Dua Hambatan

Filed in Laporan khusus, Majalah by on 13/11/2019

Pasar menyukai kombuca yang tidak terlalu masam.

Memperkenalkan minuman yang terbilang baru, dengan rasa berbeda dari kebanyakan komoditas serupa yang beredar di masyarakat, menjadi tantangan besar. “Beberapa yang mencoba tidak suka aromanya yang, mohon maaf, seperti bau ketiak,” kata produsen kombuca Sweet Gems di Jakarta Selatan, Joy Paramita Surya. Apalagi sebagian besar orang Indonesia menyukai rasa manis sedangkan kombuca dominan masam.

Untuk menyiasati hal itu, hampir semua produsen mengemas kombuca yang difermentasi 7—10 hari. “Lebih dari itu saya sebut cuka kombuca karena rasanya sangat masam,” kata produsen Indokombucha di Bandung, Arsenius Sutandio. Arsenius menyatakan bahwa kombuca yang difermentasi hingga 14 hari sampai rasanya seperti cuka itulah yang memiliki khasiat terbaik. Produsen kombuca dengan merek heal! Probiotic, Erina Ekawati Azis menyatakan kombuca meningkatkan keragaman bakteri “baik” dalam saluran pencernaan sehingga memperbaiki kualitas pencernaan.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-layout-key=”-er+o+l-go+rw”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3417295201″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Tantangan kedua adalah harga. Meski pembuatan kombuca mudah, produsen harus menunggu fermentasi 7—13 hari sebelum bisa menjual. Sudah begitu, minuman itu bereaksi dengan botol plastik, keramik berglasir, ataupun logam sehingga fermentasi dan pengemasan harus menggunakan wadah kaca. Jika tidak, alih-alih sehat peminum kombuca malah jatuh sakit (baca “Mereka Terlarang Minum Kombuca” hal. 68—69). Itu menjadikan harga kombuca tidak bisa murah. Apalagi Erina dan Tita bertekad memangkas jejak karbon dalam produksi maupun pemasaran produk mereka.

“Untuk pembeli yang dekat lokasi kami, saya menggunakan kurir sepeda. Mahal, mahal dah,” kata Erina, Doktor Ekonomi Internasional dari Cornell Unibersity, Amerika Serikat itu. Para pembeli yang merasakan kombuca memesan lagi plus menyarankan orang lain untuk ikut membeli. Itu sebabnya kombuca naik daun kembali 4 tahun belakangan setelah tren 12 tahun silam (baca “Jamur Dipo: Kini Keraguan itu Terpangkas”, Trubus Februari 2007). (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software