Efek Ganda Pupuk Organik

Filed in Fokus by on 05/10/2010 0 Comments

Itulah sebabnya kebutuhan pupuk pun cenderung melonjak. Dalam satu penanaman, petani padi rata-rata memerlukan 400 kg Urea per ha. Pada 1970-an ketika kandungan organik di lahan masih tinggi (5%), petani cukup menggunakan 200 kg Urea per ha. Menurut Prof Dr Didik Indradewa, ahli fisiologi tumbuhan dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta agar pemberian pupuk anorganik optimal kandungan bahan organik dalam tanah idealnya 5%.

‘Bahan organik mengandung koloid yang bisa menahan pupuk anorganik agar tidak terlindi (tercuci, red) di dalam tanah,’ ujar Didik. Makin tipis bahan organik, kian banyak pupuk anorganik yang harus ditambahkan akibat makin banyak yang tercuci. Pupuk organik memiliki keunggulan karena kandungan hara lengkap. ‘Tanaman setidaknya membutuhkan 13 macam unsur makro dan mikro untuk pertumbuhannya. Itulah yang dimiliki pupuk organik,’ kata Didik.

Kombinasi

Kandungan unsur makro dalam pupuk organik relatif kecil. Itulah sebabnya untuk memenuhi kebutuhan tanaman, pekebun membutuhkan jumlah sangat besar. Contoh, 1 kg Urea mengandung 46% nitrogen. Artinya, jika pekebun memerlukan 200 kg Urea, maka kandungan nitrogen 92 kg. Untuk memperoleh kadar nitrogen yang sama, pekebun organik memerlukan 9.200 kg alias 9,2 ton pupuk organik.

Sebab, dalam 1 kg pupuk organik hanya terkandung 1 – 2% nitrogen. Oleh sebab itu jika pekebun mengganti pupuk anorganik menjadi organik, biasanya produksi anjlok. ‘Tetapi jika keduanya dikombinasikan, hasilnya justru lebih bagus,’ ujar Dr Diah Setyorini, peneliti kesuburan tanah dan pemupukan di Balai Penelitian Tanah, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Ir Sudaryanto, pengelola harian Pusat Pengembangan Pertanian Organik Bina Sarana Bakti (BSB), Kabupaten Bogor, tanaman lazimnya langsung menyerap pupuk anorganik. Wajar bila tanaman cenderung lebih subur dan lebih cepat tumbuh. Produktivitas tanaman pun lebih tinggi. Itu jika kondisi tanah di tempat budidaya masih sehat. Sehat berarti aerasi, kelembapan, porositas, dan faktor pendukung pertumbuhan tanaman lain masih bagus.

Sebaliknya tanaman menyerap pupuk organik secara perlahan-lahan. Meski kerja pupuk organik relatif lambat, tetapi lebih menyehatkan bagi tanaman dan lingkungan. ‘Terkadang pupuk yang diaplikasikan sekarang baru berdampak pada musim tanam berikutnya,’ ujar Sudaryanto. Itu karena mikroorganisme perlu waktu untuk mengurai pupuk organik. Oleh karena itu idealnya pekebun mengomposkan pupuk organik sebelum pemupukan.

Pengomposan bertujuan untuk mendekomposisi bahan pupuk organik agar lebih mudah terurai di dalam tanah. Makin keras bahan pupuk, makin lama pula proses dekomposisi. Cacahan batang pisang, misalnya, perlu 4 – 5 bulan untuk terdekomposisi dengan baik. Sementara bahan-bahan lunak seperti dedaunan lebih cepat membusuk. Untuk mempercepat proses dekomposisi bisa dengan cara mekanis seperti mencacah bahan, menambah mikroorganisme tertentu (biologis), dan pemberian air (kimiawi). Jika bahan matang alias terdekomposisi sempurna, pekebun siap memberikan pupuk ke lahan.

Gembur

Menurut Diah pemberian pupuk organik yang belum matang ke tanaman mengakibatkan proses dekomposisi terjadi di dalam tanah. ‘Akibatnya panas yang dihasilkan melalui proses penguraian itu justru mematikan tanaman masih muda,’ kata Diah. Selain itu, saat proses dekomposisi terjadi perebutan unsur nitrogen antara mikroba yang mengomposkan dengan tanaman yang dipupuk. Itu menyebabkan tanaman kekurangan nitrogen dan berwarna kuning.

‘Kelebihan lain pupuk organik, akar tanaman jadi lebih mudah menyerap air dan hara,’ ujar Didik. Itu karena pupuk organik memberi makan kepada mikroba dalam tanah. Aktivitas mikroba itu membuat tanah gembur sehingga aerasi dan porositas tanah pun bagus. Akar tanaman bisa tumbuh leluasa dan menembus tanah dengan mudah. Akibatnya proses penyerapan air dan hara lebih lancar. Selain itu, beberapa jenis mikroba juga menghasilkan hormon pertumbuhan yang dibutuhkan tanaman.

Pada tanaman yang hanya dipupuk anorganik, perakaran cenderung pendek tetapi tanaman ‘gemuk’ sehingga mudah roboh. Pupuk anorganik tidak mengandung unsur silika yang berfungsi mengeraskan dinding sel batang tanaman. Dampaknya tanaman lebih mudah terserang hama dan penyakit. Bahan baku pupuk organik yang berbeda mengindikasikan kandungan hara juga berbeda. Kadar nitrogen pupuk organik berbahan kotoran ayam, misalnya, paling tinggi dibanding kotoran ternak lain. Sama halnya pupuk berbahan daun hijau, juga kaya kandungan nitrogen.

Pupuk organik kotoran kambing mengandung nitrogen rendah, tetapi fosfor dan kalium tinggi. Begitu juga pupuk berbahan daun kering dan gedebong alias batang pisang. Ketiganya cocok untuk wortel. Sementara pupuk organik asal jerami mengandungan nitrogen sedang; silika dan kalium tinggi. Pupuk itu cocok untuk kedelai, kacang polong, dan tanaman kacang-kacangan lain. Menurut Diah untuk menyempurnakan kandungan hara pupuk organik, sebaiknya dilakukan pencampuran berbagai bahan baku dengan formulasi tertentu.(Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software