Delima Raden Saleh

Filed in seputar agribisnis by on 04/08/2014
Delima salah satu tanaman favorit Raden Saleh

Delima salah satu tanaman favorit Raden Saleh

Pencinta dan pelaku agribisnis adalah konservasionis yang proaktif. Mereka menjembatani dunia tanaman dan hewan dengan masyarakat luas. Caranya dengan mendukung agar para pemerhati tumbuhan dan satwa hidup sejahtera, bisnis perkebunan, peternakan dan pertanian lestari, dan lingkungan hidup pun selamat.

Harus diakui bahwa tidak banyak pencinta tumbuh-tumbuhan. Kalau dikumpulkan, jumlah pengunjung kebun raya di seluruh dunia ‘hanya’ 400-juta orang setiap tahun.

Bandingkan dengan 700-juta pengunjung kebun binatang, hampir 4-miliar penonton sepak bola, dan 5-miliar penggemar konser musik. Makanya para pencinta tumbuhan perlu merasa bahagia. Mereka termasuk kalangan sedikit yang terpilih. Pelanggan dan pencinta majalah Trubus termasuk istimewa dan langka jika dibandingkan dengan tabloid bola, majalah, buletin, dan ulasan gratis dunia hiburan, terutama musik. Jadi jelas, mengapa kita jarang menyaksikan liputan kerja-keras pertanian, hortikultura, perkebunan dan peternakan di televisi.

Kebun binatang

Kalau pun ada tayangan hortikultura d televisi, biasanya kalau terjadi bencana, gagal panen atau serangan hama. Penyuluhan konservasi dan perlindungan satwa langka dan tanaman unik, hanya kadang-kadang muncul di saluran Animal Planet, Discovery Channel, dan National Geography. Apakah pemerintah Indonesia mendatang akan lebih memperhatikan dunia agribisnis, tanaman dan satwa? Kita harapkan demikian. Yang jelas sejak awal, suara masyarakat yang kritis menyatakan bahwa isu lingkungan kurang atau belum menjadi perhatian.

Padahal, setiap orang mengakui pentingnya ketahanan pangan, kemandirian energi, kesejahteraan petani, dan seterusnya. Kepincangan ekonomi akibat impor buah-buahan, gula, beras, bahkan tanaman herbal dan satwa hias juga dibahas dengan penuh semangat. Namun, langkah-langkah untuk mendewasakan, mendidik maupun sekadar menerangi masyarakat agar cinta lingkungan dan produknya, sangat terbatas. Para pejabat kita sangat fasih mengulas piala dunia secara terperinci masing-masing kesebelasan, kekuatan, dan kelemahan pemain favorit masing-masing.

Namun, kalau ditanya apa nama pohon yang tumbuh di muka rumahnya, bagaimana melindungi kunang-kunang yang semakin menghilang, mungkin hanya geleng kepala. Singkatnya, perhatian pada lingkungan hidup sangat kecil. Sudah umum diketahui orang Indonesia rata-rata hanya tiga kali pergi ke kebun binatang. Pertama pada saat masih kecil diajak orang tua atau sekolah. Kedua, pada saat berpacaran. Ketiga ketika sudah punya anak atau mengantarkan cucunya.

Dalam 3 atau 4 kali kesempatan itu pun, tidak sempat belajar tentang satwa, apalagi tanaman di sekitarnya. Keluhan umum yang terdengar, masyarakat datang ke kebun raya dan ke kebun binatang adalah untuk berekreasi. Kita menikmati suasana santai, menggelar tikar, makan bersama dan bergembira di bawah rindangnya pepohonan. Syukur kalau terdengar kicau burung, teriakan siamang atau auman harimau di kejauhan. Perhatian belum terarah pada kenyataan bahwa kebun binatang adalah tempat belajar, sarana edukasi yang bisa mengubah hidup seseorang.

Pelopor manajemen kebun hewan, Bernard Harrison mengatakan, “Taman margasatwa adalah sarana untuk mengubah pola berpikir (mindset) manusia.” Mantan Direktur Singapore Zoo itu menyebar-luaskan ilmu cinta satwa dan ikut mendesain berbagai kebun binatang di lebih 60 negara. Penjelasannya sangat sederhana, kemajuan peradaban sebuah bangsa dapat dilihat dari perlakukan masyarakat kepada binatang. Hal itu sudah lama dinyatakan oleh pejuang kemanusiaan, Mahatma Gandhi.

Sekarang, Bernard kelahiran Kuala Lumpur 1951 itu mukim di Bali. Ideologinya membuat kebun binatang sebagai sarana pendidikan – sekaligus bisnis konservasi, banyak diapresiasi dan dilaksanakan. Terbukti bahwa dengan menyayangi binatang dan tumbuhan, manusia dapat hidup lebih sejahtera, dan lebih bijaksana.

