Dongkrak Panen Udang

Filed in Inspirasi, Majalah by on 08/05/2019

Panen udang bisa hingga 20 ton per hektare menerapkan teknologi budidaya udang intensif.

 

Budidaya intensif meningkatkan produksi udang vannamei hingga 300%.

Managing Director PT Plastin Eka Prakarsa, Mark Setiawan.

Nurdin Apriatna mengelola 15 tambak di lahan 3 hektare. Luas sebuah tambak rata-rata mencapai 2.000 m² sehingga di lahan 1 ha terdapat 5 tambak. Peternak di Desa Tanjungtiga, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, itu menebar 100 ekor per meter persegi. Padahal, padat tebar lazimnya hanya 50 ekor per m2. “Dibandingkan dengan budidaya konvensional tentu hasilnya bisa lebih besar, karena populasinya lebih banyak,” katanya.

Ketika panen pada awal 2018 Nurdin memperoleh 20,375 ton udang vannamei per hektare. Rinciannya bobot udang 25 gram dengan sintasan atau survival rate (SR) 81,5% hasil budidaya selama 112 hari. Bandingkan dengan hasil budidaya konvensional hanya 10 ton per hektare. Musababnya kepadatan maksimal 50 ekor udang per meter persegi. Padat tebar meningkat signifikan antara lain karena Nurdin menggunakan mulsa plastik.

Mulsa plastik

Kebutuhan plastik per hektare rata-rata 14 rol. Spesifikasi plastik ketebalan 80 mikron, panjang 2,5 meter, dan lebar 500 meter. “Biaya investasi untuk plastik beserta pemasangan rata-rata Rp40 juta—Rp45 juta per 1 hektare,” kata Nanang—sapaan Nurdin Apriatna. Namun, itu layak demi kelancaran budidaya. Meski investasi lebih besar, petambak tetap meraup untuk besar. Sebab, terdapat selisih produksi hingga 10 ton per hektare.

Menurut Nanang harga jual udang vannamei di Subang mencapai Rp80.000 per kg. Artinya omzet petambak intensif Rp800 juta lebih besar daripada petambak konvensional. Lagi pula Nanang dapat menggunakan hingga 3 kali masa budidaya. Menurut Managing Director PT Plastin Eka Prakarsa, Mark Setiawan, peternak dapat menggunakan mulsa plastik hingga 3 kali periode budidaya atau total selama 12 bulan. Sekali budidaya maka biaya penyusutan mulsa plastik hanya Rp13 juta per hektare. Itulah sebabnya petambak seperti Nanang yang menggunakan mulsa tetap untung.

Plastik tambak harus antigetas dan tahan sinar matahari.

Selain pemanfaatan mulsa plastik, tambak intensif dilengkapi dengan pompa air, kincir air, aerator, tingkat penebaran tinggi, dan pakan 100% pelet. Nanang mengatakan, fungsi plastik pada budidaya intensif mencegah udang kontak langsung dengan tanah. Kontak langsung udang dengan tanah menyebabkan potensi terserang bibit penyakit tinggi. Fungsi lainnya untuk mempermudah membuang kotoran berbentuk lumpur.

Menurut Nanang kebutuhan plastik hingga 80% luas tambak. Jika luas tambak 10.000 m², maka kebutuhan mulsa plastik hanya 8.000 m². Musababnya, di bagian tengah tambak minimal 2 m x 2 m tanpa tertutupi plastik. Tujuannya sebagai tempat udang moulting atau berganti kulit. Mengapa saat moulting harus bersentuhan dengan tanah? Proses pergantian kulit lebih cepat jika di tanah.

Petambak sejak 2015 itu mengatakan, kriteria plastik yang baik memiliki ketebalan di atas 50 mikron, lentur, dan tahan terhadap sinar matahari. “Intinya tidak rapuh dan kuat sampai panen,” kata pria 34 tahun itu. Warna mulsa sebaiknya hitam perak. Sebab, warna hitam membantu menyerap sinar matahari sehingga suhu air tambak lebih tinggi kisaran 1ºC dibandingkan tanpa mulsa. Suhu lebih tinggi mencegah serangan White Spot Syndrome Virus.

Ketebalan mulsa

Budidaya udang intensif memerlukan pakan pelet relatif tinggi.

Mulsa plastik untuk tambak lebih tebal daripada mulsa plastik untuk pertanian yang hanya 30 mm. Menurut Managing Director PT Plastin Eka Prakarsa, Mark Setiawan, ketebalan plastik untuk tambak idealnya 80 mm. Plastik harus lebih tebal agar bisa menahan mobilitas udang. Menurut Mark syarat plastik untuk tambak udang harus kuat dan tahan jebol. “Plastik harus antigetas karena bagian kepala udang runcing, plastik tipis akan mudah jebol,” kata Mark.

Menurut peneliti di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan, Hidayat Suryanto Suwoyo, S.Pi, M.Si, teknologi budidaya udang terbagi menjadi 5. Antara lain budidaya ekstensif, ekstensif plus, semiintensif, intensif, dan superintensif.

Populasi padat tebar budidaya udang ekstensif 5 ekor, ekstensif plus 6—8 ekor, semiintensif 50—80 ekor, intensif 100—300 ekor per meter persegi, dan superintensif 300—1.000 ekor per meter persegi. Sayangnya petambak udang superintensif seperti Nanang di Indonesia masih langka. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software