Durian Lokal Naik  Kelas

Filed in Buah, Majalah by on 05/08/2022

Pohon durian berumur 30 tahun tetap produkstif karena perawatan intensif.

TRUBUS – Kelompok Tani Garden Forest membawa bisnis durian ke level lebih  tinggi sehingga pekebun durian lebih sejahtera dengan menghasilkan durian berkualitas prima.

Harmadi rutin memanen minimal 200 durian lokal per hari saat panen raya pada Maret—April setiap tahun. Total jenderal Harmadi menuai 12.000 durian selama 2 bulan. Ia menjual durian seharga sekitar Rp30.000/kg. Bobot rata-rata durian 1 kg, sehingga ia beromzet Rp360 juta. “Berkebun dan berbisnis durian menguntungkan,” kata warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, itu. Harmadi hanya menjual durian lokal berkualitas prima.

Harmadi mengembangkan durian lokal Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sejak 2011.

Cirinya durian matang pohon dan tidak pecah. Lazimnya durian jatuh setelah masak sempurna. Itulah sebabnya untuk mencegah durian jatuh, Harmadi mengikat tangkai buah. Harap  mafhum, tinggi pohon durian belasan meter. Ia mengikat durian menggunakan tali 4 bulan setelah bunga mekar. Jika pengikatan lebih awal, tali berpotensi putus karena terpapar panas dan hujan. Harmadi kerap berkeliling kebun dan mencatat tanaman yang memiliki bunga mekar. Oleh sebab itulah ia mengetahui waktu tepat mengikat buah.

Perawatan baik

Setelah tangkai buah terlepas dari cabang, maka pekerja menurunkan durian setiap 2 hari pada pukul 05.00 saat panen raya. Selanjutnya Harmadi membersihkan durian menggunakan sapu lidi kecil agar tidak ada kotoran. Setelah itu, ia meletakkan durian hasil panen di rak bambu. Selama ini 60% hasil panen terjual secara daring, sedangkan 40% berupa penjualan langsung di kebun.  Ia memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran hasil panen.

Banyak warga asal Banyuwangi dan beberapa daerah di Indonesia seperti Balikpapan, Kalimantan Timur, yang  mengunjungi kebun Harmadi. Para pengunjung ingin menikmati sensasi menyantap durian di kebun langsung. Apalagi Harmadi menyediakan saung sederhana yang nyaman untuk mencicipi buah berduri itu. Beberapa pedagang langganan juga kerap membeli durian Harmadi. Pedagang durian premium kekinian di Jakarta pun menjadikan durian milik Harmadi sebagai salah satu sumber pasokan.

Semua itu membuktikan kualitas durian kepunyaan Harmadi memang jempolan. Ia menjamin betul durian miliknya berkualitas prima. “Kami memberikan garansi jika durian yang dibeli rusak atau busuk,” kata pria berumur 55 tahun itu.Tentu penggantian durian menyesuaikan syarat dan ketentuan yang berlaku. Dengan cara itu banyak konsumen yang menjadi langganan tetap. Menurut Harmadi kriteria durian keinginan konsumen antara lain berwarna kuning, manis, dan creamy.

Ada juga yang menyukai rasa agak pahit, terutama para maniak durian. Durian yang dijual Harmadi berasal dari kebun sendiri. Ia mengelola sekitar 140 jenis durian lokal di 3 kebun berbeda. Semua durian di kebun seluas 1,5 hektare itu termasuk lokal yang ditanam dari biji oleh ayah Harmadi pada 1980-an. Kebun durian itu tidak monokultur. Banyak tanaman lain seperti manggis dan petai yang menghuni kebun itu. Perawatan tanaman anggota famili Malvaceae itu relatif baik.

Harmadi memberikan 5 genggam NPK untuk tanaman yang selesai dipanen. Ia juga memberikan sekam di bawah tajuk tanaman. Untuk penyemprotan hama dan penyakit tanaman dilakukan saat ada serangan saja. Menurut Harmadi salah satu keunggulan durian di Songgon yakni bercita rasa manis dan pahit. Ia meyakini kekayaan rasa durian lokal Songgon salah satunya karena pengaruh uap Gunung Raung. Sejatinya Harmadi tidak hanya memajukan durian lokal di kebunnya saja.

Kelompok Tani

Ia juga mengajak warga sekitar pemilik pohon durian untuk menghasilkan produk berkualitas bagus. Alasannya produk bagus pasti dicari konsumen. Apalagi Kecamatan Songgon sohor sebagai sentra durian lokal enak sejak dahulu. Sayangnya beberapa oknum menjual durian dengan label durian asal Songgon. Padahal durian itu bukan berasal dari Songgon. Kejadian tentu merusak citra durian asal Songgon. Atas dasar itulah Harmadi membentuk Kelompok Tani Garden Forest  yang bertujuan menginformasikan kepada khalayak durian asal Songgon yang unggul.

