Di Sini Tersedia Bibit Unggul

Filed in Topik by on 01/04/2009 0 Comments

Dua hari kemudian permintaan itu ditanggapi pembibit dari Pemalang, Jawa Tengah. Sayang, 3 minggu berikutnya saat akan dikirim, seluruh bibit itu mati. ‘Mungkin stres karena penjualnya mengambil langsung dari Cijengkol, Subang, lalu diangkut ke Pemalang, baru kemudian dikirim ke tempat saya,’ kata Luqman, peternak di Desa Pasarbatang, Brebes, Jawa Tengah itu.

Setelah tahu sumber bibit sangkuriang ada di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar (BPBPAT), Luqman datang langsung. Di sana ia membeli 10.000 bibit ukuran 5-7 cm yang langsung ditebar pada Maret 2009. Yang diminta Luqman sebetulnya tak seberapa dibandingkan produksi BPBPAT, 2-juta bibit sangkuriang pada 2008. Menurut Yanto Suparyanto, peneliti lele, ukuran yang tersedia beragam: 2-3 cm, 3-5 cm, dan 5-8 cm.

Permintaan tinggi

Menurut Ade Sunarma MSi, perekayasa di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat, bibit-bibit yang tidak lolos itu tetap bagus dibesarkan sampai ukuran konsumsi (7-10 ekor per kg). ‘Yang penting asal-usul induk jelas dan tidak inbreeding,’ kata Ade yang membidani sangkuriang pada 2002. Nah, untuk menjaga kualitas itu BBPBAT secara khusus mencetak calon induk. Pada 2008, sebanyak 2.460 ekor calon induk disebar ke balai-balai perikanan, kelompok tani, dan perorangan di seluruh tanahair.

Salah satu pembesar calon induk itu, Eko Bambang Suwanto SPd.I di Gunungkidul, Yogyakarta. Ia kini memiliki 104 induk sangkuriang, rata-rata berbobot 2 kg. Dari pemijahan induk Eko mencetak 50.000 bibit per bulan.

Toh itu belum mencukupi kebutuhan sebesar 80.000 bibit/bulan. Peternak di Gunungkidul, Kulonprogo, Sleman, Bantul, Wonogiri, dan Klaten meminta 30.000 bibit/bulan. Permintaan terbesar datang dari Bali sebanyak 50.000 bibit/bulan.

H Carmin Iswahyudi, peternak sekaligus pembibit di Losarang, Indramayu, Jawa Barat, pun kelimpungan. Menurutnya pascakemarau permintaan bibit bakal melonjak 100%. Ia sendiri memasok 1,2-juta bibit/bulan. ‘Bila masih kurang, bibit diambil dari Cirebon dan Karawang,’ ucap Maming-sapaannya.

Muhidin, pembibit di Magelang, Kecamatan Muntilan, Yogyakarta, mestinya mendulang Rp18-juta bila sanggup melayani permintaan 200.000 bibit per minggu dari peternak di Jakarta. ‘Tidak sanggup,’ ucapnya. Produksi sebanyak 1,5-juta bibit per minggu hanya mencukupi kebutuhan peternak di Demak, Boyolali, dan Kendal, Jawa Tengah.

Paiton

Tingginya permintaan itu mendorong Muhidin memijahkan sendiri. Awal 2009, ia mendatangkan induk lele paiton sebanyak 4 kuintal. Produksinya kini mencapai 300.000 larva per tetasan.

Paiton lebih tersohor di sekitar Banten seperti di wilayah Serang, Cilegon, dan Ciruas. Maklum, di sana gudangnya bibit lele hasil silangan lele eks Thailand dan dumbo itu. ‘Februari lalu kami mencetak 90.000-100.000 bibit dari 4 pasang induk,’ kata Aji Satria Prambajati, wakil ketua kelompok Sinar Kehidupan Kekal, di Pandeglang, Banten, itu. Bila ditotal kelompok itu mampu memproduksi 500.000 bibit per bulan.

Jumlah itu masih jauh dari permintaan peternak setiap tahun yang meningkat 30%. Menurut Aji sejak ukuran 1-2 cm bibit paiton sudah diinden. Pantas Aji menargetkan pada 2009 kelompoknya dapat memproduksi 1-juta bibit per bulan.

Lantaran pembibit tersebar di berbagai tempat, harga pun bervariasi. Kelompok Perikanan Trunojoyo, di Kulonprogo menjual bibit ukuran 3-5 cm seharga Rp80 per ekor. Lainnya, 4-6 cm Rp100 per ekor dan 5-7 cm Rp130 per ekor. Di BPBAT ukuran 2-3 cm seharga Rp30/ekor, 3-5 cm (Rp50/ekor), dan 5-8 cm (Rp100/ekor). Meski demikian berapapun harganya bibit dikejar karena kebutuhannya belum tercukupi. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Dian Adijaya Susanto, Faiz Yajri, dan Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software