Di Bawah Rongrongan Sundep

Filed in Inspirasi, Majalah by on 10/08/2019

Tanaman padi menjadi sasaran utama hama penggerek batang sejak fase vegetatif.

 

Serangan hama penggerek batang di segala fase pertumbuhan tanaman padi. Perlu siasat mencegah serangan.

“Ketika padi sudah dipanen lalu lahan diairi, serangga dewasa akan keluar dari batang padi atau terbang untuk mencari pasangan (mating),” kata doktor Entomologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Dr. Ir. Bambang Tri Rahardjo, SU. Setelah itu ngengat betina akan mencari tanaman inang untuk bertelur atau oviposisi. Itulah sebabnya Bambang menyarankan petani menunda waktu persemaian agar tingkat serangan hama penggerek batang turun.

Jika petani tidak menyemai padi maka tanaman inang tidak tersedia. Serangga dan telur akan mati sehingga serangan akan menurun. Penggerek batang padi salah satu hama penting yang mengganggu pertanaman Oryza sativa. Menurut Bambang petani idealnya menunda penyemaian hingga 10 hari karena biasanya pengairan bergantian. Selain itu penanaman padi harus dilakukan serentak untuk mencegah overlapping populasi hama.

Insektisida untuk menanggulangi penggerek batang padi.

Terbang jauh

Bambang mengatakan, jenis penggerek batang yang utama menyerang padi adalah penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata dan penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas. Perbedaan keduanya terdapat pada warna tubuh pada fase ngengat atau imago. Menurut M.D. Pathak dan Z. R. Khan dalam Insect Pest of Rice ngengat penggerek batang mampu terbang sejauh 8—16 kilometer dan lebih jauh lagi dengan bantuan angin.

Selain kedua jenis penggerek, masih ada empat penggerek batang padi, yakni penggerek batang bergaris Chilo suppressalis, penggerek batang padi kepala hitam Chilo polychrysus, dan penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius. Kelima hama penggerek itu termasuk ordo Lepidoptera dan anggota famili Pyralidae. Satu lagi jenis penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens termasuk ordo Lepidoptera dan anggota famili Noctuidae.

Ngengat anggota famili Pyralidae itu meletakkan 50—80 telur di ujung bilah daun. Telur terbungkus rambut-rambut berwarna jingga kecokelatan yang berasal dari anus ngengat. Embrio mampu berkembang pada suhu 35ºC dan menetas paling baik pada suhu 24—29ºC dengan kelembapan udara 70%. Ketika kondisi lingkungan sesuai, telur menetas dan menjadi larva. Inilah menjadi titik awal petaka penggerekan.

Petani sejatinya dapat mengendalian telur penggerek dengan pengendalian hayati atau parasitoid. “Telur penggerek banyak ditemui berparasitoid dengan Trichogramma dan Telenomus,” kata Bambang. Namun, kadang-kadang petani kurang sabar, biasanya menyemprotkan insektisida yang tidak jelas sasarannya. Akibatnya perkembangan parasitoid terhambat dan gagal mengendalikan telur-telur yang diinvestasikan sebelumnya.

Sepekan setelah telur menetas menjadi larva atau ulat mulai menggerek batang padi hingga ke dalam. Mereka memakan batang hingga ke permukaan. Akibatnya selama fase vegetatif, bagian tengah daun menggullung, tidak membuka dan berubah warna menjadi kecokelatan dan kering. Gejala itulah yang akrab disebut dengan sundep. Umumnya larva penggerek terdiri atas 4—7 instar dan tidak berkelompok.

Artinya ulat itu berpindah secara individual dan menyebar. Pengendalian pada fase vegetatif biasanya yang paling menjadi perhatian petani. Menurut Rice Crop Manager PT Bina Guna Kimia (FMC), Iman Segara, petani mengandalkan insektisida untuk mengontrol hama penggerek. Di pasaran tersedia beberapa insektisida seperti Prevathon 50sc sebagai andalan mengatasi sundep.

Tepat aplikasi

Rice Crop Manager PT Bina Guna Kimia (FMC), Iman Segara.

Imam Segara menuturkan, “Fase larva adalah fase yang paling merugikan tanaman, karena siklusnya paling lama.” Pemberian larvasida itu ternyata cukup dua kali dalam satu musim tanam yaitu pada 21 hari setelah tanam (HST) dan 28 HST. Dosisnya 750 ml per hektare. “Selaku produsen kami terus mendorong petani agar mengaplikasikan segala bentuk bahan kimia sesuai dengan dosis yang dianjurkan,” kata alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung itu.

Ketika instar terakhir itu berakhir, larva berubah menjadi pupa atau kepompong. Kepompong sutra itu biasanya menempel di bagian batang atau jerami. Fase pupa berlangsung selama 9—12 hari hingga akhirnya ulat kembali menjadi ngengat dan siklus terus berputar. Ngengat penggerek batang bersifat nokturnal, artinya aktif bergerak pada malam hari.

“Prevathon 50sc bersifat racun kontak dan lambung selain itu juga masuk ke dalam label hijau, artinya efektif tapi tetap ramah lingkungan dan musuh alami,” kata Iman. Pengendalian yang kurang tepat jenis dan cara dapat berimplikasi pada kerugian. Pengendalian jangka panjang adalah kunci utama mengatasi serangan penggerek batang, karena penggerek dapat menyerang 2—3 generasi dalam satu musim tanam. Artinya keberadaan penggerek selalu tersedia. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software