Duet Buah dan Sawit

Filed in Buah by on 30/06/2011

 

Pemerintah dapat membuat kebijakan yang mengarahkan kegiatan konservasi perusahaan perkebunan sawit untuk mendongkrak pengembangan buah unggul nasionalPengembangan buah lokal sebaiknya menggunakan bibit tanaman buah varietas unggul di setiap sentra agar pasokan buah lokal di pasaran berkualitas tinggiMafhum saja, impor buah memang kian deras. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada triwulan pertama 2011 saja volume impor naik hingga 25%. Jeruk asal China merupakan komoditas buah impor terbanyak. Jika dibiarkan meningkat terus maka pamor buah lokal bakal semakin tenggelam.

Oleh karenanya memperketat impor buah memang sudah semestinya dilakukan. Bentuknya berupa pengetatan standar kualitas, kandungan residu pestisida, dan cemaran logam berat berbahaya. Namun, kebijakan itu mesti dibarengi upaya pengembangan buah lokal yang cepat dan tepat. Pasalnya, dikhawatirkan terjadi kekosongan pasokan buah jika ternyata nantinya banyak buah impor yang tidak memenuhi standar dan berujung pelarangan. Harap mafhum, selama ini pasokan buah lokal tidak kontinu.

Salah satu penyebabnya adalah produksi yang tergantung pada musim. Mangga misalnya, melimpah pada Oktober-Maret. Di luar bulan itu pasokan kosong. Kendala lain beberapa komoditas buah belum dibudidayakan dalam skala luas. Untuk menyebut contoh durian yang masih banyak mengandalkan pasokan dari durian hutan atau ladang yang tumbuh alamiah, tanpa sentuhan budidaya.

Kalaupun ada orang yang mengebunkan durian unggu produksinya belum mampu memenuhi permintaan pasar yang besar. Seringkali durian itu habis dibeli konsumen yang datang langsung ke kebun. Itulah sebabnya sangat jarang dijumpai durian unggul dijajakan di pasar-pasar swalayan. Perusahaan ritel melayani permintaan para pencinta durian dengan mengimpornya dari Thailand. Padahal, mereka sangat mendambakan dapat menjual durian unggul asli Indonesia.

Fokus di sentra

Lalu, bagaimana strategi mempercepat pengembangan buah lokal agar tidak terjadi kekosongan pasokan? Pengembangan buah lokal sebaiknya diawali dengan pemetaan komoditas buah unggulan yang banyak diminta pasar lokal dan ekspor. Dari ribuan spesies buah yang hidup di Indonesia, cukup fokuskan dahulu pada 10 jenis buah unggulan yang paling diminati konsumen.

Pengembangan tanaman buah unggul itu sebaiknya dilakukan di sentra-sentra buah yang sudah ada. Contohnya untuk pengembangan manggis. Sebaiknya diprioritaskan di kawasan sentra seperti Tasikmalaya dan Purwakarta, Jawa Barat; Sawahlunto (Sumatera Barat); dan Tapanuli (Sumatera Utara). Dengan begitu upaya pengembangan lebih efektif karena masyarakat tani setempat sudah terbiasa membudidayakan manggis. Jadi jangan sampai pengembangan manggis dilakukan di sentra produksi padi. Langkah itu tidak efektif lantaran petani akan kesulitan mengembangkannya karena tidak berpengalaman merawat manggis.

Di sentra-sentra itulah populasi tanaman manggis ditambah dengan memberi bantuan bibit untuk penanaman baru. Bibit yang digunakan sebaiknya manggis unggul yang telah diperbanyak dengan sambung pucuk atau kaki ganda agar berbuah lebih cepat dalam 3-4 tahun. Jika dari biji biasanya baru berbuah setelah 7 tahun. Dengan begitu pasokan manggis di setiap sentra dalam jangka waktu 4 tahun mendatang sudah bertambah untuk memenuhi permintaan pasar.

Begitu juga dengan durian. Di sentra-sentra durian seperti Medan (Sumatera Utara); Palembang (Sumatera Selatan); Lampung; Pandeglang (Jawa Barat); Demak (Jawa Tengah); dan Malang (Jawa Timur), sebaiknya ditanam varietas-varietas durian unggul. Contohnya matahari. Durian yang dilepas Menteri Pertanian RI pada 1995 itu terbukti adaptif dan kualitas buahnya tetap enak meski ditanam di berbagai daerah yang relatif berbeda agroklimatnya. Dengan begitu kelak yang membanjiri pasar adalah durian-durian berkualitas tinggi sehingga mampu bersaing dengan monthong.

Perhitungkan musim

Pengembangan buah lokal juga mesti mempertimbangkan musim buah di berbagai sentra.   Di tanahair musim buah biasanya berbeda-beda di setiap daerah dari Aceh hingga Papua. Kita ambil contoh durian lagi. Di kawasan Sumatera musim durian biasanya lebih awal yakni pada Mei-Agustus. Sedangkan di Jawa Barat pada November-Februari; Jawa Timur, Januari-April. Namun, akibat perubahan iklim dua tahun terakhir, musim buah menjadi tidak teratur.

Pengembangan durian jangan hanya fokus di salah satu sentra karena produksi buah hanya akan optimal di bulan-bulan tertentu.  Sebaiknya penambahan populasi durian dilakukan di setiap sentra berdasarkan perbedaan musim panen. Dengan begitu diharapkan dapat memasok pasar durian sepanjang tahun.

Untuk menggenjot produksi buah lokal juga dapat ditempuh kerja sama dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Setiap perusahaan perkebunan yang tergabung dalam Round Table on Sustainable Palm Oil (RSPO) diwajibkan untuk melakukan kegiatan konservasi. Kegiatan itu dapat diarahkan oleh pemerintah dengan membuat kebijakan yang mewajibkan pengembangan buah unggul sebagai salah satu kegiatan konservasi.  Mereka bisa diwajibkan menyisihkan sebagian lahan untuk kebun buah, misalnya di sekitar pabrik, gudang, barak karyawan, bantaran sungai, dan lahan miring.

Hingga kini total luas areal perkebunan sawit di tanahair mencapai 7,8-juta hektar. Seandainya 1% saja dari luasan lahan itu disisihkan untuk pengembangan buah lokal, maka akan tercipta 78.000 hektar areal tanam buah unggul. Selama ini rata-rata areal tanam setiap perusahaan perkebunan sawit mencapai 10.000 ha. Artinya, dari setiap perusahaan itu dapat disediakan 100  ha areal untuk menanam buah unggul.

Bagaimana dengan aksesibilitas pasar dari areal lahan sawit yang rata-rata berada di kawasan terpencil? Tak usah khawatir. Selama ini Jika produksi buah unggul berkualitas tinggi yang diminta pasar melimpah di suatu kawasan, maka para pengepul atau bakul buah dengan sendirinya berdatangan ke sentra produksi untuk memborong hasil panen, lalu memasarkannya di sentra konsumen. Dengan berbagai langkah itu tak mustahil di masa mendatang buah lokal akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata MS, ahli buah di Bogor, Jawa Barat)

 

Powered by WishList Member - Membership Software