Empat Peneliti Ahli Utama Balitbangtan Dikukuhkan Sebagai Profesor Riset

Filed in Peristiwa by on 01/04/2021

Bogor, Di tengah pandemi Covid-19, Majelis Pengukuhan Profesor Riset Kementerian Pertanian (Kementan) mengukuhkan empat peneliti ahli utama dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sebagai profesor riset. Pengukuhan tersebut menambah jumlah profesor riset di Kementan menjadi 154 orang, sementara untuk tingkat nasional menjadi 599 orang.

Empat peneliti ahli utama yang dikukuhkan menjadi profesor riset adalah Prof. (Riset) Dr. Ir. Handewi Purwati Saliem dalam bidang Ekonomi Pertanian, Prof. (Riset) Dr. Ir. Bambang Heliyanto dalam Pemuliaan dan Genetika Tanaman, Prof. (Riset) Dr. Ir. Satoto dalam bidang Pemuliaan dan Genetika Tanaman dan Prof. (Riset). Dr. Ir. Jacob Nulik dalam bidang Nutrisi dan Teknologi Pakan.

Keempatnya secara berurutan merupakan profesor riset ke 596, 597, 598 dan 599 secara nasional dan profesor riset ke 151, 152, 153 dan 154 di Balitbangtan, Kementan. Saat ini profesor riset Kementan yang masih aktif sebagai PNS berjumlah 54 orang dari 1581 peneliti dan total 5579 PNS di Balitbangtan.

Sebelum pengukuhan, keempat peneliti tersebut melaksanakan Orasi Pengukuhan Profesor Riset di Auditorium Puslitbang Perkebunan, Bogor, pada Rabu (31/3/2021) dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Orasi ini merupakan kristalisasi dari hasil pemikiran mereka selama puluhan tahun selama menjadi peneliti.

Prof. Handewi menyampaikan orasi berjudul Redisain Kebijakan Ketahanan Pangan dan Gizi Berbasis Dinamika Pola Konsumsi Masyarakat. Dalam orasinya, Handewi menunjukkan adanya ketidakselarasan antara ketersediaan pangan yang cukup secara nasional dan belum tercapainya beberapa indikator ketahanan pangan dan gizi (KPG) menunjukkan pentingnya melakukan redisain kebijakan KPG.

“Perencanaan dan implementasi kebijakan KPG yang selama ini difokuskan pada sisi penyediaan dari produksi domestik (supply push approach) perlu direformulasi berdasar peta pola konsumsi pangan masyarakat berbasis potensi pangan lokal untuk penyediaan pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman-B2SA (demand driven approach),” katanya.

Handewi menyimpulkan bahwa dengan melaksanakan redisain kebijakan KPG melalui penyediaan pangan berbasis dinamika pola konsumsi masyarakat diyakini dapat mengakselerasi tercapainya pembangunan KPG secara berkelanjutan.

Prof. Bambang dalam orasi berjudul “Inovasi Varietas Unggul Tanaman Serat Mendukung Agroindustri Berbasis Serat Alam” menyampaikan bahwa keadaan dunia saat ini sudah sangat tercemar oleh limbah berbagai produk sintetik khususnya plastik dan gas karbondioksida (CO2), yang merupakan salah satu kontributor utama pemanasan global.

“Pemanfaatan tanaman serat untuk berbagai produk agroindustri berbasis serat alam dapat menjadi solusi terhadap isu kerusakan lingkungan serta ketergantungan Indonesia terhadap serat impor,” kata Bambang.

Saat ini sudah tersedia varietas unggul lima komoditas serat alam potensial, yaitu 23 VUB kapas putih dan 3 VUB kapas warna, 13 VUB kenaf, 1 VUB rami, 4 VUB abaka dan 4 VUB kapuk, dengan produktivitas tinggi dan mutu yang diterima agroindustri serta adaptif terhadap cekaman biotik dan abiotik.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Satoto menyampaikan orasi berjudul “Inovasi Teknologi Pengembangan Varietas Unggul Padi Hibrida untuk Meningkatkan Produktivitas Padi dan Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan”. Menurut Satoto, produktivitas padi di Indonesia sudah sulit ditingkatkan hanya dengan mengandalkan varietas padi sawah inbrida yang ada sekarang.

Satoto menawarkan satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas padi dan mendukung swasembada beras berkelanjutan yaitu dengan memanfaatkan gejala heterosis melalui pengembangan padi hibrida. Di awal pengembangan mulai dicoba varietas unggul hibrida (VUH) introduksi, tetapi ternyata tidak tahan terhadap hama dan penyakit padi di tropis. Tahun 2006, Ia mulai melakukan perakitan VUH berbasis plasma nutfah nasional dan menghasilkan 17 VUH dan 12 di antaranya telah menjadi inovasi melalui lisensi.

“Ke depan perakitan padi hibrida akan difokuskan pada peningkatan produktivitas melalui perakitan padi hibrida inter-subspesies dan inisiasi metode dua galur di lahan irigasi, tadah hujan, dan lahan kering yang potensinya sekitar 4 juta hektare,” katanya.

Ia berharap pengembangan VUH menjadi pilihan yang kuat untuk mendukung swasembada beras berkelanjutan dan berkontribusi dalam peningkatan pendapatan petani, baik petani budidaya PH maupun petani penangkar benih F1 hibrida.

Sementara Prof. Jacob Nulik dalam orasi berjudul “Inovasi Teknologi Hijauan Pakan Berbasis Legum di Lahan Kering Iklim Kering Mendukung Pengembangan Ternak Sapi Nasional” menyampaikan bahwa kebutuhan daging nasional terus meningkat setiap tahun. Namun pasokan dari dalam negeri baru bisa memenuhi 60-65% dari kebutuhan dan 90% berasal dari petani peternak kecil dengan modal terbatas dan produktivitas ternak sapi yang masih rendah.

“Untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi petani kecil direkomendasikan inovasi teknologi Hijauan Pakan Ternak (HPT) Berbasis Legum, yang sangat mungkin dilakukan oleh petani kecil dengan modal terbatas. Inovasi teknologi HPT Berbasis Legum menyediakan pakan murah berkualitas tinggi,” ungkapnya.

Inovasi HPT Berbasis Legum meliputi uji adaptasi, budidaya, produksi benih dan pasca panen untuk menyediakan pakan berkualitas tinggi bagi peningkatan produktivitas ternak sapi. Pengembangan dan pemanfaatan HPT berbasis legum di lahan kering iklim kering mampu meningkatkan kapasitas tampung ternak sapi dari 2-3 ekor menjadi 4-6 ekor per hektare dan menekan angka kematian anak sapi Bali hingga dibawah 4%.

Menurutnya, jika inovasi teknologi HPT berbasis legum ini dapat diterapkan dengan baik secara meluas di wilayah kering iklim kering, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) maka ini akan mampu mendukung peningkatan populasi ternak sapi.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam sambutan yang dibacakan Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry mengapresiasi gagasan keempat profesor baru ini. Mentan menilai konsep pemikiran yang dirumuskan keempat professor baru ini selaras dengan upaya mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern (3M).

Mentan Syahrul berharap keempat profesor riset dan para peneliti lainnya untuk terus aktif berkontribusi pada perencanaan program dan kebijakan serta implementasi pembangunan pertanian di Indonesia.

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software