Durian Perwira di Alas Amarta

Filed in Buah by on 01/04/2010 0 Comments

Delapan belas tahun silam Iding membabat alang-alang dan menanam 76 perwira. Mereka ditanam di lahan 0,5 ha dengan jarak tanam 8 m x 8 m. Lima tahun belakangan pria berusia 52 tahun itu menambah populasi hingga 1.276 pohon di lahan 10 ha. “Saya tambah populasi karena terbukti pada umur 6 tahun berbuah dengan kualitas istimewa,” kata Iding.

Pada umur 6 tahun Iding memanen 150 butir perwira dari 76 tanaman. Produksi menjadi 3.500 buitr pada umur 15 tahun. “Setiap tanaman rata-rata menghasilkan 50 butir,” kata Iding. Bibit semuanya berasal dari perbanyakan sendiri dengan mata entres dari pohon induk berumur 200 tahun.

Menurut Ir Hamzah Basah dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, durian perwira ditetapkan sebagai durian unggul karena rasanya manis, daging tebal, dan warnanya kuning menggoda. Dulu ia menjadi durian favorit para perwira TNI di Majalengka dan Cirebon yang hobi menyantap durian. “Sejak muncul di pentas nasional, perwira menjadi kebanggaan Majalengka. Harganya pun di atas durian lain,” kata Iding. Sebutir perwira harganya Rp35.000. Sementara durian lain di Majalengka paling mahal Rp25.000.

Luar biasa

Menurut Dr Ir Yusdar Hilman MS, kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Kementerian Pertanian RI, kebun durian yang dibuka Iding luar biasa. Mafhum walau Indonesia sohor sebagai gudang durian enak, hanya sedikit yang mengebunkan 1 varietas durian unggul secara massal. Yang terjadi, banyak pohon induk durian unggul lokal tumbuh merana dan mati sebelum sempat diperbanyak. Mereka akhirnya hanya menjadi legenda.

Terlebih ada anggapan durian unggul lokal rasanya berbeda bila diperbanyak dan dikembangkan secara massal. “Itu karena durian spesifik lokasi. Belum tentu durian enak di suatu daerah cocok ditanam di daerah lain,” kata Bernard Sadhani, pekebun durian di Jawa Barat. Contohnya durian sukun (Karanganyar, Jawa Tengah), sunan (Boyolali, Jawa Tengah), dan petruk (Jepara, Jawa Tengah) yang ditanam di kebun Bernard Sadhani di Cianjur dan Bogor, rasanya tak senikmat buah dari pohon induk.

Toh, bukan berarti durian unggul lokal tak layak dikembangkan. Ia bisa sekualitas induknya, asal, “Pilih varietas unggul lokal setempat dan tanam di daerah tersebut,” kata Dr Ir Winny Dian Wibawa MSc direktur Buah Direktorat Hortikultura, Kementerian Pertanian RI. Itu karena habitat tumbuhnya sama dengan pohon induk. Iklim, tanah, bahkan durian lokal yang cocok untuk penyerbukan pun sama dengan induknya.

Intensif

Trubus berkesempatan menyambangi kebun Iding awal Januari 2010. Di sana jejeran pohon setinggi 6 meter dengan bentang tajuk 5 meter menyambut pengunjung yang datang. Kebun berjarak 1 km dari Jalan Raya Rajagaluh—Cirebon itu digelayuti buah berbobot 2,3—2,5 kg. Menurut Iding, tanaman berbuah cepat karena dirawat intensif sejak awal.

Mula-mula Iding membuat lubang tanam ukuran 1 m x 1 m x 1 m. Selanjutnya setiap lubang diberi pupuk kandang sebanyak 30 kg per lubang. Menurut Ir Bambang Setyadji MT, ahli tanah dari Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, penambahan bahan organik berperan memperbaiki kondisi fisik, kimia, dan biologis tanah.

Iding juga mencegah rayap—yang kerap menyerang bibit—dengan menaburkan insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 100 g per lubang. Berikutnya antirayap itu diberikan setahun sekali dengan dosis 50 g per pohon. Lubang itu lalu dibiarkan selama 10—14 hari sebelum bibit berumur 1 tahun setinggi 1 m ditanam. Iding lalu membenamkan pupuk NPK dengan dosis 100 g per tanaman.

Perawatan pascatanam diberikan 2 tahun sekali. Pertama menjelang musim hujan, biasanya Oktober—November, dan akhir musim penghujan pada Maret—April. Menurut Iding seiring bertambah umur, dosis pupuk kandang dan NPK ditingkatkan. “Setiap tahun pupuk kandang ditambah 10 kg, dan NPK 200 g per tanaman,” tutur Iding. Contohnya perwira berumur 17 tahun membutuhkan 60 kg pupuk kandang dan 1/2 kg NPK setiap kali pemupukan.

Manis-pahit

Yang juga penting pembentukan tajuk dengan pemangkasan cabang. Pembentukan dimulai saat perwira menginjak umur 3—5 tahun. Caranya cabang diikat ke patok besi yang ditancapkan di tanah. “Untuk mencegah lecet pada kulit batang durian, tali rafia dilapisi daun,” ungkap Iding.

Menurut Iding kondisi kebun yang berkemiringan di atas 300 menguntungkan untuk budidaya durian. Itu memudahkan air hujan mengalir dan tak menggenangi perakaran. Prof Dr Ir Aos M Akhyar dari Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung mengatakan air yang menggenang membuat rasa durian hambar. Lahan itu mengingatkan pada kebun-kebun durian di Pulau Pinang, Malaysia, yang ditanam di lahan miring dan berbatu. “Rasa buah tetap stabil meski buah matang dipetik setelah hujan,” kata Teik Seng Chang pemilik kebun durian di Malaysia yang disambangi Trubus.

Perwira biasanya berbunga Oktober dan dipanen Januari—Februari. Saat itu dari 50% populasi perwira berbunga. Tanpa pengaturan pembuahan, durian berbunga secara berselingan. “Tahun ini berbunga, tahun depan tidak,” ungkap pria kelahiran Majalengka itu. Makanya panen raya biasanya terjadi setiap 2 tahun.

Meski berasal dari pohon muda rasa perwira manis menggoyang lidah dengan sedikit pahit di ujung. Itulah yang dirasakan Trubus begitu mencomot perwira berwarna kuning dadu yang disodorkan Iding. Tak heran rasa perwira itu menjadi incaran mania durian. Contohnya Seno Munadji yang rela jauh-jauh dari Cirebon yang berjarak 45 km untuk mencicipi kelezatan perwira. Tiap hari, ketika musim panen, Iding memanen 15—20 butir durian yang seluruhnya ludes diserbu pembeli.

Belakangan Iding membidik durian unggul lokal lain: bokor asal Kecamatan Sukahaji dan siriwig asli Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Keduanya ditanam masing-masing 100 pohon berumur 1 tahun. “Itu sebagai usaha agar durian unggul lokal Majelangka tetap lestari,” ungkap Iding. Kegigihan Iding membuka lahan untuk kebun durian layaknya Bima ketika membabat alas Amarta. (Faiz Yajri)

 

Keterangan foto

  1. Bobot perwira berkisar 2,3—2,5 kg per buah. Dulu disukai para perwira TNI di Cirebon dan Majalengka
  2. Perwira biasanya dipanen pukul 14.00—15.00. Selanjutnya buah diperam selama 1 hari sebelum dijual. Tujuannya untuk memunculkan rasa pahit akibat fermentasi alkohol
 

Powered by WishList Member - Membership Software