Di Rawa Kita Jaya

Filed in Sayuran by on 02/08/2013 0 Comments

Produksi kedelai di lahan pasang surut 4,63 ton per ha.

“Luar biasa!” komentar spontan Prof Munif Ghulamahdi, periset kedelai di Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Saat itu, ia sedang menghitung hasil panen kedelai di lahan pasang surut di Desa Banyuasin, Kecamatan Tanjunglago, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Produktivitas Glycine max itu mencapai 4,63 ton, jauh melampaui rata-rata produksi nasional yang hanya 1,36 ton per ha.

Budidaya jenuh air menjadi kunci lonjakan fantastis itu. Penelitian Munif sejak 2009 membuktikan, jumlah polong pada tanaman dengan budidaya jenuh air meningkat 8 kali lipat dibandingkan tanpa pengairan. “Saya pernah panen sampai 400 polong per tanaman,” ujar Munif. Lazimnya, setiap tanaman hanya menghasilkan 33—64 polong. Saat itu, suhu berkisar 27,7—34,4ºC, optimal untuk meningkatkan jumlah polong kedelai.

Saluran air

Parit berfungsi sebagai penampungan air saat hujan

Parit berfungsi sebagai penampungan air
saat hujan

Munif menanam kedelai di lahan pasang surut tipe C. Artinya, lahan tidak tergenang ketika air pasang, tetapi permukaan air tanah dangkal, kurang dari 50 cm. Lahan pasang surut tipe C banyak terdapat di daerah tanggul sungai dan di bagian lereng lembah. Tipe itu relatif kering dan tidak pernah tergenang meski pasang besar. Total luas lahan pasang surut di Sumatera Selatan menurut data Balai Penelitian Tanah pada 2007 mencapai 29.186 ha.

Menurut anggota staf Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Ir Koesrini MP, petani biasa menanam padi gogo saat musim hujan dan palawija saat musim kemarau di lahan pasang surut. Varietas dipilih yang mampu beradaptasi di dataran rendah. Namun, produktivitasnya paling banter hanya 1 ton per ha.

Untuk melakukan budidaya jenuh air, mula-mula Munif membalik tanah sedalam 5 cm dengan bajak atau cangkul. “Pengolahan tanah di lahan pasang surut tidak boleh terlalu dalam. Pasalnya, di kedalaman 50 cm dari permukaan tanah ada kandungan pirit (FeSO4),” kata guru besar di Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor itu. Jika pirit terangkat ke lapisan atas, tanaman menyerap kandungan besi dan menjadi keracunan. Pirit yang teroksidasi juga menurunkan pH tanah sehingga menjadi lebih asam.

Dua minggu sebelum tanam, ia menebar pupuk dasar berupa 2 ton dolomit, 2,5 ton pupuk kandang, 400 kg SP-18, dan 100 kg KCl di sehektar lahan. Selang sehari, Munif membuat parit atau saluran air sedalam 25 cm dan lebar 30 cm. Panjang parit menyesuaikan kondisi lahan, sedangkan jarak antarsaluran 4 m. Secara tidak langsung, pembuatan saluran air juga membentuk bedengan selebar 4 m. Ia lantas membuat lubang tanam di bedengan dengan menugal sedalam 5 cm dan diameter lubang 3 cm. Jarak antarlubang dalam baris di bedengan 20 cm x 25 cm.

Sebelum menanam,  doktor Agronomi alumnus Institut Pertanian Bogor itu memberikan perlakuan pratanam terhadap benih kedelai. Ia mencampurkan 5 g inokulan Rhizobium dan insektisda kontak berbahan karbonat sebanyak 15 g per kg benih kedelai. Benih yang sudah diberi perlakuan itu lantas ia masukkan sebanyak 2 biji per lubang tanam sehingga populasi total 400.000 tanaman per ha. Kebutuhan benih 50 kg per ha. Pada 2 dan 4 minggu pascatanam, Munif menyemprotkan 7,5 g Urea per liter air. Sehektar lahan memerlukan 50 kg Urea.

 

Produksi kedelai di lahan pasang surut, capai 4,63 ton per ha

Produksi kedelai di lahan pasang surut, capai 4,63 ton per ha

Bikin parit

Munif membuat permukaan air di parit tetap stabil setinggi 20 cm sejak tanaman berumur 14 hari sampai polong berwarna cokelat atau sekitar 70 hst (hari setelah tanam). Saluran di sekitar lahan sekaligus berfungsi sebagai tempat penampungan air saat hujan. Air masuk ke dalam tanaman melalui rambut akar secara osmosis atau pergerakan zat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah tanpa memerlukan energi. Dengan demikian, tanaman tidak mengalami stres air, tetapi juga tidak terendam. Jika air di lahan berlebih, Munif membuang air ke tambak udang di sekitar lahan.

Sepuluh hari sebelum panen, Munif mengeringkan lahan. Tujuannya, untuk memudahkan panen. Pada 90 hst, ia memanen 1,72—4,63 ton kedelai per ha. Ayah dua anak itu menanam 4 varietas sekaligus, yaitu tanggamus, wilis, anjasmara, dan slamet. Dari keempatnya, produksi tanggamus tertinggi, mencapai 4,63 ton. Namun, petani lebih menyukai menanam anjasmara. “Biji anjasmara lebih besar dibanding tanggamus, sehingga lebih bagus untuk membuat tempe,” ujar Munif. Menurut Dr Ir Muchlis Adie, periset kedelai di Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-umbian, Malang, Jawa Timur, anjasmara tergolong kedelai berbiji besar karena bobot per 100 biji mencapai 16 gram.

Menurut Munif, konversi hasil penelitian ke petani ialah 60%. Artinya, jika produktivitas tanggamus pada skala penelitian 4,63 ton per ha, maka potensi hasil kedelai mencapai 2,7 ton per ha di tingkat petani. Pada 2012, produksi kedelai nasional menurut Badan Pusat Statistik mencapai 851.647 ton, sedangkan kebutuhan nasional menurut Kementerian Perdagangan mencapai 2,5-juta ton per tahun. Untuk menambah produksi sebesar 1,7 juta ton, perlu menanam kedelai seluas 630.000 ha dengan teknologi budidaya jenuh air. Padahal, potensi lahan pasang surut sangat besar. Menurut Munif, areal lahan pasang surut mencapai 20,1-juta ha dan 2,08-juta hektar di antaranya berpotensi ditanami kedelai. (Kartika Restu Susilo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software