Duriannya Disetek Saja

Filed in Buah by on 31/12/2010 0 Comments

 

Setek pucuk durian, umur 1,5 bulan mulai mengeluarkan akarEko, penangkar buah di Banyuwangi, Jawa Timur, melakukannya dengan menyetek setiap pucuk ranting, bukan hanya pucuk paling ujung. Padahal lazimnya durian diperbanyak dengan okulasi dan sambung pucuk. Pantas produksi bibit durian Eko jauh lebih massal.

Okulasi hanya bisa memanfaatkan mata tunas terpilih di ranting dan cabang. ‘Hanya mata tunas dari ranting yang masih hijau dan agak kecokelatan yang cocok untuk okulasi. Tunas dari ranting yang sudah cokelat sulit untuk menjadi entres,’ kata Eddy Soesanto, dari nurseri Tebuwulung di Jakarta Timur. Sambung pucuk butuh entres pucuk ranting. Oleh karenanya jumlahnya terbatas. Dua teknik itu juga bergantung pada ketersediaan batang bawah.

Pada setek pucuk, seluruh ranting muda dipotong-potong menjadi setek sepanjang 5 cm. Sisakan 1 daun pada tiap setek. ‘Dengan setek pucuk, perbanyakan bisa dilakukan kapan saja tanpa menunggu kesiapan batang bawah,’ kata Eko.

Adopsi akasia

Teknik itu pertama kali ia lakukan pada Agustus 2010 untuk memperbanyak durian merah. Eko kebingungan menggandakan secara massal karena pohon induknya hanya 1. ‘Saya coba okulasi dan sambung pucuk tapi kegagalan mencapai 50%. Itu karena durian merah kurang kompatibel dengan durian lain,’ tutur pemilik nurseri Agromart itu. Hasilnya dalam 3 bulan cuma mendapat 300 bibit.

Ide muncul saat Eko melihat banyak ranting tersisa dari perbanyakan okulasi dan sambung pucuk. Ranting sisa ia tanam dalam media moss dan disungkup. Ia terinspirasi setek pucuk akasia saat magang di nurseri perkayuan di Medan pada 1993.

Pucuk lantas direndam di dalam zat perangsang tumbuh auksin selama 2 menit. Lalu ditanam pada media moss dan disungkup. Dugaan Eko benar. Setelah 1,5 bulan, pucuk ranting mulai berakar. Saat Trubus berkunjung ke kediamannya pada September 2010, terlihat setek ranting yang panjangnya hanya 5 cm memunculkan akar sepanjang 5 cm.

Bibit hasil setekan dipindah ke polibag 2 bulan pascasetek. Saat itu bibit yang tingginya 10 cm dengan diameter batang sebesar lidi memiliki 4 daun yang segar. Saat bibit dicabut dari media, akar terlihat lebat dan vigor meski belum memiliki akar tunggang.

Akar tunggang

Menurut Ir Edhi Sandra MSi, staf pengajar di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor perbanyakan durian dengan setek pucuk belum populer dilakukan penangkar. Cara itu lebih lazim dipakai di dunia kehutanan untuk perbanyakan tanaman kayu, misal akasia, jati, mahoni, dan pinus. ‘Dengan setek pucuk, produksi bibit sangat massal dan tidak tergantung musim panen biji. Pembibit buah bisa mengadopsinya,’ tutur Edhi Sandra.

Di Jepang setek pucuk populer digunakan untuk perbanyakan tanaman buah seperti kesemek, jeruk atau anggur. Penangkar di tanahair jarang melakukan karena beranggapan tanaman hasil setek tak memiliki akar tunggang yang dibutuhkan untuk menopang tanaman saat dewasa. ‘Padahal tidak perlu khawatir, akar tanaman asal setek pucuk akan berkembang sesuai dengan pertumbuhan batang,’ kata Edhi. Lagipula penangkar bisa menciptakan akar tunggang buatan (baca: Cetak Akar Tunjang Buatan).

Setek pucuk pun kurang populer karena dianggap butuh teknologi tinggi. Misal dulu zat perangsang tumbuh sulit diakses karena harus impor. Saat ini zat pengatur tumbuh sudah dijual bebas di pasaran. Jadi sekarang, jangan buang ranting sisa okulasi atau sambung pucuk. Setek saja, bibit pun jadi. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Destika Cahyana)

 

Powered by WishList Member - Membership Software