Dicari! Ubijalar Ungu

Filed in Uncategorised by on 01/08/2012 0 Comments

Kini ubijalar berwarna ungu tengah menjadi primadona.

Siang itu sepuluh pekerja sibuk mencabut, membersihkan, dan memasukkan umbi-umbi segar ubijalar Ipomea batatas ke dalam karung-karung plastik. Mereka lalu menaikkan karung-karung itu ke atas pick up bermuatan 2 ton. Dengan kendaraan itulah Purwanto, si empunya kebun ubijalar di Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, itu mengirim umbi tanaman anggota famili Convolvulaceae itu ke minimal dua industri pengolah ubijalar, dua pasar tradisional, dan beberapa industri penghasil keripik skala rumahan.

Total jenderal setiap minggu pria 37 tahun itu memasok 21-22 ton ubijalar. Dari jumlah itu sebanyak 8-9 ton terserap oleh pabrik pengolahan ubijalar Republik Telo, 5 ton untuk pabrik keripik merek Keripik Ungu Abadi, masing-masing 2 ton untuk pasar tradisional, dan sisanya masuk ke industri keripik skala rumahan-seluruhnya di Malang. Dengan harga jual Rp2.000 per kg yang berlaku sejak 4 tahun terakhir pria tamatan Sekolah Menengah Pertama itu mengantongi omzet Rp42-juta-Rp44-juta per minggu alias Rp168-juta-Rp176-juta per bulan.

Banyak olahan

Purwanto memasok ubijalar berwarna ungu. “Permintaannya tinggi,” katanya. Permintaan ubi berwarna kuning ada, tapi kecil. Pertama kali memasok ke Republik Telo pada tujuh tahun silam volume pengiriman hanya 1,2-1,5 ton per minggu.

Dalam dua tahun angka itu naik menjadi 2,5 ton per minggu. Bahkan setahun terakhir permintaan itu menjadi 8-9 ton per minggu. Lonjakan itu seiring naiknya permintaan konsumen terhadap berbagai olahan ubijalar ungu di Republik Telo. Industri pengolahan yang dikomandoi Unggul Abinowo itu memproduksi keripik, bakpia, dodol, hingga es krim, nugget, sandwich, dan brownies ubijalar ungu.

“Konsumen menyukai olahan ubijalar ungu karena selain rasanya enak, penampilan olahan menarik,” tutur Endi, salah satu staf humas Republik Telo. Pantas jika omzet penjualan Republik Telo terus menanjak. Pada 1998 ketika pertama kali memperkenalkan olahan ubijalar ungu produksi bakpia ubijalar ungu misalnya hanya 30 buah per hari. Kini 25.000 bakpia ubijlar ungu per hari. Total jenderal setiap hari Republik Telo mengolah 20 ton ubijalar ungu per hari, ubi putih dan kuning hanya setengahnya.

Lonjakan permintaaan juga dirasakan oleh M Luthfi Yuniarto, produsen eggroll ubijalar ungu di Yogyakarta. Dalam waktu kurang dari 3 tahun produksinya melonjak dari 70-100 pak per hari menjadi 700 pak per hari. Untuk menjamin pasokan bahan baku, Luthfi yang sekarang mempekerjakan 25 pegawai (dari semula dua pegawai) menjalin kerjasama dengan para pedagang di Pasar Telo, Kota Yogyakarta.

Harap mafhum sejak 3-4 tahun terakhir pamor ubijalar ungu memang tengah naik daun. Salah satu indikasinya menjamurnya industri olahan ubijalar ungu. Telo ungu juga dijajakan hingga ke pasar-pasar modern. “Sebanyak 70 gerai Hypermart di Indonesia membutuhkan 3 ton ubijalar ungu per minggu,” tutur Zoilus Sitepu, manajer fresh product untuk Hypermart Modernland. Harga di tingkat ritel di atas Rp10.000 per kg. Konsumen membeli ubi ungu itu lalu mengolahnya menjadi kolak, merebus, menggoreng, atau campuran ketika menanak nasi. Hasilnya nasi berwarna ungu yang enak dan kaya gizi.

Terkerek ekspor

Geliat di pasar lokal seiring dengan permintaan ubijalar ungu dari mancanegara yang sudah lebih dahulu eksis. Sejak 2002 CV Arjuna Flora di Kotamadya Batu, Provinsi Jawa Timur, mengekspor ubijalar ungu dalam bentuk pasta ke Jepang. Setiap tahun Arjuna Flora mengirim dua kali, masing-masing sebanyak satu kontainer 20 feet berisi 28-30 ton pasta. Setiap kilogram pasta diperoleh dari 2 kg umbi segar.

