Demi Panen Jambu Sukun Merah

Filed in Topik by on 01/11/2009 0 Comments

 

Jambu sukun alias jambu biji tanpa biji memang kondang malas berbuah. ‘Semua jambu sukun cenderung sulit berbuah. Yang daging merah atau putih sama saja,’ kata Dr Ir Moh Reza Tirtawinata MS, pakar buah di Bogor, Jawa Barat. Padahal, jambu sukun tergolong rajin berbunga. Sayang, setelah bunga mekar, pentil yang terbentuk gampang rontok.

Pantas, gara-gara tingkat kerontokan buah yang tinggi, ratusan tanaman jambu sukun putih di lahan seluas 2 ha di Sentul, Bogor, terpaksa ditebang pemiliknya 5 tahun silam. ‘Tingkat kerontokan bakal buah pada jambu sukun bisa sampai 100%,’ ujar Eddy Soesanto, penangkar buah di Jakarta. Eddy mengaku sulit membuahkan jambu sukun merah yang ditanamnya 1,5 tahun silam. Ia belum mencicip sebuah pun jambu sukun merah dari pohon miliknya.

Prakoso Heryono-penangkar di Demak, Jawa Tengah-pun nyaris putus asa menunggu jambu sukun merah di kebun. ‘Buah sulit jadi sebelum tanaman berumur 2 tahun,’ katanya. Setelah menunggu 2,5 tahun barulah ada 15 buah yang bertahan sampai seukuran telur bebek. Sayang, hanya satu buah yang sampai matang pohon. Prakoso mencicip jambu sukun merah pada Agustus 2009.

Kurang hormon

Menurut Reza buah tanpa biji gampang rontok karena kromosomnya triploid (3n). Buah-buahan yang berbiji umumnya berkromosom normal-diploid, 2n-sehingga pasokan auksin dan giberelin cukup untuk menunjang tanaman berbuah lebat. Kedua hormon itu dipasok biji-biji yang sedang berkembang dalam buah. Berkurangnya biji pada buah membuat pasokan hormon sedikit. Buah pun gagal berkembang dan rontok.

Toh bukan berarti melebatkan jambu sukun mustahil. ‘Tambahkan saja auksin atau giberelin dari luar. Risiko kerontokan pasti berkurang,’ ujar Reza. Pada 1983, Reza menyemprotkan auksin pada bakal buah jambu getas merah 3 hari pascabunga mekar. Hasilnya, jumlah biji jambu getas merah yang biasanya 200-350 biji berkurang sampai tinggal seperempatnya. Asupan hormon dari luar membuat biji yang seharusnya ada sebagai sumber hormon tak perlu muncul dan berkembang.

Prinsip ala Reza itulah yang ditempuh Herfin di Malang, Jawa Timur, untuk mengurangi tingkat kerontokan sukun merah yang ditanamnya pertengahan 2008. Semula dari ratusan bunga yang muncul pada tanaman umur 2 tahun hanya bertahan 2 buah sampai panen. Padahal pupuk tinggi kalsium sudah diaplikasikan, tapi kerontokan buah tetap tinggi. Herfin pun berkonsultasi pada Langgeng Widodo-konsultan pupuk di Jawa Tengah.

Langgeng menyarankan pemupukan intensif dengan pemberian magnesium oksida (MgO) dipadu asam amino dan pupuk fosfor (P) dan kalium (K) tinggi. Menurut Langgeng saat masa pembuahan asupan Pdan Kmutlak diberikan agar buah terbentuk sempurna. ‘Unsur Mg ditambahkan karena berperan membentuk klorofil sehingga diharapkan fotosintesis maksimal. Mg juga katalisator penyerapan Pdan K,’ kata praktikus pupuk dari PT Tirta Exelindo Pratama di Semarang, Jawa Tengah, itu. Asam amino menjadi bahan utama penyusun protein yang diperlukan saat pembentukan buah.

Semua itu diikuti Herfin. Ia menyiramkan pupuk Pdan Ktinggi siap serap-biasa dipakai untuk lengkeng-sebanyak 10 g per 10 l air. Bersamaan dengan itu Herfin mencampurkan 40 cc larutan asam amino dalam 100 l air. Satu tanaman disiram 10 l. Seminggu berselang Herfin memangkas ujung-ujung cabang untuk merangsang pembungaan. Setelah sebagian besar bunga mekar, disiramkan larutan yang terbuat dari 3-5 g serbuk MgOpada 1 l air.

Lalu iseng-iseng ayah 2 anak itu menyiramkan 10 l larutan hormon asam giberelin GA3 sisa dari penyiraman lengkeng. ‘Saya biasa menyiramkan giberelin untuk memacu pertumbuhan buah pada lengkeng. Seharusnya aplikasinya lebih efektif jika disemprotkan. Dosisnya 1 tablet atau sekitar 5 g GA3 dilarutkan ke dalam 250 l air. Sisanya saya siramkan ke jambu sukun,’ kata Herfin.

Panen berlipat

Tiga bulan pascaperlakuan, ada 25 jambu sukun merah matang pohon yang dipanen dalam kurun 3 minggu. ‘Itu tergolong bagus untuk tanaman berumur 2 tahun,’ kata Eddy. Jumlah itu 12,5 kali lipat atau 1.250% dari jumlah panen sebelumnya yang hanya 2 buah. Perlakuan sama juga diterapkan pada bibit berumur 1,5 tahun. Hasilnya 5 buah dapat dipetik.

Menurut Reza tambahan giberelin itulah kunci mencegah rontok. Ia menggantikan peran biji memasok energi pembesaran buah. Langgeng menambahkan, pemberian GA3 sebagai perangsang tumbuh mutlak dibarengi dengan penyediaan hara yang cukup. ‘Jika hara, terutama Pdan Kkurang, buah yang terpacu pertumbuhannya oleh GA3 akan pecah karena tingkat pertumbuhan tidak seimbang dengan hasil fotosintat,’ katanya.

Yos Sutiyoso, pakar buah di Jakarta melihat kemungkinan lain. ‘Asupan Mg yang diberikan, memaksimalkan fotosintesis sehingga energi untuk menyerap kalsium dalam tanah maksimal,’ tuturnya. Kalsium mencegah apsisi atau penyekatan karena terbentuknya jaringan gabus antara ranting dan buah yang menyebabkan buah rontok. Itulah ilmu Herfin yang mungkin tak dimiliki Deddy Corbuzier. (Nesia Artdiyasa)

 

Foto-foto: Nesia Artdiyasa

^ Biji sangat sedikit menyebabkan pasokan hormon untuk perkembangan buah kurang

< Periode pascabunga jambu sukun merah mekar hingga buah seukuran kelereng sangat rawan rontok

< Tiga bulan pascapemupukan dan pemberian hormon, ada 25 buah bertahan sampai matang

Herfin Sasono sukses buahkan jambu sukun merah berkat pemupukan intensif

 

Powered by WishList Member - Membership Software