Daun Sirsak Vs Kanker Paru

Filed in Obat tradisional by on 31/05/2011

 

Daun sirsakPaulus Wahyudi Halim, meski sudah sehat, konsumsi ekstrak herbal diteruskan untuk meningkatkan imunitas tubuh dan mengendalikan sel kankerSirun Damanik terpukul mendapat diagnosis itu pada pengujung Oktober 2007. Penyakit maut itu datang memberi isyarat berupa  nyeri dan sesak napas di dada. Semula pria 65 tahun itu abai. Namun, makin hari ia merasa kian sesak bernapas. Oleh karena itu, Sirun Damanik  bergegas memeriksakan diri ke dokter spesialis paru di Jakarta. Semula dokter menduga, gejala itu merujuk pada tuberkulosis (TB). Apalagi Sirun perokok berat yang menghabiskan 4 bungkus per hari. Namun, setelah menjalani rontgen dan  tes sputum selama 3 pekan, ia negatif TB.

Hasil itu keruan saja melegakan hati Sirun. Namun, gangguan kesehatan itu makin parah. Intensitas nyeri makin meningkat. Sirun kembali ke rumahsakit pada Februari 2009. Ketika itulah biang kerok sesak napas dan nyeri dada terkuak, kanker paru-paru. “Kaget saya mendengar apa yang diucapkan dokter,” kata Sirun. Hasil tes biopsi di sebuah rumahsakit di Penang, Malaysia, makin mengagetkan lagi, kanker stadium IV. “Saya sangat kesal, kenapa setelah 2 tahun kanker itu baru terdeteksi dan sudah pada tahap lanjut,” kata Sirun.

Daun sirsak

Menurut dr Paulus Wahyudi Halim yang banyak menangani pasien kanker, gejala awal kanker paru memang susah terdeteksi. Gejalanya hampir mirip dengan tuberkulosis, seperti batuk-batuk, banyak lendir, nyeri, sesak di dada, dan batuk berdarah. Kanker paru yang sudah bermetastasis alias menyebar ke organ lain seperti tulang, menimbulkan nyeri tulang. Bahkan, saat pemeriksaan di laboratorium pun kadang-kadang keberadaan sel kanker tidak terdeteksi. Itu  karena jumlah sel kanker  tidak  cukup banyak.

Untuk mengatasi sel maut itu, Sirun Damanik menjalani rawat jalan selama tiga bulan di Penang. Meski menjalani enam kali kemoterapi dan 31 kali penyinaran, kondisi Sirun tak kunjung membaik. Ia masih merasakan nyeri, sesak, dan lemah. Toh, ia tetap disiplin kontrol kesehatan setiap bulan ke Penang. Ayah empat anak itu kembali menjalani 12 kali kemoterapi. Menurut dr Paulus, kemoterapi tak sepenuhnya mematikan sel kanker. Pascakemoterapi, sel kanker yang tertinggal mencapai 20%.

Berkali-kali melakukan kemoterapi membuat kondisi warga Pasarminggu, Kota Jakarta Selatan, itu berubah drastis. Rambut rontok, wajah pucat, kesemutan, nafsu makan hilang. Sirun kurus kering, seperti kulit membungkus belulang. Bobot tubuh anjlok dari 72 kg menjadi 59 kg. Pantas banyak kerabat tak mengenalinya. “Kesemutan masih sering saya rasakan, padahal kemoterapi sudah berlangsung dua tahun silam,” kata Sirun. Atas saran bibinya yang pernah mengidap hipertiroidisme, keluarga membawa Sirun Damanik menemui dr Paulus Wahyudi Halim.

“Awalnya saya tidak yakin, hasilnya  pasti juga sama saja,  tidak  ada perubahan,” kata Sirun. Namun  demi menghargai bibi, Sirun pun akhirnya menuruti saran itu. Paulus Wahyudi Halim, dokter alumnus Universitas Degli Studi Padova, Italia, meresepkan ramuan kombinasi herbal, berupa ekstrak daun sirsak Annona muricata dalam bentuk kapsul. Ia mengonsumsi kapsul daun sirsak 3 kali sehari. Selain itu, ia juga minum berbagai herbal seperti daun sambiloto dan tapak dara resep dr Paulus.

Kanker mengecil

Menurut dr Paulus, secara medis sulit menangani kanker paru. Apalagi jika komplikasi efusi pleura atau akumulasi cairan di pleura menyertai kanker paru. Pada kondisi normal, tubuh memang menghasilkan cairan pleura dalam jumlah kecil untuk melumasi permukaan rongga di antara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada. Dalam keadaan normal, hanya ada cairan tipis yang memisahkan kedua lapisan pleura. Kelebihan cairan itu menyebabkan gangguan pernapasan. Pada kasus Sirun, dr Paulus tak “menyerahkan” sepenuhnya pada herbal. Ia memerlukan obat penunjang seperti pengurang nyeri dan alat bantu napas.

Faktor penunjang lain adalah kedisiplinan dan keberanian mengubah kebiasaan penyebab sakit. Sirun disiplin mengonsumsi ramuan itu dan berhenti total merokok. Selain itu ia juga menghindari terkena polutan, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, serta menghindari konsumsi daging. “Rokok, asap polusi, dan daging  meningkatkan pertumbuhan sel kanker,” ujar dokter yang pernah praktek di Ethiopia dan Uganda itu. Konsumsi sayuran juga sangat dianjurkan karena sayuran  mampu mempertahankan  kimia darah (pH) dalam keadaan basa. Sel kanker tidak nyaman dalam kondisi basa.

Kondisi kakek 2 cucu itu pun membaik.  Badannya terasa lebih enteng, lemah di badan hilang, nafsu makan meningkat hingga bobot badannya mulai naik. Kondisi itu yang mengikis ketidakpercayaan Sirun pada herbal. CT scan  terakhir pada 19 April 2010 menunjukkan, sel kanker mengecil menjadi 3 cm x 2 cm; ukuran semula, 6 cm x 4 cm. Sekarang Sirun sudah bisa melakukan aktivitas secara normal lagi seperti mengendarai mobil sendiri.

Sebelumnya dia hanya tergolek di atas pembaringan. Harap maklum kondisi Sirun lemah, berjalan saja tak sanggup. Meski kondisinya terus membaik, Sirun tetap mengonsumsi ekstrak daun sirsak. “Konsumsi ekstrak herbal berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh dan mengendalikan sel kanker,” ujar dokter berusia 65 tahun itu.  Mengecilnya sel kanker Sirun itu terbukti secara ilmiah sebagaimana hasil riset peneliti di Sekolah Farmasi Purdue University, Indiana, Amerika Serikat, Jerry L McLaughlin.

McLaughlin membuktikan bahwa daun Annona muricata manjur mengatasi 7 sel kanker, antara lain kanker paru-paru. Menurut Prof Soelaksono Sastrodihardjo PhD dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, daun sirsak mengandung senyawa aktif acetogenins. Senyawa itulah yang menghambat adenosina trifosfat (ATP), sumber energi di dalam tubuh, sampai ke sel kanker. Sel kanker membutuhkan banyak energi untuk pembelahan sel. Penghambatan itu menyebabkan produksi energi berhenti dan akhirnya sel kanker mengecil dan mati. (Desi Sayyidati Rahimah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software