Deteksi Pestisida: Cukup 20 Menit

Filed in Sayuran by on 07/08/2010 0 Comments

Cahyana, pengepul sayuran di Kota Batam, Provinsi Riau, kini tak perlu lagi bergegas ke laboratorium mengecek kandungan residu pestisida dalam sayuran. Ia bisa melakukan sendiri di rumah dengan mudah dan cepat. ‘Tak lebih dari 20 menit,’ kata Cahyana. Ia menerapkan deteksi residu pestisida pada sayuran yang dipasok petani.

Menurut Prof Dr I Ketut Suter MS dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Udayana, Bali, konsumen kini makin kritis dengan asupan pangan yang mereka konsumsi.  ‘Cemaran pestisida yang melebihi ambang batas pada bahan pangan dianggap ancaman kesehatan manusia,’ ungkap Suter. Timbunan residu pestisida dalam tubuh bisa menjadi racun atau toksik.

Enzim

Cahyana menggunakan alat deteksi pestida berbentuk stik. Komponen utamanya menyerupai kertas lakmus yang kerap digunakan untuk mengukur kadar keasaman (pH). Peralatan bantu lain berupa 3 buah tabung: tabung 1 mengadung aktivitator, tabung 2 berbentuk buka tutup, sementara tabung 3 mengandung cairan pewarna reaksi atau chromogen. Lainnya, pipet dan kantung plastik. ‘Praktis dan siapa pun bisa mengerjakan,’ ungkap pria 45 tahun itu.

Bersenjatakan peralatan itulah Cahyana secara acak mengambil sampel sayuran untuk diteliti sebelum dikirim ke pasar swalayan. Alat tersebut memanfaatkan enzim kolinesterase. Jika kandungan pestisida berupa organofosfat dan karbamat dalam sampel rendah, maka enzim akan aktif bereaksi dengan chromogen (pewarna reaksi) dan membentuk warna biru pada stik. Sebaliknya jika kandungan pestisida melebihi ambang batas minimun, kerja enzim kolinesterase akan terhambat sehingga warna stik tidak berubah, tetap putih.

Menurut Iyos Nardi dari PT Pesona Scientific, distributor detektor kandungan residu pestisida di Bandung, Jawa Barat alat yang praktis dan mudah digunakan itu cocok digunakan oleh para pemasok sayuran dan buah-buahan. ‘Konsumen dan produsen sama-sama diuntungkan,’ ungkap Iyus.

Kepala lalat

Metode lain yang memanfaatkan jasa baik enzim kolinesterase adalah RBPR Rapid Bioassay of Pesticide  Residues. RBPR dikembangkan di Taiwan sejak 1985 dan telah dimanfaatkan oleh para pelaku industri hortikultura di negeri Formosa itu. RBPR memanfaatkan enzim asetilkolinesterase (AChE) yang diisolasi dari kepala lalat rumah Musca domestica. Kepala lalat dijadikan sebagai sumber enzim AChE karena menurut penelitian CS Chiu, CH Kao, dan EY Cheng dari Taiwan Agriculture Research Institute terbukti sangat sensitif mendeteksi pestisida. AChE RBPR dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi insektisida dari golongan organofosfat dan karbamat.

Cara kerjanya 18 cm2 (4,5 cm x 4 cm) daun sayuran dicacah. Untuk ekstraksi, tambahkan 1 ml metanol dan kocok agar merata selama 3 menit. Tambahkan pula 20 µl sampel, 3 ml buffer, dan 20 µl AChE, kocok agar merata selama 3 menit. Setelah itu beri 100 µl DTNB (2-nitrobenzoic acid) dan 20 µl  ATCI (acetylthiocholine iodine).  Hasilnya warna kuning perlahan bereaksi dengan AChE dan terjadi perubahan warna. Jika warna kuning perlahan memudar atau buyar itu menunjukkan adanya kandungan pestisida tinggi yang mengeblok kehadiran AChE. Warna kuning terbentuk solid menandakan kandungan residu pestisida rendah. Untuk melihat gradasi warna yang lebih jelas dapat memanfaatkan spektofotometer. Pengujian itu hanya memakan waktu 15-20 menit.

Selain cara di atas ada juga yang memanfaatkan bakteri entomopatogen Bacillus thuringiensis (Bt). Bt sensitif terhadap fungisida terutama dari golongan ethylene bis dithio carbamates, captan, dan flopet. Namun uji Bt tak dapat diterapkan pada bawang putih, jahe, dan teh karena mengandung bahan antibakteri yang mengganggu pertumbuhan Bt. (Faiz Yajri)

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software