Dinding Hijau Kayu dan Bambu

Filed in Laporan khusus by on 05/09/2010 0 Comments

 

Taman vertikal di stan Community in Bloom pada Singapore Garden Festival (SGF) 2010.Taman vertikal di stan Community in Bloom. Bambu dibuat rak dengan struktur tunggal sehingga hemat ruangAneka kreasi taman vertikal berbahan bambu itu dipamerkan pada ajang Singapore Garden Festival 2010. Salah satu yang unik ditemukan di stan Community in Bloom (CIB). Di sana 26 batang bambu yang berdiameter dan panjang sama disusun di permukaan papan hitam. Jarak antarbambu

25 cm. Batang bambu sengaja tidak dicat agar terlihat alami. Dinding batang bambu itu lantas menjadi tambatan pot-pot tanaman hias. Pot dicengkeram kawat besi lalu diikat ke bambu. Agar menarik pot dibungkus kain kasa putih lalu diletakkan zig-zag dengan jarak antarpot sekitar 40 cm.

Di pot-pot itu jawer kotok alias coleus dan paku pedang Nephrolepis exaltata ditanam berselang-seling. Di antaranya terlihat anggrek oncidium yang ditanam dalam kantong terbuat dari jaring peneduh berwarna hitam. Anggrek-anggrek yang akarnya terbungkus serat sabut kelapa itu menjadi pengisi ruang kosong.

Stan CIB juga memamerkan vertikal bambu berupa rak.  Sepuluh bilah bambu disusun menjadi kotak-kotak berukuran 50 cm x 50 cm. Di beberapa kotak dibuat selasar dari batang bambu berukuran 40 cm yang disusun rapat untuk  meletakkan pot  aneka jenis anggrek.

Community in Bloom adalah komunitas yang dibentuk Singapore National Parks Board (NParks) untuk mewadahi perkumpulan warga Singapura yang hobi merawat taman. Hingga kini sudah      300 perkumpulan menjadi anggota. Aktivitas mereka membangun taman untuk menciptakan suasana asri di lingkungan pemukiman. Setiap 2 tahun  NParks memberikan penghargaan pada anggota yang paling aktif dan kreatif merancang taman.  ‘Tujuannya menggugah warga untuk memanfaatkan setiap lahan kosong untuk ditanami,’ kata Simon John Longman, direktur streetscape Singapore National Parks Board.

Dua tahuan lalu Albert Quek menerima penghargaan CIB karena sukses merancang taman vertikal berbahan bambu di apartemen miliknya di Estella Garden, Singapura (baca: Pesona Dinding Hidup, Trubus edisi November 2008). Berkat karyanya itu ia ditetapkan sebagai CIB Ambassador pada 2009. Albert menggunakan batang bambu berdiameter 3 cm. Ukuran yang kecil cocok digunakan di lahan sempit seperti balkon. ‘Agar rangka bambu kuat menopang tanaman, maka pilih tanaman yang tidak terlalu rimbun. Media tanam juga ringan seperti serat sabut kelapa atau sphagnum moss,’ kata Albert.

Menurut Heri Syaefudin, perancang taman di Sawangan, Depok, Jawa Barat, bambu cocok sebagai kerangka taman vertikal karena teksturnya liat dan ringan.  Ia juga lebih awet ketimbang kayu karena diselimuti lapisan kulit yang keras dan jalinan serat sehingga lebih tahan air saat penyiraman. ‘Bambu bisa tahan minimal 5 tahun,’ ujarnya.

Dalam ruangan

Yang juga membuat taman vertikal berbahan bambu adalah stan Greenview Secondary School. Sang perancang yang masih di bangku sekolah menengah itu menyusun batang bambu rapat-rapat sehingga membentuk dinding. Pada dinding bambu itu dikaitkan beberapa pot tanaman hias seperti anggrek dan tanaman gantung. Batang bambu tidak dicat agar terlihat alami. Untuk menyamarkan ujung bambu mereka menambahkan janggut musa Tillandsia usneoides. Sederhana tapi menarik. ‘Elok digunakan sebagai pembatas ruangan,’ ujar Ir Hari Harjanto, perancang taman di Depok.

Bilah-bilah bambu tampil lain di tangan Jun-Ichi Inada, perancang taman asal Jepang. Inada mengonsep bambu sebagai elemen taman vertikal untuk di dalam ruangan. Inada memanfaatkan bambu berdiameter 15 cm untuk menanam crinum variegata. Bakung-bakungan yang akarnya dibungkus serat sabut kelapa itu dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat 5 cm di atas buku.

Inada juga merancang rak dari dua batang bambu yang disusun rapat. Keduanya dilubangi lalu disisipkan papan kayu dan batu pipih. Tanaman diletakkan di atas permukaan kedua alas itu. Batang bambu disusun sedemikian rupa sebagai bagian dari interior ruang tamu.

Menurut Hari, tanaman yang cocok untuk taman vertikal dalam ruangan adalah yang menyukai cahaya terbatas seperti aglaonema, anthurium, philodendron, peperomia, dan paku-pakuan. Beberapa tanaman lain seperti coleus – yang menyukai cahaya – dapat digunakan asalkan lokasi taman vertikal berada di dekat jendela yang memungkinkan cahaya masuk. Cara lain dengan memberi cahaya tambahan dari lampu neon atau lampu pijar.

Portable

Pada pameran 2 tahunan itu Inada juga merancang taman vertikal berbahan kayu. Ia membuat 2 bingkai papan kayu berukuran 0,5 m x 2 m dan 1 m x 2 m. Di bagian tengah bingkai diletakkan pot berdiameter 10 cm yang ditanami aneka sayuran seperti cabai rawit dan tomat, serta bromelia. Permukaan pot ditutup busa agar media tanam tidak tumpah. Bingkai kayu dicat dengan vernis agar mengilap dan tekstur kayunya jelas. Bingkai lalu disandarkan pada dinding untuk menghias ruang tamu. ‘Bingkai itu dapat dipindah-pindahkan sesuai keinginan,’ kata Inada.

Nun di Bandung, Jawa Barat, Iwan Irawan juga berkreasi menciptakan taman vertikal berbahan kayu. Uniknya yang digunakan berupa tunggul atau sisa tebangan kayu tua seperti jati, rambutan, nangka, dan durian. Kayu dipotong membujur dengan ketebalan 5 – 10 cm. Potongan itu lalu dipahat agar tekstur permukaan kayu tidak rata. Lubang-lubang akibat gigitan rayap sengaja dibiarkan menganga untuk menambah kesan eksotis.  Lempengan kayu disatukan dengan pasak besi sehingga membentuk dinding. Beberapa jenis anggrek  diselipkan pada lubang bekas gigitan rayap dan diikatkan di permukaan kayu.

Okih Sunardi, pengusaha yang tinggal di kawasan elit Dago Pakar, Bandung, pun kepincut mengoleksi karya Iwan dan menempatkannya di selasar rumah. Dinding pun hijau dan berbunga karena bambu dan kayu. (Imam Wiguna/Peliput: Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software