Eka Budianta

Eka Budianta

Raden Saleh

Bangsa Indonesia sebetulnya punya pelestari, desainer kebun binatang, dan penganjur agribisnis yang luar biasa. Pada Mei 1811-lebih dari dua abad silam, Raden Saleh lahir di Semarang.   Sejak kecil ia menyukai pohon delima yang berbuah manis, dan pohon besar di tengah kota. Raden Saleh Syarief Bustaman-begitu nama lengkapnya, sejak berumur 10 tahun dititipkan pada bupati Semarang dan terkenal karena sangat berbakat melukis. Antara 1822-1824 ia melukis alat-alat pertanian: cangkul, ani-ani, sabit, dan tentu saja yang besar-besar seperti gerobak sapi, sawah ladang, maupun rumah petani.

Bakat melukisnya yang besar itu membuat Raden Saleh mendapat beasiswa untuk berangkat ke Eropa pada 1829 dan menjadi pelukis profesional. Ia bukan hanya gemar dan pandai melukis alat pertanian dan pemandangan, tetapi juga jago membuat potret dan menggambar binatang. Ia bangun pagi-pagi dan betah membuat sketsa singa yang sedang tidur. Teman-temannya maklum kalau Raden Saleh lebih suka duduk di depan kandang dan melukis singa dalam berbagai pose, daripada bergaul dan mengobrol.

Untuk lebih dekat dengan bermacam-macam hewan itu, Raden Saleh bersahabat dengan direktur kebun binatang. Henri Martin pelatih satwa dari Marseilles, Perancis, membuat Raden Saleh senang, karena tidak memakai cambuk. Pada 1837, Raden Saleh memberikan lukisan potret pemilik sirkus itu dengan pose romantis. Hasilnya, ia lebih dekat dengan 3 ekor singa Martin yang memberinya inspirasi tentang alam bebas dan pertarungan.

Raden Saleh juga bersahabat dengan penyair Jerman, Ida von Duringsfeld. “Aku baru mengumpulkan selusin dedaunan yang dipenuhi tulisan dan lukisan Raden Saleh,” tulis Ida di kota Breslau pada 1843. Kepada Ida inilah Raden Saleh menceritakan keistimewaan bunga melati Jasminum sambac bagi perempuan di Pulau Jawa. “Bunga melati digunakan untuk hiasan pengantin dengan memilin rambut mempelai perempuan dan menyematkan sekuntum pada tiap helai rambut,” catat Ida.

Multifungsi

Bukan hanya tentang melati, Raden Saleh juga menguraikan bunga-bunga yang lain, bermacam pohon dan herbal, termasuk pohon-pohon delima di masa kecilnya di Semarang. Pada 1852, Raden Saleh kembali ke tanahair, menikah dengan Constancia, seorang janda kaya raya pemilik perkebunan tebu, kopi dan nila, mengolah kembang gambir dan melati. Sawahnya pun luas di daerah Gemulak, sebelah timur Semarang. Pasangan itu tinggal di Jalan Gunung Sari, dan mulai membangun rumah besar dengan pekarangan 10 hektar di Cikini.

Rumah besar itu sekarang menjadi bagian penting dari Rumah Sakit Cikini. Sementara tamannya adalah koleksi tanaman dan satwa, Planten en Dierentuin dibuka untuk umum pada hari Senin, 19 September 1864. Itulah awal dari Taman Margasatwa Ragunan yang genap berumur 150 tahun, bulan depan. Untuk mengenalkan berbagai tanaman, Raden Saleh melukis bermacam pohon secara detail, dan terbit sebagai buku “Oost-Indiche Boom & Landsschap-Studien” Studi Pohon dan Pemandangan Hindia Timur, pada 1864 juga.

Selama 100 tahun, koleksi tanaman dan satwa Raden Saleh berkembang di Cikini, yang sekarang menjadi Taman Ismail Marzuki. Mulai 1964 dipindah ke Ragunan, menempati lahan percobaan hortikultura, tidak jauh dari Kementerian Pertanian. Memang begitulah seharusnya. Pada masa purba, kebun hewan memang dibangun sebagai sarana hiburan, khususnya untuk raja-raja yang ingin pamer kekuasaan. Sekarang, berfungsi sebagai konservasi, edukasi, penelitian dan rekreasi yang sehat dan bermartabat. Agribisnis berperan sebagai jembatan, mengapa manusia harus berbagi makanan dan habitat dengan semua mahluk ciptaan Tuhan. ***(Eka Budianta*)

*) budayawan, pengurus Tirto Utomo Foundation, Jababeka Botanic Gardens, kolumnis Trubus sejak 2001.

 

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software