EMBUNG WISATA

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 07/11/2018

Telaga di langit, berburu senja, embung terindah, itulah aneka semboyan agrowisata. Kalau kita memasukkan kata kunci waduk geo-membrane, muncul bermacam keindahan.  Kita segera diajak menikmati lima embung yang wajib dikunjungi di Yogyakarta. Sriten Reservoir, Nglanggeran, Kleco, Banjaroya, dan Tambakboyo. Boleh juga Waduk Sermo seluas 157 hektare yang menyediakan perahu.

Eka Budianta

Atau Embung Kledung di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, yang memantulkan Gunung Fujinya Indonesia.  Pendeknya, wisata kolam di puncak bukit atau menunggu matahari di tepi danau, menjadi andalan piknik ke sarana pertanian. Itulah keindahan yang menjanjikan pada musim kemarau. Contohnya ketika berkunjung ke Embung Banjaroya di Kalibawang.  Ada patung duren besar di tangga naiknya.

Biaya embung

Embung Banjaroya diresmikan Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 2013. Tempat parkirnya luas, tiketnya murah.  Dan… penjual buah-buahan di sekitarnya, terutama durian! Sungguh menyenangkan. Embung atau reservoir adalah sarana ampuh untuk agrikultur dan hortikultura.  Budi Dharmawan yang memimpin perkebunan buah di Bawen dan Kendal, Jawa Tengah, memberi contoh yang sukses.

Menutup tahun 2018 yang hangat ini, dia panen raya di berbagai desa binaan. Setiap desa yang membangun embung lima tahun silam, mulai memetik buahnya. Prinsipnya sederhana. Setiap 25 hektare kebun, disiapkan danau buatan seluas satu hektare.  “Bagaimana buah-buahan bisa berproduksi kalau tidak ada air?”  Embung ibarat sarana jalan tol dalam laju pembangunan hortikultura.

Dengan modal air yang cukup, pepaya, jeruk, durian, srikaya, lengkeng, dan buah-naga silih berganti panen sepanjang tahun.  Tidak heran kalau teman-teman di Flores, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat ingin mempunyai embung. Bahkan Provinsi Jawa Timur pun mengumumkan akan menambah 320 embung baru pada 2018. Aktivis embung, Pratomo, sudah membuat 68 telaga buatan.

“Yang paling kecil, volume seribu meter kubik. Cukup untuk mengairi dua hektare yang ditumbuhi 400 pohon lengkeng, durian, atau buah-buah multimusim lainnya.  Dengan 1.000 meter kubik itu, berarti menampung satu juta liter air. Biayanya dibanderol Rp100 juta. Seorang teman di Konga, Flores, berkata, “Seratus juta rupiah itu masuk akal.  Apa lagi kalau bisa berdaya-guna selama 30 tahun.”

Keberhasilan program embung di Jawa dan Bali, sudah saatnya ditularkan ke daerah-daerah rawan air di seluruh kampung halaman. Namun, yang ideal disarankan 10.000 m3 dengan ongkos Rp1 miliar.  Nah! Itu yang dirasa terlalu berat untuk tingkat dusun atau kelurahan sekalipun.  Padahal daya fungsinya baru 20—30 hektare.  Sama seperti Embung Banjaroya di Kalibawang yang terkenal dengan sebutan Waduk Mini.

Dengan ukuran sekitar 80 m x 60 m dan kedalaman sekitar 3 meter setiap tahun mengalirkan hampir 15 juta liter untuk sekitar 30 hektare perkebunan. Meskipun mahal pembuatannya, penghasilan embung sebagai sarana wisata tampak lumayan juga.  Karcis masuk Rp7.000 per orang.  Ongkos parkir mobil Rp3.000.  Ditambah lagi dengan retribusi dari penjual jajan, gorengan, bakso, mi, rebusan, buah-buahan dan aneka mainan anak-anak.

Jadi agrowisata dijadikan sarana mendukung pertanian dan perkebunan. Memang tidak selalu untuk pertanian.  Bisa juga untuk industri dan transportasi.  Contohnya adalah Embung Langensari di kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman,  Yogyakarta. Kapasitas tampungnya 9.780 m³, luas 5.890 m² dengan kedalaman 2—3 m. Embung itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan air Stasiun Lempuyangan.

Embung Nglanggeran di Gunungkidul, Yogyakarta, menjadi objek wisata sekaligus sumber pengairan beragam komoditas buah-buahan.

Pembangunan Langensari sekaligus juga untuk menampung luapan panjir Sungai Belik pada musim hujan. Jadi pada awalnya, air sangat diperlukan untuk kereta api.  Terutama ketika masih dijalankan dengan mesin uap. Seratus tahun lalu, kereta api perlu air banyak sekali.  Oleh karena itu, Langensari termasuk embung paling tua yang dibangun untuk industri. Sekarang menjadi taman rekreasi yang menyehatkan warga.

Geosintetis

Sekarang kebutuhan embung makin meningkat.  Bukan hanya untuk perkebunan, tetapi juga untuk pemadam kebakaran dan penanggulangan banjir.  Banyak rumah adat di Sumatera dan Nusa Tenggara hangus terbakar karena tidak siap dengan sarana pemadam kebakaran.  Oleh karena itu, cadangan air harus dijadikan kebutuhan dan harus diadakan.  Pelajaran dari leluhur pun begitu.  Berdirinya sebuah perkampungan diawali dengan pengelolaan air sebagai sumber kehidupan.

Munculnya embung-embung baru membuktikan hal itu.  Dari embung yang menjadi sarana wisata, muncul berbagai produk kesenian.  Mulai dari seni fotografi, seni musik, tari, bahkan seni sastra.  Jangan heran kalau melihat pembacaan puisi diadakan di tepi embung.  Dahulu embung wisata buka dari pukul 05.00 hingga pukul 18.00 petang.  Sekarang beberapa embung sudah terbuka penuh 24 jam.  Bila mulai gelap, embung berhias lampu warna-warni.

Masalahnya tentu bagaimana membuat embung yang indah, awet, berdaya-guna optimal.  Produk-produk geosintetis tersedia di mana-mana.  Ada geomembran, geotekstil, dan beraneka macam geogrid yang dirancang untuk memperbaiki struktur tanah.  Pemakaiannya pun bermacam-macam.  Mulai dari penangkal intrusi dan peracunan di pembuangan sampah, pencegah longsor, sampai penampung air hujan dan tambak garam.

Kita sering membaca waduk tradisional menjadi kering bila musim kemarau berkepanjangan.  Maka sudah saatnya, teknologi berperan.  Sistem pertanian pun perlu berkenalan dengan precicion agriculture,  agrikultur dengan presisi – menghitung pemakaian air dengan cermat.  Contonya dilakukan oleh Negeri Belanda dan Israel. Berkat perhitungan yang matang, mereka bisa menjadi eksportir produk pertanian yang besar.

Pengelolaan air adalah kunci kemakmuran dan sukses pertanian. Lebih dari itu, semua embung dan telaga buatan, bukan hanya menjadi sumber ekonomi dan rekreasi, tapi juga sumber ilmu pengetahuan.  Ada ilmu limnologi yang mendalami tanah, kolam, dan air tawar menggenang lain beserta biota yang terkait dengannya serta ilmu air – hidrologi yang selalu harus dikembangkan. ***

*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang

Tags: , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software