Dluwang Saksi Bisu Peradaban

Filed in Eksplorasi by on 02/10/2013
Sosok dluwang Broussonetia papyrifera, tanaman bahan baku kertas

Sosok dluwang Broussonetia papyrifera, tanaman bahan baku kertas

Pohon dluwang yang menjadi saksi peradaban manusia itu kini mulai dikembangkan lagi. Ia penghasil kertas berkualitas.

Tukirin Partomihardjo menyampul buku pelajaran dengan kertas kecokelatan. Teksturnya agak kasar. Itulah kertas dluwang. Tukirin yang belajar di SD Negeri Keleng, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada 1959, masih menyimpan kenangan itu hingga kini. Profesor riset bidang ekologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, ingat persis warung di desanya ketika itu menjajakan kertas dluwang. Pada masa itu dluwang menjadi nama generik untuk menyebut kertas.

Ahli etnobotani dari Pusat Penelitian Biologi, Prof Dr Yohanes Purwanto, mengatakan apa pun jenis kertasnya, orang menyebut dluwang. Bahkan, dluwang juga digunakan untuk menyebut uang kertas sekalipun. Sebutan itu mengacu pada nama pohon bernama dluwang Broussonetia papyrifera. Itu kisah dahulu, pertengahan abad ke-20. Kini berubah, pada awal abad ke-21 seiring dengan menyusutnya populasi pohon penghasil kertas itu, orang tak lagi mengenal dluwang. Pohon dluwang menjadi asing.

Joko Ngadimin menanam dan mengolah dluwang di Sukoharjo

Joko Ngadimin menanam dan mengolah dluwang di Sukoharjo

Di sebuah tepi jalan di Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tumbuh delapan pohon dluwang. Lokasi tumbuh persis di tepi jalan yang menghubungkan kampung itu ke jalan besar. Kira-kira berjarak 5 meter dari pohon itu berdiri gedung sekolah dasar. Meski setiap hari melewati jalan itu, anak-anak sekolah itu tak mengenal pohon dluwang alias daluwang yang tumbuh berderet-deret. ”Teu terang (tak tahu, red),” ujar seorang siswa ketika Trubus bertanya nama pohon itu.

Padahal, di dekat sekolahan itu ada Deden Rahmat Hidayat yang mengolah daluwang menjadi kertas. “Kakek titip agar daluwang tidak punah,” kata Deden. Ia memang tak bertemu langsung dengan kakek, Bisri, tetapi pesan itu diteruskan oleh ayah mertuanya, Kosim. Baik Bisri maupun Kosim, semasa hidup mereka berkeliling ke seantero Garut dan Bandung untuk mencari pohon dluwang, lalu mengolahnya menjadi kertas. Pekerjaan itu kini beralih ke tangan Deden yang menikahi Euis Marlinah, anak Kosim.

Deden rutin mencari pohon dluwang ke berbagai lokasi seperti  Cigadog, Cukang, dan Biru—semua di Kabupaten Garut—dengan berjalan kaki. Ia tahu persis tempat tumbuh pohon anggota famili Moraceae itu. Masyarakat di Garut menanam saeh alias dluwang di pekarangan, tebing, atau sebagai pembatas lahan. “Saeh bagus sebagai pencegah tanah longsor,” kata Deden. Itulah sebabnya Atep Mulyadi di Desa Linggamukti, Kecamatan Sucinaraja, Garut, menanam belasan dluwang di sisi kanan rumahnya, persis di bibir tebing.

Deden Rahmat Hidayat mengolah kulit batang dluwang menjadi kertas

Deden Rahmat Hidayat mengolah kulit batang dluwang menjadi kertas

Tinggi tebing mencapai 3 meter. Genting rumah di sisi kanan hunian Atep sejajar dengan lantai rumahnya. Belasan dluwang itu tumbuh berjejer di sepanjang tebing. Deden menjelaskan akar dluwang menjalar kuat ke berbagai arah sehingga tebing tak mudah longsor. Sementara Kunang di Desa Biru, Kecamatan Sucinaraja, Garut, memanfaatkan dluwang sebagai pembatas lahan. Menurut Deden mereka menanam dluwang tanpa melakukan perawatan berarti seperti pemupukan.

Meski demikian pohon kerabat nangka itu memberikan pendapatan tambahan bagi pemiliknya. Deden mengatakan pohon anggota famili beringin-beringinan itu siap panen perdana pada umur 16 bulan ketika tinggi mencapai 10 meter dan diameter 7 cm. Saat itu akar tanaman sudah kuat. Panen pada umur itu untuk bahan baku kertas. Jika hendak memanfaatkan dluwang sebagai bahan baju kain, maka panen pada umur minimal 2 tahun. “Semakin tua umur pohon, maka semakin kuat serat,” kata Deden.

