Duet Kacang Tanah Tahan Penyakit

Filed in Sayuran by on 05/10/2010 0 Comments

HypoMa-1 – kependekan hypogaea dari Malang – adalah varietas kacang tanah unggul yang dirilis Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang, Jawa Timur, pada 2010. Kehadirannya menjadi secercah harapan bagi pekebun kacang tanah yang kerap merugi akibat serangan cendawan Puccinia arachidis penyebab karat daun dan bercak daun akibat Phaeoisariopsis personata. Kedua cendawan itu menyerang saat tanaman berumur 40 – 50 hari setelah tanam (hst).

Sekujur daun Arachis hypogaea yang terserang karat dipenuhi pustul (benjolan kecil, red) berwarna cokelat. Sementara daun terserang bercak daun muncul bercak-bercak cokelat-kehitaman pada permukaan daun atas dan permukaan bawah menghitam. Penyakit itu kerap menyerang saat kacang tanah menginjak fase generatif. Akibat pengisian polong tidak optimal itu produktivitas merosot hingga 50 – 60%. Bila lazimnya 1 ha mampu dipanen 1,8 ton polong, pascaserangan hanya 1 ton.

Yang lebih mengkhawatirkan, penyebaran kedua cendawan itu sangat cepat karena melalui angin. Spora pun dapat menyebar melalui brangkasan (sisa bagian tanaman yang tidak dipanen, red) atau polong yang terinfeksi spora cendawan.

17 tahun

Sejatinya, sebelum HypoMa-1 dirilis, Balitkabi telah melepas beberapa varietas tahan karat sepeti bison, domba, dan turangga. Namun, produktivitasnya rendah, di bawah 2 ton/ha. HypoMa-1 merupakan hasil persilangan tetua betina varietas lokal lamongan dengan tetua jantan varietas lokal tuban pada 1993. Tetua betina bertipe spanish – berbiji dua – menurunkan sifat umur genjah, tahan penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum, dan hasil tinggi. Jantan diambil dari varietas yang bisa menutupi kekurangan tetua betina yaitu bentuk polong kurang bagus.

Persilangan pada generasi pertama menghasilkan 155 biji. Biji-biji itu selanjutnya dikembangkan lagi sampai diperoleh 1.214 biji F2 (generasi kedua, red). Namun, dari jumlah itu hanya 607 galur dievaluasi ketahanannya terhadap penyakit bercak dan karat daun. Kriteria lain jumlah polong di atas 15 butir per tanaman.

Aksesi-aksesi unggul itu diseleksi ulang hingga berjumlah 115 galur. Setelah itu dilakukan pengkajian ulang dengan uji daya hasil pendahuluan hingga terpilih 60 galur untuk menjalani uji daya hasil lanjut. Akhirnya, pada 2002 terpilih 20 galur terunggul untuk menjalani uji multilokasi.

Uji multilokasi dilaksanakan di 20 lokasi tersebar di 3 provinsi: Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Uji itu dilakukan berdasar rancangan acak kelompok berulangan. Caranya, setiap galur ditanam pada plot berukuran 2,4 m x 5 m dengan jarak tanam 40 cm x 10 cm. Selanjutnya dibuat lubang dengan cara ditugal. Tiap lubang diisi 1 biji benih kacang tanah.

Tak lupa diberi pupuk 50 kg Urea, 100 kg SP-36, dan 100 kg KCL untuk setiap hektarnya. Dari uji multilokasi selama 2004 hingga 2007 diperoleh galur unggulan LM/TB-93-B2-218 yang dilepas dengan nama HypoMa-1 pada 2010.

Selain tahan penyakit karat dan bercak daun, produktivitas HypoMa-1 pun unggul, potensi hasil mencapai 3,7 ton per hektar, dengan rata-rata 2,3 ton polong kering dan kulit ari biji kemerahan. Hasil itu lebih tinggi dibandingkan varietas pembanding: singa, sekitar 2,1 ton/ha atau jerapah 1,8 ton/ha. Umur panen HypoMa-1 juga genjah, 90 – 95 hst. Sebanyak 80% polong HypoMa-1 masak pada umur 91 hst. Bandingkan dengan singa yang butuh 105 hst dan jerapah 95 hst.

Tahan kering

Tak hanya genjah, kualitas biji pun lebih unggul. Bobot 100 biji HypoMa-1 mencapai 36,4 g. Varietas singa dan jerapah berturut-turut 30,3 g dan 31,8 g. HypoMa-1 tumbuh subur pada banyak jenis tanah seperti alfisol (kadar basa lebih dari 35%), ultisol (kadar basa kurang 35%), dan litosol (jenis tanah berpasir) baik pada area pesawahan ataupun tegalan.

Selain melepas varietas tahan penyakit karat dan bercak daun, Balitkabi dalam waktu bersamaan merilis HypoMa-2. HypoMa-2 merupakan saudara kandung HypoMa-1. Keduanya lahir dari hasil persilangan varietas lokal Lamongan dan Tuban. Keunggulan HypoMa-2 yang berasal dari galur LM/TB-93-B2-20 adalah tahan cekaman kekeringan pada fase-fase generatif. Mafhum kekeringan menjadi salah satu momok pekebun kacang tanah karena menyebabkan kehilangan potensi panen hingga 40%.

Kekeringan berakibat penurunan jumlah polong yang berimbas kepada jumlah serta bobot biji. Namun, hal itu tak terjadi pada HypoMa-2. Meski didera kekeringan, produktivitas varietas unggul yang dipanen umur 90 – 95 hst itu tetap tinggi, mencapai 2,5 ton polong kering per ha.

Kehadiran HypoMa-1 dan HypoMa-2 yang tahan penyakit serta cekaman kekeringan dapat menjadi solusi di tengah perubahan iklim yang tidak menentu. Produktivitas tetap tinggi dan pendapatan pekebun meningkat. Maklum, kacang tanah merupakan palawija kedua setelah kedelai yang banyak dibudidayakan petani. (Ir Joko Purnomo MS, periset kacang tanah di Balai Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang)

 

Powered by WishList Member - Membership Software