Dua Jalan Tetap Segar

Filed in Sayuran by on 02/08/2013
525-Hal 78-79-2

Jimmy Halim (belakang) dan Ir Yos Sutiyoso di kebun Jiri Farm

Dua strategi Jimmy Halim menjaga kesegaran sayuran, di lahan dengan pengabut dan pendinginan awal usai panen.

Pada pukul 16.00 kesibukan masih terasa di kebun hidroponik milik Jimmy Halim, Jiri Farm. Beberapa pekerja cekatan memanen bayam merah. Setiap hari ayah satu anak itu rutin memanen 150—200 kg beragam sayuran seperti bayam, caisin, dan pakcoy yang semuanya terserap pasar. Total jenderal ia membudidayakan tujuh jenis sayuran daun secara hidroponik. Ia menanam sayuran-sayuran itu di enam rumah tanam seluas total 1.800 m2 yang berdiri di atas lahan 2 ha.

Ayah satu anak itu membangun rumah tanam berbentuk kubah dengan dinding dan atap plastik dan dua rumah tanam berdinding dan beratap jaring. Ia membenamkan modal Rp200-juta untuk membangun sebuah rumah tanam berbentuk kubah. Itu empat kali lipat dibanding investasi rumah tanam jaring. Sebuah rumah tanam kubah berukuran 25 m x 8 m itu berisi 240 talang, setara 7.620 tanaman sayuran. Jimmy menanam sebuah komoditas di sebuah rumah tanam.

Pendinginan awal

Dalam budidaya hidroponik, Jimmy tidak menggunakan stirofoam sebagai papan tanam. “Stirofoam akan berlumut setelah beberapa kali pemakaian sehingga harus diganti,” ujar Jimmy. Pemilik usaha bingkai foto itu menerapkan sistem NFT (nutrient film technique) menggunakan talang polivinil klorida (PVC). Talang itu ia lubangi sebesar 5 cm dengan jarak antarlubang 20 cm. Di setiap talang sepanjang 8 m terdapat 32 lubang. Dari lubang-lubang itulah nutrisi masuk dan mengenai akar.

Pekebun berusia 54 tahun itu memasang talang dengan kemiringan 15 derajat setinggi 50 cm dari tanah. Untuk memasok nutrisi, ia menggunakan pompa yang mengalirkan air sebanyak 2 liter per menit. Kurang dari itu, tanaman akan kekurangan hara. Jika berlebih akan boros listrik. Ia menggunakan larutan nutrisi dengan konsentrasi 2,5 mS per cm. Tujuannya, untuk membentuk morfologi dan mencegah penyakit tanaman.

Pakcoy dan selada ditanam dengan sistem NFT

Pakcoy dan selada ditanam dengan sistem NFT

Upaya Jimmy untuk menghasilkan sayuran berkualitas adalah mempertahankan kelembapan saat kemarau. Jimmy menerapkan teknik pengabutan dalam rumah tanam. Ia memasang penyemprot air di ketinggian 3 m dengan jarak antarpenyemprot 4 m. Penyemprot menyemburkan air pada pukul 10.00—14.00 untuk meningkatkan kelembapan udara dari 50—60% menjadi 70—80%. Kondisi lembap menjadikan tanaman segar dan tidak mudah layu.

Adapun upaya Jimmy mempertahan-kan kesegaran sayuran usai panen dengan memasukkan sayuran hasil panen ke ruangan berukuran 2 m x 2 m bersuhu 120C. Jimmy Halim menyimpan sayuran-sayuran itu selama satu jam. Ahli budidaya hidroponik di Jakarta, Yos Sutiyoso, mengatakan bahwa pendinginan sayuran pada suhu 12°C bertujuan untuk membuang panas lapang. Jika panas lap-ang tidak terbuang, memicu sayuran busuk lebih cepat. Dengan kata lain, pendinginan itu memperpanjang kesegaran sayuran.

Tanpa pendinginan, sayuran akan  terus bermetabolisme sehingga mempercepat pembusukan, seperti daun menjadi layu dan menyusut. Penyimpanan di ruang pendingin itulah yang menjadikan sayuran tetap segar hingga 4 hari pascapetik. Perlakukan pascapanen itu mutlak dilakukan untuk menjaga kesegaran sayuran. Pasalnya, kebun hidroponik itu terletak di Kelurahan Curugkulon, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, dengan suhu harian 29—33°C.

Hindari 4°C

Proses pendinginan sayuran pascapanen atau pre-cooling atau pendinginan awal memang berdampak positif. Menurut Ir Yos Sutiyoso, suhu tinggi saat pemanenan mempercepat kerusakan sayuran selama penyimpanan. “Semakin cepat mendinginkan, semakin baik kualitas sayuran dalam penyimpanan,” kata Yos. Penyimpanan sayuran di suhu 10—12°C memperlambat proses respirasi daun yang mengendalikan pematangan dan penuaan.

Alat penyemprot, untuk meningkatkan kelembapan

Alat penyemprot, untuk meningkatkan kelembapan

Suhu rendah juga menghambat penurunan kadar oksigen atau peningkatan kadar karbondioksida dalam ruang penyimpanan. Selain itu, pendinginan pascapanen menurunkan tingkat kerusakan akibat serangan mikrob dan mencegah kehilangan kandungan air akibat proses penguapan. Yos mengatakan produsen sayuran hidroponik lain mendinginkan pada suhu 3°C atau 5°C.

Suhu 4°C anomali karena memicu sayuran justru cepat rusak. “Sel-sel sayuran pecah,” kata alumnus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu. Yos mengatakan jika “numpang lewat” pada suhu 4°C tak masalah. Namun, jika berhenti pada suhu itu selama satu jam, misalnya, justru membahayakan sayuran. Prinsip pendinginan yaitu memindahkan panas dengan cepat dari sayuran ke suatu media pendingin, seperti udara, air, atau balok es. Itu sebabnya, Jimmy menambahkan es batu di sudut peti kemas sayuran.

Fungsinya menjaga kesegaran sayuran selama di perjalanan. Dalam sebulan, biaya yang ia keluarkan untuk membuat es batu hanya Rp300.000. Itu lebih murah ketimbang biaya pembelian dan operasional boks berpendingin yang mencapai Rp30-juta. Proses pascapanen yang tepat membuat sayuran produksi Jimmy tetap segar dan layak konsumsi selama 4 hari. Kesegaran sayuran yang lebiih lama menyebabkan angka pengembalian produk yang tidak laku terjual menurun. Pengembalian sayuran dari toko hanya berkisar 5—10%. Menurut Jimmy, kenaikan angka penjualan itu melebihi peningkatan biaya produksi sehingga masih menguntungkan. (Kartika Restu Susilo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software