Namun, jika pohon terlalu tua pengolahan kulit batang justru sulit. Oleh karena itu umur panen harus pas. Dalam pencarian bahan baku kertas, jika menemukan pohon siap panen Deden langsung menyodorkan harga kepada pemilik. Namun, jika kebetulan pemilik tak di rumah—seisi rumah pergi—ia langsung menebang dan menyelipkan pembayaran di bawah pintu rumah sang pemilik. Para pemilik pohon dluwang di Garut paham benar bahwa Dedenlah yang menebang pohon itu.

Saat ini Deden membeli sebuah pohon berdiameter seukuran jempol kaki Rp20.000—Rp30.000 tergantung ukuran pohon. Ia biasanya hanya mengambil kulit batang dan meninggalkan kayu di pekarangan pemilik pohon. Begitu membuka pintu dan menemukan uang di lantai, pemilik pohon seolah mendapat rezeki tak disangka-sangka. Keluarga Asep di Cigadog pernah menangis saking bahagianya ketika Deden menebang puluhan pohon dluwang miliknya.

Akasia bahan baku kertas yang banyak dibudidayakan secara massal

Akasia bahan baku kertas yang banyak dibudidayakan secara massal

Harap mafhum sudah tiga hari keluarganya tak dapat memasak karena persediaan beras habis. Begitu Deden membayar tunai, keluarga itu membeli beras dan ikan asin. “Saya membayar Rp300.000,” kata Deden yang turut makan siang usai transaksi itu. Apalagi setelah penebangan, pohon akan bertunas dan tumbuh kembali dan siap panen pada umur 8  bulan begitu seterusnya. Artinya dari sekali tanam, pekebun dapat panen berulang-ulang.

Menurut pekebun dluwang di Desa Bakalan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Joko Ngadimin,  panen lebih dari umur 8 bulan membuat kertas yang dihasilkan kurang bagus dan kasar. “Getah dluwang yang berfungsi merekatkan kulit kayu semakin sedikit,” kata Joko kepada reporter Trubus Riefza Vebriansyah. Joko menanam 100 bibit pada 2010 itu. Ketika mulai menanam dluwang berjarak 60 cm x 60 cm, pria 43 tahun itu mendapat banyak cibiran dari warga.

Joko belum mengolah secara rutin kulit batang dluwang. Ia baru 3 kali mengolah masing-masing menghasilkan selembar kertas berukuran 90 cm x 75 cm. Joko berencana memanfaatkan kertas-kertas bikinannya dari pohon berumur 8 bulan untuk menggambar wayang beber. Deden pernah mengolah kulit batang dari pohon berumur 3 bulan. Namun, kertas dari pohon terlalu muda lebih kusam.

Deden mengatakan sepanjang turus atau bekas tebangan masih memunculkan tunas baru, maka pohon masih dapat dipanen. Oleh karena itu para pemilik pohon di Garut  dapat panen berulang-ulang dari sekali penanaman. Pria 54 tahun itu mengolah kulit pohon dluwang menjadi kertas. Dari sebuah pohon setinggi 10 meter dan diameter 7 cm, Deden memperoleh 12 lembar kertas folio. Sementara untuk membuat sebuah baju orang dewasa berbobot normal, ia memerlukan  kulit batang 3 pohon berumur 2 tahun.

Gondorukem atau getah pinus menyebabkan pH kertas rendah

Gondorukem atau getah pinus menyebabkan pH kertas rendah

Menurut Deden permintaan kertas dluwang relatif banyak. Permintaan dari Bali, misalnya, mencapai 5.000 lembar kertas berukuran 120 cm x 60 cm per bulan. Deden mengatakan   3—6 bulan sekali pembeli asal Bali datang ke rumahnya untuk mengambil kertas itu.  Sekali pengambilan, Deden hanya mampu menyediakan 100—200 lembar. “Bahan bakunya susah,” kata Deden yang menerima harga Rp150.000 per lembar. Deden mengatakan pembeli di Bali memanfaatkan kertas-kertas dluwang itu sebagai bahan baku pembuatan wayang beber dan penulisan kaligrafi.

Importir dari Brunei Darussalam juga meminta dalam jumlah besar, tetapi Deden tak sanggup memenuhinya. “Di Brunei kertas dluwang untuk menulis surat-surat penting,” ujar Deden. Sayang untuk memenuhi tingginya permintaan, ia kekurangan bahan baku kertas. Itulah sebabnya ia berharap dapat mengebunkan sendiri sehingga kebutuhan bahan baku tercukupi. Namun, ayah enam anak itu belum memiliki lahan untuk pengembangan dluwang.

Pulp dari kayu jabon bahan baku kertas

Pulp dari kayu jabon bahan baku kertas

Meski secara turun-temurun sebagian kecil masyarakat memanfaatakan dluwang, Trubus belum menemukan riset mengenai dluwang sebagai bahan baku.  Ahli bahan baku kertas dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Wasrin Syafii MAgr, mengatakan informasi mengenai rendemen dan kandungan selulosa, panjang serat, dan diameter serat sebuah pohon bahan baku kertas amat penting. Kandungan selulosa akasia yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas, misalnya, relatif tinggi hingga 50%. Dalam proses pengolahan sebagian selulosa itu memang terdegradasi sehingga rendemen akasia hanya 45%.

