Domba Bongsor Berkarkas Tinggi

Filed in Satwa by on 01/04/2011

Pribados hasil persilangan tetua jantan domba barbados dengan tetua betina priangan. Adalah Dr Ir Dedi Rahmat MS dari Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran, Bandung yang sejak 2001 menyilangkan kedua domba beda bangsa itu. Menurut Dedi, barbados dipilih sebagai pejantan karena mempunyai keunggulan: pertumbuhan bongsor

Barbados sendiri sohor sebagai domba pedaging unggul hasil persilangan domba afrika dan domba daerah dingin. “Barbados banyak dikembangkan di Kepulauan Barbados di perbatasan Laut Karibia dan Samudera Atlantik,” kata Dr Ir Muhamad Bata MS dari Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, Jawa Tengah. Bobot betina dewasa mencapai 30 – 50 kg; jantan 50 – 80 kg.

Bongsor

Di tanahair barbados relatif tidak berkembang karena dianggap kurang produktif. Sekali beranak hanya seekor dan dalam setahun beranak satu kali. Makanya, populasi barbados tak kunjung meningkat. “Itulah yang menjadi kendala peternak untuk mengembangkan barbados: sulit memperoleh bibit,” tutur Dedi. Kekurangan lainnya, daging barbados banyak mengandung lemak.

Dedi memperbaiki kekurangan barbados dengan cara menyilangkannya dengan priangan. Priangan sohor sebagai domba prolifik alias yang beranak banyak. Setiap kelahiran dihasilkan 2 – 3 anak. Keunggulan lain, ia tidak memiliki sifat kawin musiman sehingga beranak sepanjang tahun. “Priangan dapat bunting kembali sebulan pascamelahirkan,” ungkap Dedi, doktor pemuliaan ternak alumnus Institut Pertanian Bogor. Selain itu, priangan juga memiliki ketahanan terhadap serangan cacing lambung Haemoncus contortus dan cacing hati Fasciola gigantica.

Dedi memanfaatkan 3 ekor pejantan barbados untuk disilangkan dengan betina-betina priangan. Hasilnya, domba pribados dengan tingkat kelahiran dua mencapai 71% dan kembar tiga 18% dari total kelahiran. Yang lebih menggembirakan, bobot anakannya lebih tinggi dibanding anakan priangan. Bobot lahir pribados 5,35 kg, sementara priangan 3,97 kg. Bata mengungkapkan bobot lahir berkorelasi positif dengan pertumbuhan dan perkembangan domba. Secara umum anakan jantan mempunyai bobot lebih tinggi dibanding betina. Musababnya jumlah hormon androgen yang mengatur pertumbuhan lebih banyak pada jantan, sehingga pertumbuhan pun lebih cepat dibanding betina.

Selanjutnya anakan-anakan domba itu dipelihara hingga mencapai umur sapih, 3 bulan. Pada umur itu bobot pribados mencapai 31,5 kg/ekor, sedangkan priangan hanya 20,19 kg. Pakan yang diberikan berupa konsentrat dicampur pucuk tebu kering.

Karkas lebih banyak

Kelompok Tani Ternak Saung Hanjuang di Sumedang, Jawa Barat, yang kini memelihara pribados merasakan kelebihannya. “Pertumbuhan cepat sekali. Umur setahun, pejantan pribados bisa mencapai bobot 50 kg. Sementara betina 35 – 40 kg,” kata Wilyan Suryadharma, anggota kelompok tani. Jantan priangan umur sama paling 30 – 35 kg. “Ketika dibesarkan sampai berumur 2 tahun, pribados ada yang mencapai bobot 85 kg,” tambah alumnus Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran itu.

Selain bongsor, karkas pribados pun lebih banyak, 50%. Artinya, kalau bobot domba hidup 100 kg, maka dihasilkan daging sebanyak 50 kg. Bandingkan dengan priangan, karkasnya hanya 35%. Dengan harga daging Rp50.000/kg, domba-domba umur 1 tahun berbobot 40 kg bisa dijual harga Rp1-juta. Karena keunggulan itu, kini pribados tengah giat dikembangkan oleh Kelompok Ternak Saung Hanjuang untuk memenuhi kebutuhan daging domba yang kian besar. Menurut Wilyan, setiap pekan ada permintaan 50 domba dengan bobot 30 – 50 kg. “Padahal saat ini untuk memenuhi 20 ekor saja sulit,” ujar Wilyan

Toh, di balik seabrek keunggulan, pribados menyimpan  “kelemahan”. Di antaranya, tanduk pribados jantan tidak panjang, hanya menyembul kecil. Kondisi itu kerap menjadi masalah ketika akan dijadikan domba kurban. “Di masyarakat masih ada anggapan, domba untuk kurban harus bertanduk panjang,” kata Dedi.

Walhasil, orang ragu memanfaatkan pribados sebagai hewan kurban. Padahal, waktu hari raya kurban adalah salah satu kesempatan emas peternak menangguk harga lebih bagus. Toh, kehadiran domba bongsor ini patut disambut hangat sebagai salah satu jawaban atas tantangan akan kebutuhan protein hewani yang kian meningkat. Pun, dengan masa budidaya yang singkat, perputaran uang di peternak lebih cepat. (Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software