Enam Kunci Besarkan Sidat

Filed in Ikan konsumsi by on 31/07/2011

 

Penyesuaian pakan salah satu fase krusial budidaya sidatSyaiful Hanif, peternak sidat di Desa Lamarantarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, panen sidat pada Februari 2010. Bobot panen mencapai 7 – 8 ons per ekor, bahkan ada yang lebih dari satu kg per ekor. Pada panen perdana itu, ia memperoleh 500 kg sidat konsumsi dari sebuah kolam. Sukses itu menjadi pembicaraan masyarakat karena hingga kini sedikit pelaku budidaya sidat.

Itu hasil jerih payah Syaiful membangun 10 kolam berukuran masing-masing 20 m x 30 m x 2,7 m di lahan 2 ha. Pada Agustus 2009, untuk pertama kali ia menebar bibit Anguilla marmorata berbobot rata-rata 2 – 3 ons per ekor. Setelah itu ia menebar bibit secara bertahap hingga September 2009. Populasi per kolam750 – 1.250 ekor. Menurut Syaiful, pemilihan bibit menjadi kunci pertama keberhasilan budidaya sidat.

Ia memilih bibit yang sehat dan tidak cacat, menghindari bibit hasil tangkapan dengan setrum. Bibit setruman biasanya banyak memar di tubuhnya. “Gara-gara bibit setrum saya pernah rugi besar karena 750 kg bibit mati sebelum saya tebar,” kata Syaiful. Seandainya bibit itu hidup pertumbuhannya pun lambat, tak kunjung gemuk. Meski peternak memberikan porsi pakan yang sama, 2 – 4% dari bobot setiap hari, bibit itu sulit berkembang.

Santap malam

Kunci selanjutnya adalah membiasakan sidat mengonsumsi pakan buatan. Di habitat asalnya, sidat lazim menyantap udang-udangan, serangga, dan kepiting kecil.  Namun, ketika membudidayakan sidat, Syaiful memberikan pelet plus campuran cacing tanah Lumbricus rubellus. Mula-mula ia menghaluskan pelet, mengaduk dengan cacing halus hingga rata, dan menambahkan air hangat. “Cacing dapat merangsang sidat makan karena berbau amis,” kata Syaiful

Adaptasi pakan biasanya memakan waktu hingga sepekan. Setelah itu, ia mulai mengganti  pakan dengan pelet apung. Sebab, satwa anggota famili Anguillidae itu menyukai mangsa alami yang bergerak di permukaan air. Peternak sidat itu memberikan pakan 2 kali. Volume pakan 2 – 4% dari total biomassa sidat.  Artinya, jika total bobot sidat 100 kg, maka ia memberikan 2 – 4 kg pakan. Frekuensi pemberian 2 kali sehari, 40% pada pagi hari dan 60% pada malam. Mafhum, sidat tergolong satwa nokturnal alias aktif pada malam hari.

Rahasia berikutnya, Syaiful memanfaatkan mesin pakan otomatis bikinan sendiri. Tujuannya agar pakan tidak terbuang percuma. Ia melubangi bagian bawah galon air minum. Selanjutnya pria kelahiran Agustus 1977 itu menancapkan 2 pipa PVC (polivinil klorida) masing-masing  sepanjang 50 – 60 cm berdiameter 2,5 cm secara melintang. Pipa PVC menahan galon di atas kolam. Ayah dua anak itu memberi penutup berupa plastik longgar pada mulut galon.

Penutup galon itu berhubungan dengan besi panjang menjuntai ke bagian bawah permukaan air. Saat lapar, sidat menggoyangkan besi dan pakan pun berjatuhan. Menurut dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Ridwan Affandi DEA penggunaan pakan otomatis pada budidaya sidat lebih efektif dan ekonomis daripada cara tebar. Menurut Affandi peternak tidak mengetahui jumlah pakan yang dikonsumsi sidat atau tercecer jika menerapkan pakan tebar.

Tidur siang

Syaiful membangun panggung bambu berukuran 4 m x 2 m x 2 m di tepi kolam. Bagian bawah panggung terdiri atas 2  tingkat berlantai bambu. Lantai bambu itu berguna bila sidat ingin beristirahat pada siang hari. Syaiful mengamati sidat tidak menyukai cahaya sehingga kerap berlindung pada siang hari. Di alam, sidat bernaung di bawah potongan pohon. Nah, di kolam sidat bersembunyi di bawah panggung bambu itu.

Alas bambu itu berfungsi ganda, tempt mengaso sekaligus menaruh mesin pakan otomatis. Jadi, sambil beristirahat, sidat tetap bisa menyantap pakan. “Dengan cara begitu sidat cepat gemuk karena usai makan bisa langsung istirahat,” tutur alumnus Teknik Mesin Politeknik Negeri Bandung itu.

Kunci lainnya adalah penyiponan atau pembersihan sisa-sisa pakan. Syaiful rutin melakukan penyiponan di dasar tambak agar sisa pakann tidak menimbun dan terurai menjadi racun. Penyiponan setiap 15 hari sekali. Selain itu Syaiful juga menerapakan sortasi atau memisahkan sidat berbeda ukuran setiap 30 – 45 hari. Itu penting agar pertumbuhan sidat seragam. Apalagi sidat cenderung bersifat kanibalisme. ”Sebab itu sortasi mutlak untuk mengurangi kerugian,” kata peternak sidat itu.

Hal penting lain adalah mengganti 30 – 50% air kolam 15 – 30 menit setelah pemberian pakan. Itu untuk mencegah timbunan pakan kaya amonia di dasar kolam.  Amonia mengikat oksigen sehingga menghambat pertumbuhan sidat terhambat. Kadar oksigen terlarut di air minimal 2 ppm, ideal 4 – 6 ppm. Penggunaan kincir air meningkatkan kadar oksigen terlarut. Dengan enam kiat itu, Syaiful sukses membesarkan sidat. (Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software