Durian Merah Persembahan Raja

Filed in Buah by on 01/10/2009 0 Comments

 

Dua durian berdaging merah kiriman Lutfi Bansir dari Bulungan, Kalimantan Timur, itu berbeda dengan durian merah yang lazim dikenal selama ini. Durian merah yang populer ialah durian anggang Durio graveolens dan lahong Durio dulcis. Yang disebut pertama berdaging merah atau jingga dan berkulit kuning sampai jingga. Ciri khasnya kulit buah terbelah saat matang di pohon. Sedangkan lahong berkulit merah, merah kecokelatan, hingga merah tua. Daging buah krem hingga kuning dan kulit buah tak terbelah meski buah masak telah jatuh dari pohon.

Durian anggang dicicip Evy Syariefa, wartawan Trubus, saat eksplorasi ke Kalimantan Timur pada awal 2002. Lai merah – sebutan durian anggang di Kalimantan Timur – ukurannya sedikit lebih besar dari bola takraw dengan bobot kurang dari 1 kg. Rasanya tak semanis durian D. zibethinus. ‘Manisnya mirip jambu air. Daging buah relatif tipis dan aroma lembut mirip aroma bawang putih,’ kata Greg.

Sebaliknya lahong beraroma sangat kuat mirip aroma aseton dengan rasa manis. Lahong tak disukai sebagian orang lantaran aroma yang menyengat dapat membuat pusing.

Turunan zibethinus

Durian daging merah asal Bulungan itu istimewa karena memiliki sifat gabungan antara D. graveolens dan D. zibethinus. Saat matang, warna kulit buah hijau kekuningan, sama seperti D. zibethinus. Bobot buah 1 – 2 kg, jelas lebih besar ketimbang D. graveolens. Aroma yang menguar juga aroma D. zibethinus. Begitu dicicip, daging berwarna merah menyala yang mirip D. graveolens itu pun menyimpan rasa dan tekstur mirip D. zibethinus: manis legit dan lembut.

Greg menduga durian merah itu silangan alam D. zibethinus dan D. graveolens. ‘Perkiraan saya ini turunan ke-2 (F2, red) lantaran sifat kulit buah dan biji didominasi D. zibethinus. Jika turunan pertama biasanya sifat D. graveolens lebih dominan,’ katanya. Greg mengaku pernah mencicip durian serupa bernama durian tenom beauty di Kinabalu, Sabah, Malaysia.

Untuk menguji pendapat Greg, kepada 2 pakar buah – Dr Ir Moh Reza Tirtawinata MS dari Taman Wisata Mekarsari dan Sobir PhD dari Puat Kajian Buah-buahan Tropika (PKBT), IPB – Trubus menyodorkan durian dari Lutfi. Keduanya sepakat, karakter buah durian dari Bulungan itu gabungan durian dengan durian anggang. ‘Agar lebih yakin mesti diamati batang, daun, dan bunga secara keseluruhan,’ kata Sobir.

Menurut Lutfi ciri fisik pohon durian merah yang berlokasi di Kabupaten Bulungan Raya itu mirip D. zibethinus daripada D. graveolens. Tinggi pohon 20 m dengan diameter batang 1,2 m. Pada awal Agustus 2009, terlihat 18 buah bergelantungan. Saat buah matang, tak ada satu pun yang kulitnya membuka meski telah jatuh. ‘Benar-benar mirip durian. Tekstur kulit batangnya kasar dengan warna cokelat keputihan persis D. zibethinus,’ kata Lutfi

Pohon itu ditemukan Lutfi setelah menempuh 6 jam perjalanan darat dari Kota Bulungan dan 2 jam perjalanan menyusuri sungai dengan ketinting – perahu kecil. Di sana hanya ada satu pohon durian merah yang bersanding dengan duku dan asam putar. Berjarak 30 meter dari situ, ada juga pohon D. zibethinus.

Dibawa hewan

Ukuran dan bentuk daun durian merah mirip daun D. zibethinus dengan panjang 19,5 cm dan lebar 5,8 cm. Berbeda dengan daun D. graveolens yang lebih membulat dengan panjang 10 – 26 cm dan lebar 4 – 10 cm. ‘Warna bunganya putih mirip bunga durian lokal kultivar berayut,’ kata peneliti dari Durian Research Centre, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang, itu.

Penelusuran Lutfi, sekitar 80 km dari lokasi durian merah itu tumbuh durian anggang. Reza menduga buah hasil penyerbukan dibawa manusia atau hewan ke lokasi durian merah itu. Bijinya lalu tumbuh menjadi individu baru.

Menurut Drs Tahan Uji, peneliti durian dari Herbarium Bogor, silangan alam itu bukan spesies baru. ‘Klaim spesies baru hanya bisa diberikan pada individu yang memiliki karakter baru yang tidak dimiliki individu lain. Individu dengan sifat intermediet (sifat antara atau perpaduan, red) tidak bisa diklaim sebagai spesies baru,’ tambahnya.

Silangan baru

Sejatinya perkawinan D. graveolens dan D. zibethinus tak hanya terjadi di alam. Greg sudah mencoba menggabungkan sifat kedua individu itu dengan menyilangkannya 22 tahun silam. Hasil silangan itu dapat dijumpai di Bogor di halaman belakang rumah Dr Ir L Agus Sukamto MSc – peneliti Herbarium, Bogor. Beruntung, awal Agustus lalu Trubus sempat mencicip buahnya. Buah berkulit kuning cerah, mirip D. graveolens. Warna daging buah sangat menarik, jingga cerah. Greg dan Agus menyebut hasil silangan itu sebagai tarian. <

Nama tarian dipilih merujuk pada kedua induknya: tapon – sebutan D. graveolens di Kalimantan Tengah – dan  durian. Tarian beraroma wangi lembut dan teksturnya pulen lantaran kadar air rendah. Meski tak semanis durian, tarian memiliki kadar gula lebih tinggi daripada D. graveolens. ‘Kemungkinan sifat itu akan semakin baik pada F2 atau turunan ke-2,’ kata Greg.

Munculnya durian-durian berwarna yang rasanya enak itu sejalan dengan program Direktorat Jenderal Hortikultura untuk mengembangkan durian multivarietas dari berbagai daerah. ‘Durian merah itu termasuk salah satu unggulan daerah sehingga harus segera dilepas sebagai varietas dan dikembangkan,’ kata Ir Nana Laksana Ranu MS, direktur Perbenihan dan Sarana Produksi Direktorat Jenderal Hortikultura.

Durian-durian unik itu pun disambut baik Lim Fie Min, pengelola Resto Duren Harum di Jakarta. ‘Secara visual menarik, apalagi bila rasanya lezat. Pasar tentu mudah menerima,’ ujar Lim. Selama ini durian berwarna tak masuk Jakarta karena  pasokan terbatas. Lim pernah meminta pasokan ke pengepul di Kalimantan tapi ditolak karena populasi sedikitMenurut Lutfi durian merah itu dulunya menjadi buah persembahan Raja Kerajaan Bulungan. Belakangan D. zibethinus x D. graveolens itu selalu habis diborong warga Malaysia yang tinggal tak jauh dari perbatasan. ‘Kita baru temukan karena akses jalan baru terbuka. Sebelumnya dipanen mania durian di negeri jiran,’ kata Lutfi.  (Nesia Artdiyasa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software