Adapun panjang dan diameter serat berkaitan dengan keawetan kertas yang kelak dihasilkan. Deden mengatakan bahwa kertas dluwang  awet. Ia mencontohkan di Desa Sadahurip, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, terdapat sebuah Al Quran berbahan kertas dluwang berumur 200 tahun. Ahli Filologi (ilmu tentang naskah kuno) dari Universitas Pendidikan Indonesia, Dr Tedi Permadi MHum, mengatakan pada zaman dahulu para santri dan kyai memanfaatkan kertas dluwang untuk menulis ayat-ayat Al Quran atau kaligrafi. Namun, sebetulnya sejarah dluwang jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia.

Doktor Filologi alumnus Universitas Padjadjaran itu mengatakan pada zaman Hindu kertas dluwang digunakan untuk menulis cerita wayang beber. Penulisan kisah Ramayana juga menggunakan kertas dluwang. Dalam bahasa Jawa kata dalu berarti malam, dan wang bermakna manusia. Artinya orang yang bekerja pada malam hari. Itu merujuk pada proses penulisan kisah Ramayana yang berlangsung pada malam hari. Selain itu menurut Tedi yang merujuk pada buku “Literature of Java”, para pendeta Hindu juga mengenakan pakaian dari dluwang.

Perbanyakan dluwang lebih mudah secara vegetatif dari tunas akar. Spesies langka itu di Garut berbuah 4 tahun sekali

Perbanyakan dluwang lebih mudah secara vegetatif dari tunas akar. Spesies langka itu di Garut berbuah 4 tahun sekali

Di Museum Nasional terdapat alat pemukul terbuat dari batu untuk mengolah kulit batang pada abad ke-3 sebelum Masehi. Menurut Tedi masyarakat pada era itu menggunakan kulit kayu yang ditumbuk atau tapa. Namun, Tedi tak yakin bahwa hanya dluwang yang digunakan. Sebab, kulit batang beragam spesies lain seperti kluwih atau anggota famili Moraceae lain juga dapat diolah menjadi kain atau kertas. Meski demikian, di Indonesia dluwang menjadi saksi peradaban.

Menurut ahli kertas di Balai Besar Pulp dan Kertas, Ir Taufan Hidayat MS, kertas memang bisa tahan lama hingga 500 tahun. Taufan mengatakan keawetan kertas antara lain dipengaruhi oleh alkalinitas. “Jika pH kertas rendah, kertas lebih cepat rusak,” ujar alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung itu. Ketika pH rendah, di bawah 5, maka selulosa mudah terhidrolisis atau terdegradasi.

Peneliti di Balai Besar Pulp dan Kertas, Dra Jenny  Resmijana, mengatakan pH rendah bisa jadi akibat proses darih atau sizing. Darih bertujuan agar kertas dapat menyerap tinta dengan baik atau tidak “mblobor”. Pabrik kertas memanfaatkan gondorukem atau getah pinus. Namun, penggunaan resin pinus berefek pH kertas rendah karena gondorukem memang bersifat asam. Oleh karena itu pemberian resin harus cermat. Untuk mengatasi pH rendah, produsen memanfaatkan bahan tertentu seperti kalsium karbonat.

Konsumsi kertas Indonesia relatif rendah, 30 kg per kapita per tahun

Konsumsi kertas Indonesia relatif rendah, 30 kg per kapita per tahun

Taufan mengatakan kertas sama seperti GNP (gross national product) menjadi indikator kemajuan suatu bangsa. Konsumsi kertas negara-negara maju cenderung tinggi dan sebaliknya. Konsumsi kertas Indonesia  30 kg per kapita per tahun. Bandingkan dengan Jepang, 200 kg per kapita per tahun. Meski pada era nirkertas (paperless) konsumsi kertas cenderung melonjak dari tahun ke tahun dengan tingkat pertumbuhan 4%. Kertas menjadi bagian dari peradaban manusia.

Sekecil apa pun, pohon dluwang yang kini masih ditanam di berbagai daerah seperti Garut (Jawa Barat), Sukoharjo (Jawa Tengah), dan Ponorogo (Jawa Timur) tetap berperan dalam peradaban. Deden berupaya meneruskan pengolahan dluwang kepada enam anaknya. Anak-anaknya kini pun mahir mengolah kulit batang itu menjadi kertas. Paper mulberry itu harus kian berkembang agar jangan hilang seperti sang penemu kertas, Tsai Lun. Setelah mandi dan mengenakan pakaian terindah miliknya, Tsai Lun menenggak racun. Ia mengakhiri hidupnya secara tragis dengan bunuh diri. (Sardi Duryatmo)

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software