Dewa dari Toliara

Filed in Uncategorised by on 01/06/2012 0 Comments

Mengincar satu, mendapat 22.

Sugita Wijaya sudah kepincut pada sosok Euphorbia tulearensis sejak 2006. “Eksotis,” tutur hobiis di Surabaya, Jawa Timur, itu tentang sang idaman. Di mata Wijaya tepi daun E. tulearensis yang mengeriting dan berwarna abu-abu membuat  tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu benar-benar menawan. “Dia hidup tapi seperti tanaman mati,” ujarnya.

Belum lagi sosok tanaman memang unik. Daun tebal, berlipat, dan bergerigi. Warnanya paduan hijau, abu-abu, dan keunguan. Pangkal batangnya sudah membentuk kaudeks-bonggol itu biasanya terbentuk ketika tanaman berumur minimal 5 tahun. Di ujung setiap cabang, di bawah daun, tumbuh bulu-bulu halus.

Untuk memperoleh tanaman yang sosok batangnya lebih pendek bila ditanam di area terbuka itu, Wijaya harus merogoh kantong lebih dalam. Sebab si empunya tanaman yang berdomisili di Republik Ceko hanya mau melepas kerabat singkong itu jika Wijaya memborong seluruh koleksi yang berjumlah 22 tanaman-seluruhnya E. tulearensis. Setelah empat tahun menimbang-nimbang, pada 2010 akhirnya Wijaya menerbangkan sukulen itu ke kediaman.

Madagaskar

Harap mafhum E. tulearensis jenis langka. Dalam Convention on International Trade in Endangered Spesies (CITES) tanaman yang memiliki bunga berwarna hijau pucat itu termasuk dalam apendiks 1-dua tahap terakhir sebelum terbilang punah. Habitatnya di sebuah daerah di dekat pantai barat daya Madagaskar-kota Toliara atau Tulear-berubah menjadi kota yang terus berkembang.

Nama habitat itu, disematkan untuk menyebut E. tulearensis. Tanaman itu juga ditemukan tumbuh di semak dan tebing kapur berbatu selama perjalanan menuju Saint Augustin, sebuah distrik di Tulear. Keelokannya membuat banyak kolektor dari berbagai belahan dunia terpikat. “Di Eropa ia ibarat dewa bagi para kolektor dan hobiis euphorbia,” tutur Dwi Wahyu Setyono, hobiis di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Para penangkar memperbanyak tanaman yang pertama kali ditemukan oleh Werner Rauh pada 1988 itu dengan berbagai cara seperti grafting. Dari hasil budidaya itulah para hobiis mendapatkan E. tulearensis. Toh jumlahnya tetap terbatas sebab pertumbuhan sukulen itu lamban. “Sejak awal membeli sampai sekarang ukurannya tidak bertambah 1 cm pun,” tutur Wijaya.

Pencinta sukulen itu juga mengoleksi Euphorbia mahabobokensis. Euphorbia yang tahan berada dalam lingkungan kering koleksi Wijaya itu elok dengan kaudeks bak buah jeruk bali yang tertimbun dalam tanah. “Biasanya bonggol mahabobokensis memanjang dan sedikit lebar,” tutur arsitek itu. Tanaman berdiameter kaudeks 18 cm itu Wijaya dapat dari Republik Ceko berbarengan dengan E. tulearensis.

Kerabat bunga delapan dewa itu semula banyak ditemukan tumbuh di hutan kering di daerah Mahaboboka, Distrik Sakahara, Madagaskar. Pulau di ujung tenggara Benua Afrika, itu memang salah satu surga tanaman sukulen. Di sana juga ada Euphorbia itremensis asal Itremo, distrik Ambatofinandrahana. Kini E. itremensis sudah diperbanyak dan menjadi tanaman koleksi di Thailand, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa, juga di kediaman Wijaya.

Seperti kaktus

Di kota Ambovombe, bagian selatan Pulau Madagaskar, ada Euphorbia ambovombensis. Sukulen itu tumbuh di antara semak belukar di atas tanah hitam yang kaya humus. Namun, di musim kemarau habitatnya mengering, tanah nan kaya humus berubah sekeras batu.

Indra Susandi, kolektor euphorbia di Bogor, Jawa Barat, menanam E. ambovombensis yang adaptif di lingkungan hidup yang ekstrem itu di media tanam antara lain terdiri atas pasir malang 70%. “Intinya media harus porous agar bonggol tanaman tidak gampang busuk,” ujarnya. Euphorbia dengan tepi daun tebal dan bergerigi itu tampak cantik dalam balutan pot plastik hitam. Indra memperoleh tanaman yang memiliki bunga berwarna cokelat terang itu dari Jerman awal 2012.

Koleksi lain alumnus Departemen Teknik Metalurgi dan Material, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, itu adalah E.  namibiensis asal Republik Namibia. Sosoknya tidak seperti euphorbia asal Pulau Madagaskar. “Euphorbia asal Benua Afrika, khususnya Afrika Selatan, berbentuk medusoid alias terlihat seperti kaktus. Sementara dari Kepulauan Madagaskar bentuknya menyerupai pohon dan berkaudeks,” ujar Indra.

Lain lagi E. melanohydrata yang rupanya mirip dengan E. namibiensis, tapi warna keseluruhan tanaman berbeda. Yang disebut terakhir lebih keabu-abuan, sementara E. melanohydrata lebih hijau. “Nama melanohydrata dalam bahasa Latin bermakna air hitam. Itu diambil dari nama Swartwater, sebuah daerah di Provinsi Limpopo, Afrika Selatan, yang memiliki makna sama,” tutur Indra.

Koleksi Indra yang lain ialah E. abdelkuri yang habitatnya berasal dari Pulau Abd Al Kuri, Yaman selatan. Tanaman yang sosoknya bisa setinggi 90 cm itu cocok dijadikan sebagai elemen lansekap taman kering. Sebab dapat tumbuh di bawah pancaran sinar matahari langsung maupun naungan.

Menurut Gregori Garnadi Hambali, ahli Botani di Bogor, Jawa Barat, penyematan nama habitat dalam penamaan tanaman sah-sah saja asalkan sesuai dengan kaidah yang berlaku atau belum pernah digunakan sebelumnya. “Biasanya penunjukkan nama habitat diberikan pada tanaman yang baru ditemukan di alam dan jenisnya berbeda dari yang lain,” tutur Greg.

Nama habitat juga disematkan pada E. ankarensis-berasal dari Falaise de l’Ankara, Madagaskar utara, dan E. capmanambatoensis asal Cap Manambato, Madagaskar-semua koleksi Indra. Di balik nama euphorbia ada jejak habitat mereka. (Tri Istianingsih)

 

Keterangan Foto :

  1. Euphorbia tulearensis, dijuluki dewa Euphorbiaceae
  2. Euphorbia ambovombensis hidup di antara semak belukar di kota Ambovombe, Madagaskar
  3. Euphorbia itremensis rupanya persis tulearensis tapi daun lebih mulus
  4. Euphorbia mahabobokensis, diameter kaudeks 18 cm. Habitatnya dari Mahaboboka, Madagaskar
  5. Euphorbia namibiensis memiliki sosok medusoid, bentuk batang dan daun seperti kaktus
  6. Euphorbia abdelkuri habitatnya di lereng berbatu Abd Al Kuri, Yaman Selatan
 

Powered by WishList Member - Membership Software