Durian matang pohon siap dikirim ke konsumen di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu juga meningkatkan kualitas durian Songgon. “Semula tidak berorientasi bisnis. Saya hanya ingin menginformasikan durian asal Songgon yang berkualitas bagus,” kata  Harmadi yang menjabat sebagai ketua Kelompok Tani Garden Forest. Saat ini anggota kelompok tani yang berdiri pada 2014 itu sekitar 30 orang di Kecamatan Songgon. Populasi tanaman mencapai sekitar 15.000 tanaman. Penjualan durian milik anggota kelompok tani melalui Harmadi.

Pembelian dan penjualan durian dalam Kelompok Tani Garden Forest transparan dan menguntungkan semua pihak. Harmadi mengatakan syarat menjadi anggota kelompok yakni mau dan tekun. Bahkan orang yang belum memiliki tanaman durian pun bisa menjadi anggota. Yang penting semangat memajukan durian. Lama kelamaan pasti orang itu memiliki tanaman durian meski sedikit. Keberadaan Kelompok Tani Garden Forest terbukti memajukan bisnis durian di Kecamatan Songgon.

Kini para pemilik tanaman durian memasarkan hasil panen kepada Harmadi dengan harga yang layak. Sebelumnya mereka menjual durian kepada para penebas yang membeli buah itu secara borongan dalam satu tanaman. Para penebas memprediksi jumlah buah dalam satu tanaman lalu menentukan harga dengan pemilik tanaman. Sebelumnya durian dijual per buah, kini per kilogram. Harga durian pun lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum adanya kelompok tani.

Tentu itu meningkatkan pendapatan masyarakat. Harmadi mengatakan, penebas membayar sekitar Rp1 juta untuk 1 tanaman durian. Padahal jika dijual per butir pada Kelompok Tani Garden Forest, pemilik tanaman bisa memperoleh penghasilan Rp3 juta per tanaman. Jadi, lebih menguntungkan menjual durian ke kelompok tani. Dengan kata lain kehadiran Kelompok Tani Garden Forest membuka mata para pemilik tanaman durian.

Masyarakat mencibir

Mereka bisa mendapatkan untung lebih banyak dengan menghasilkan durian berkualitas yang dijual pada kelompok tani. Keberhasilan Harmadi menaikkan pamor durian asal Songgon tidak semudah membalikkan telapak tangan. Beberapa orang pesimis dengan metode penjualan durian langsung di kebun. “Di pasar saja kadang tidak laku terjual,” kata Harmadi menirukan cibiran beberapa orang. Meski begitu Harmadi bergeming dan fokus pada tujuan sehingga bisa seperti sekarang.

Masyarakat mulai percaya menjual durian pada Harmadi saat bupati Banyuwangi periode 2016—2021, Abdullah Azwar Anas, mengunjungi kebun pada 2020. Sejak itulah masyarakat percaya buah durian berkualitas bisa memberikan keuntungan jika dirawat dengan baik dan benar. Bukan tanpa perawatan ala kadarnya. Menurut Harmadi konsep kebun durian sangat berpotensi diterapkan di daerah lain. Minimal menanam 500—1.000 tanaman per kelompok tani.

“Sistemnya alami jadi tidak hanya durian. Kita juga menanam manggis, avokad, atau jambu kristal,” kata Harmadi. Lebih lanjut ia menuturkan durian hanya beradaptasi pada 1—2 tahun pertama. Setelah itu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jenis tanah pun bisa menyesuaikan. Sementara itu untuk jenis durian, bisa menggunakan durian lokal setempat atau durian lokal daerah lain. “Selama kebutuhan nutrisi tercukupi rasa pun sama,” kata alumnus Fakultas Hukum, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi.

Harmadi berharap dapat memperluas kebun sehingga lebih banyak durian yang dihasilkan. Banyak pihak yang membantu Harmadi mencapai kesuksesan berkebun dan berbisnis durian. Salah satunya yakni Bank BRI. Ia menggunakan program kredit usaha rakyat (KUR) untuk permodalan dalam rangka pengembangan bisnis durian. “KUR BRI sangat membantu petani khususnya anggota Kelompok Tani Garden Forest. Selain berbunga rendah, ada perpanjangan waktu pembayaran jika kita gagal bayar karena produksi menurun. Yang penting komunikasi aktif dengan BRI. Bank BRI luar biasa,” kata pria kelahiran Banyuwangi itu.

KUR merupakan program pemerintah untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang disalurkan melalui lembaga keuangan seperti BRI. Selain KUR, Bank yang berdiri pada 16 Desember 1895 itu juga mempromosikan durian asal Songgon melalui pameran di Jakarta pada 2021. Harmadi sangat bersyukur dengan kesempatan itu karena dapat memperluas pasar. Permintaan durian pun makin banyak setelah mengikuti pameran yang diselenggarakan BRI.

Ia layak mengikuti pameran itu lantaran bisnis durian Harmadi termasuk berkelanjutan, berbasis masyarakat, dan menggunakan teknologi informasi. Ia berharap durian asal Songgon bisa menjadi andalan Banyuwangi untuk pasar dalam dan luar negeri. Bersama BRI, Kelompok Tani Garden Forest pun merasakan nikmatnya berkebun dan berbisnis durian lokal nan lezat. Pekebun senang, pembeli pun bahagia. (Riefza Vebriansyah)

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software