkan tanaman yang bermutasi.

Akibatnya muncul euphorbia dengan banyak variasi pada bunga dan daun. Hendik mengatakan beberapa spesies euphorbia yang berada pada satu tempat bisa menghasilkan hibrida baru melalui polinasi terbuka. Itu terjadi saat serbuk sari menempel pada putik spesies lain. Lazimnya polinasi terbuka melibatkan angin atau serangga sebagi perantara pembawa serbuk sari. Tanaman hasil polinasi terbuka tidak terduga. Artinya banyak muncul variasi bunga dan daun.

Selain itu pada tanaman hasil penyerbukan terbuka, sangat sulit “membaca” induk jantan. Hendik menuturkan di Indonesai tren bunga delapan dewa alias euphorbia juga mulai menggeliat. “Permintaan euphorbia semakin meningkat. Terutama jenis langka dan eksotis,” tutur Hendik. Koleksi-koleksi Kang Chen Chung merupakan jenis langka yang eksotis.  (Riefza Vebriansyah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software