Pantas jika penanaman ubijalar ungu terus meluas. Penelusuran Trubus sentra penanaman telo ungu tersebar di Pandeglang (Banten), Malang dan Banyuwangi (Jawa Timur), Sleman (Yogyakarta), dan jalur pantura Jawa mulai Subang (Jawa Barat) hingga Brebes, Tegal, hingga Pemalang (Jawa Tengah). Nun di Desa Ukirharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, sejak awal 2011 Simpang menanam ubijalar ungu di luasan 1.600 m2. Dari luasan itu ia memanen 4 ton yang habis diserap kelompok tani perempuan yang memproduksi keripik ubijalar ungu dan pasar tradisional.

H Muksin, ketua Gabungan Kelompoktani Sri Mulya Tani, menuturkan di sentra penanaman ubijalar di Desa Sindangkarya, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, pekebun baru mulai menanam ubijalar ungu sejak empat tahun silam. Dari luas total 150 ha penanaman ubijalar, separuhnya untuk ubi ungu.  “Ubi ungu mudah dipasarkan, permintaannya banyak, dan harga lebih tinggi daripada ubi kuning,” kata Rusdi, salah seorang pekebun.

“Di Kecamatan  Menes-terdiri atas 12 desa-paling tidak ada 4 desa menjadi sentra ubijalar ungu, yaitu Desa Cigandeng, Sindangkarya, Cilabanwulan,dan Kananga,” tutur Ir Sri Hartiningsih, penyuluh pertanian di Desa Sindangkarya. Menurut hitung-hitungan H Muksin, dari setiap ha pekebun bisa mengantongi laba Rp6-juta per empat bulan per ha (lihat AU).t

Batu sandungan

Demi menuai manisnya bisnis ubijalar ungu, pekebun, pengepul, pengolah harus siap mengatasi beragam kendala. Pengalaman Purwanto puncak produksi pada Agustus-Desember, ketika itu banjir pasokan sehingga harga turun hingga Rp1.500 per kg di petani. Di luar bulan itu pasokan sedikit karena sedang tanam padi sehingga harga bisa meroket sampai Rp3.000 per kg. Di Sindangkarya harga jual ubijalar ungu rata-rata Rp1.500 per kg di tingkat pekebun. Harga naik menjadi Rp2.500 pada Februari, Maret, dan April karena sebagian besar lahan ditanami padi.

Kendala lain, iklim dan lokasi tumbuh. Pada penanaman saat kemarau pekebun mesti menyiram tanaman minimal sekali dalam seminggu. Di Sleman, Simpang kesulitan mendapatkan air karena lokasi penanaman di perbukitan yang berbatu. Padahal kekurangan air menyebabkan boleng yang membuat umbi terasa pahit.

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan secara kontinu, Purwanto mengatur waktu penanaman di kebun supaya bisa panen setiap minggu. Mantan pekerja di pabrik roti, industri perajin perhiasan, dan bangunan itu membagi 8 ha lahan (1 ha milik sendiri dan 7 ha sewa) ke dalam 7-8 waktu penanaman. Setiap kali menanam seluas 1 ha. Ubi siap dipanen 4-5 bulan pascatanam. Dari setiap 1 ha Purwanto memanen 21-22 ton per ha. Kekurangan pasokan didapat dari 100 pekebun mitra berlokasi di Malang dan Banyuwangi. Setelah panen, Purwanto menyelang penanaman dengan tanaman sayuran seperti wortel, kubis, dan cabai, atau jagung dan padi.

Ia menanam varietas murasaki sesuai kebutuhan pembeli. Varietas asal Jepang itu warna ungunya tidak berubah, tekstur renyah, dan bercita rasa manis saat digoreng. Industri keripik mensyaratkan umbi yang dipanen pada umur 5 bulan pascatanam. Umbi panen muda lebih boros minyak 20-30% saat penggorengan. Pemasok mengirim dalam bentuk umbi segar utuh kupas.

Produktivitas ubijalar ungu lebih rendah daripada ubijalar kuning. Namun, petani ajek menanam karena harga jual ubijalar ungu lebih tinggi Rp500-Rp1.000 per kg daripada ubijalar kuning. Oleh karena itu jika pekebun, pengepul, dan pengolah bisa mengatasi kendala peluang mendulang keuntungan terbentang. “Menanam ubijalar lebih menguntungkan daripada padi, kacangpanjang, dan kedelai,” kata Rusdi. Bahkan di Sindangkarya ada jargon di kalangan pekebun, “ubi si jaga utang.” Maksudnya karena hasilnya banyak, ubi menjadi andalan untuk membayar utang. Pantas bila ubijalar ungu kini tengah jadi primadona. (Evy Syariefa/Peliput: Andari Titisari, Karjono, dan Rosy Nur Apriyanti)

 

Keterangan Foto :

  1. Purwanto setiap minggu pasok 22 ton umbi segar  ke berbagai industri olahan dan pasar tradisional
  2. Pamor ubijalar ungu kian naik sejak 3 tahun terakhir
  3. Ubi dipanen 4-5 bulan pasca Tanam
  4. Kebun ubijalar ungu bermunculan di berbagai daerah, terutama di Jawa
  5. Beragam olahan ubijalar ungu, sumber omzet para pelaku bisnis
 

Powered by WishList Member - Membership Software