Emas Mini Negeri Ginseng

Filed in Buah by on 31/05/2011

 

Kinanti, berdaging jingga dengan tingkat kemanisan hingga 130 brixKim yang ditemui di stan Korea Food Trade Association (KOFTA) pada acara Food & Hotel Indonesia 2011 di Kemayoran, Jakarta Pusat, menyebutnya melon cham woi.  Sosok cham woi tak seperti melon yang kerap dijumpai di pasar swalayan atau toko-toko buah di tanahair. Bobotnya hanya 300 g per buah. Melon di pasaran berbobot hingga lebih dari 1,5 kg.

Warna buah pun sangat atraktif: kuning terang kombinasi alur putih. Keruan saja kehadiran cham woi jadi pusat perhatian pengunjung pameran. Sosok atraktif itu diimbangi dengan citarasa buah enak. Daging buah berwarna putih terasa renyah, mirip tekstur pir. Rasanya sangat manis dengan kadar kemanisan mencapai 130 brix. Dengan keistimewaan itu di Korea Selatan cham woi dijajakan seharga Rp150.000 per dus berisi 6 buah berbobot total 2 kg.

Melon kota

Sayangnya sensasi menikmati cham woi baru sebatas di ajang pameran saja. Di tanahair melon eksotis Negeri Ginseng itu belum ada yang membudidayakan. Di luar Korea Selatan cham woi sudah ditanam di Inggris dan Kanada. Pekebun di kawasan Ontario, Kanada, misalnya juga mengolah oriental melon menjadi wine selain untuk buah segar. Wine cham woi memiliki citarasa yang khas sehingga disukai para penikmat minuman beralkohol itu.

Menurut Tatang Halim, pemilik toko buah di Jakarta Utara, melon mini seperti cham woi bakal disukai masyarakat perkotaan yang cenderung terdiri dari keluarga kecil: ayah, ibu, dan 2 anak. Konsumen seperti itu kerapkali menghendaki buah yang langsung tandas sekali santap. “Bila ukuran buah terlalu besar, banyak yang tersisa dan akhirnya dibuang karena tak lagi segar,” katanya.

Zoilus Sitepu,  manajer fresh product di salah satu gerai Hypermart di Jakarta Barat, menuturkan konsumen buah khas seperti cham woi umumnya memiliki  product knowledge yang baik. Artinya, saat membeli meraka tahu betul keistimewaan buah, seperti rasa lebih manis atau memiliki kandungan gizi tinggi sehingga baik bagi kesehatan. “Konsumen seperti itu biasanya tidak memperhitungkan harga. Walaupun lebih mahal pasti dibeli,” kata Zoilus.

Warna yang atraktif juga menjadi daya tarik konsumen untuk membeli. Pada tahap perkenalan produk, warna dan sosok buah biasanya menjadi andalan untuk menarik minat pembeli karena membangkitkan rasa penasaran. “Namun, tetap harus disertai kualitas yang baik. Artinya, setelah konsumen membeli dan merasakan untuk pertama kali, ia akan mempertimbangkan untuk membeli ulang,” ujar Tatang.

Contohnya pada melon golden alias berkulit kuning seperti emas. Saat pertama kali diperkenalkan pada 1990-an, ia langsung menyita perhatian konsumen karena berwarna kuning mentereng dan berkulit halus. Penampilan itu sangat kontras dengan melon yang lazim beredar di pasaran yang berwarna hijau muda kekuningan dengan tekstur kulit yang kasar. Ia juga sukses menaklukkan hati konsumen karena memiliki keunggulan rasa yang unik: renyah dan manis hingga 120 brix.

Pasar besar

Hingga kini melon golden tetap diburu konsumen sehingga permintaan pasarnya besar. Contohnya dialami Ade Dwi Adedi, ketua Ikatan Petani Melon Cilegon (IPMC), Banten, beranggotakan 200 petani. “Dengan kapasitas produksi mencapai 35 ton per minggu, kami baru bisa memenuhi 30% permintaan pasar,” kata Ade yang mengembangkan melon golden jenis apollo untuk 3 perusahaan besar. Jenis itu berkulit kuning terang mulus dengan daging putih. Sosok buah berbobot 1,5 – 2 kg itu bulat memanjang. Mirip dengan melon golden kinanti yang sama-sama berkulit kuning tapi daging jingga.

Yang disebut terakhir antara lain dikembangkan oleh Ibana – anak perusahaan PT Cengkeh Zanzibar yang bermitra dengan pekebun di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sama seperti IPMC, Ibana juga belum bisa memenuhi seluruh permintaan pasar. Beberapa tahun ke depan boleh jadi si emas mini dari Korea Selatan ikut meramaikan pasar. (Imam Wiguna)

 

Powered by WishList Member - Membership Software