Dua Avokad Hebat

Filed in Buah, Majalah by on 10/05/2019

Avokad lezat di kebun Asroful Uswatun. Berbuah lezat dan pulen meski tekstur kulit buah kasar dan kusam.

Avokad jumbo bercita rasa lezat.

Buah avokad itu tak sedap dipandang mata. Permukaan kulit buah terlihat kusam dan kasar sehigga tampak seperti berkeriput. Pada buah yang lain juga tampak guratan-guratan kasar sehingga tampak seperti berurat. Namun, di balik penampilannya yang buruk, Asroful

Asroful Uswatun menjual avokad koleksinya ke konsumen.

Uswatun terkejut saat pertama kali membelah buah dari kebunnya. Daging buah kuning. “Begitu dicicip daging buahnya terasa padat dan pulen,” tutur pekebun di Kabupaten Jember, Jawa Timur, itu.

Padahal, buah avokad itu magori alias hasil panen perdana. Uswatun juga memanen buah tanaman anggota famili Lauraceae itu saat curah hujan sedang tinggi. Bahkan, kebunnya kerap terendam banjir. Kondisi itu pada umumnya menyebabkan daging buah avokad lebih berair, kurang pulen, dan cenderung hambar.

Semula aligator

Uswatun memperoleh avokad itu tanpa sengaja. “Awalnya saya membeli bibit avokad namanya aligator,” tuturnya. Persea americana itu adalah temuan Boyke Purbo Cahyoko asal Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Boyke memperoleh entres atau batang atas dari seorang kawan yang sudah lama tinggal di Amerika Serikat. Pada 2010 rekan Boyke itu pulang ke tanah air dan membawa 5 entres avokad berukuran 15 cm.

Kata rekannya itu adalah salah satu varian avokad unggul di Negeri Abang Sam. Ciri khas buah tanaman asal Meksiko itu berukuran bongsor, yakni rata-rata lebih dari 700 g per buah. Di kebun Boyke buah terbesar mencapai 1,8 kg. Bentuk buah cenderung bulat agak mengerucut di bagian atas. Avokad jumbo itu berbalut kulit hijau mengilap. Di kebun Uswatun tanaman berbuah perdana pada umur 3 tahun setelah tanam.

Chanto, avokad temuan Chandra Thio bercita rasa lezat dan adaptif di dataran rendah.

Tiga bibit aligator menghasilkan buah berpenampilan berbeda. Bentuk buah cenderung memanjang dan berkulit kasar. Ukuran buah juga tak sebongsor aligator. Namun, perbedaan itu tak membuat Uswatun kecewa. Rasa daging buah tergolong istimewa. Itulah sebabnya Uswatun memperbanyak avokad itu dengan cara sambung pucuk. Sayangnya hingga kini ia belum menyematkan nama pada tanaman anggota famili medang-medangan itu.

Chandra Thio memperbanyak chanto dengan teknik sambung pucuk.

Menurut pemasok buah premium di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, kulit buah yang mulus hingga kini masih menjadi indikator buah berkualitas bagi konsumen avokad di tanah air. Harap mafhum, sebagian besar karakter varian avokad di berbagai daerah di Indonesia berkulit licin dan mengilap. Itulah sebabnya konsumen kerap memandang sebelah mata buah avokad berkulit kurang mulus.

Berbeda dengan di mancanegara, kemulusan kulit buah bukanlah soal. Malah varian avokad yang sangat populer, yaitu avokad hass, berkulit seperti keriput. Namun, di balik kulit buahnya yang buruk rupa, jenis avokad yang pertama kali ditanam oleh seorang pengantar surat asal Kalifornia Selatan, Amerika Serikat, Rudolph Hass, itu bercita rasa lezat sehingga disukai konsumen. Hingga kini hass menjadi varian avokad komersial yang paling banyak ditanam di seluruh dunia, yakni mencapai 80% dari total populasi avokad dunia.

Chanto

Di Kota Medan, Sumatera Utara, Chandra Thio, juga menemukan avokad berkualitas prima di salah satu kebun yang hanya berketinggian 20 meter di atas permukaan laut (m dpl). Kemampuan avokad bernama chanto tumbuh di dataran rendah kabar baik bagi dunia perbuahan di tanah air. Pasalnya, selama ini avokad identik dengan habitat di lahan berketinggian sedang hingga tinggi.

Chanto rata-rata berbobot minimal 800 g per buah.

Itu berarti warga kota-kota besar di Indonesia yang sebagian besar berlokasi di dataran rendah dapat menanam chanto. Meski tumbuh di dataran rendah, rasa daging buah avokad chanto patut menawan. “Rasa daging buah tidak ada pahitnya, tidak berair, dan legit sekali,” tuturnya. Kualitas rasa chanto juga mendapat sanjungan dari rekan-rekan Chandra yang telah mencicipinya. Rasanya sudah enak meski buah belum matang sempurna.

Keunggulan lain chanto adalah ukuran buah yang rata-rata berukuran jumbo, yakni berkisar 800—1.000 g per buah. Avokad chanto mempunyai berbagai keunggulan itu mendorong Chandra memperbanyaknya dengan teknik sambung pucuk. “Sekarang sudah tersedia bibitnya,” ujar pria yang juga penggemar tin itu. (Imam Wiguna)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software