Daun Belimbing Wuluh Antihipertensi Andal

Filed in Topik by on 04/08/2013

Riset ilmiah dan bukti empiris menunjukkan bahwa daun belimbing wuluh terbukti ampuh membantu menurunkan hipertensi. Senyawa fitol dalam daun diduga paling berperan menurunkan tekanan darah tinggi.

Daun belimbing wuluh mengandung senyawa firol yang diduga berperan menurunkan tekanan darah

Daun belimbing wuluh mengandung senyawa firol yang diduga berperan menurunkan tekanan darah

Kepala Liliana tiba-tiba terasa seperti berputar-putar. “Rasanya seperti mau jatuh,” kata perempuan yang tinggal di Pondokgede, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, itu. Tengkuk terasa pegal seperti ada yang mencengkeram. Khawatir berdampak buruk Liliana lalu memeriksakan diri ke dokter. Ternyata gejala pusing dan pegal di bagian tengkuk itu akibat tekanan darah yang melambung. Saat diperiksa tekanan darah Liliana mencapai 170/100 mmHg. “Biasanya tidak sampai setinggi ini,” kata ibu tiga anak itu.

Menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Prof Dr dr Nyoman Kertia SpPD KR, rasa pusing dan sakit kepala, terutama di bagian belakang kepala, merupakan gejala penyakit darah tinggi atau hipertesi. “Kalau gejala itu muncul, segera periksakan tekanan darah. Jika angka atas (tekanan sistolik, red) lebih dari 140, dan angka bawah (tekanan diastolik, red) lebih dari 90, maka pasien dikatakan hipertensi atau darah tinggi,” kata Nyoman Kertia.

Prof Nyoman mengatakan, sebagian besar penyebab darah tinggi akibat faktor keturunan, mencapai sekitar 85%. Liliana mengatakan ayahnya memang mengidap hipertensi sehingga kemungkinan penyakit itu diturunkan dari sang ayah.

Empat organ terancam

Pola hidup kurang sehat seperti stres, terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak, dan mengandung garam tinggi turut memicu hipertensi. Prof Nyoman menuturkan stres membuat pembuluh darah menegang sehingga kurang lentur saat aliran darah meningkat. “Saya juga kurang mengontrol makanan, terutama saat hari raya. Saat itu saya banyak mengonsumsi makanan berlemak,” ujar Liliana.

Menurut Prof Nyoman makanan berlemak menimbulkan plak di dalam pembuluh darah. Akibatnya, pembuluh darah menyempit. “Konsumsi garam berlebih dapat meningkatkan volume darah. Garam dapat menyedot cairan dari luar pembuluh darah sehingga masuk ke dalam pembuluh darah,” kata dokter spesialis penyakit dalam di RSUP dr Sardjito, Yogyakarta, itu. Dokter alumnus Universitas Gadjah Mada itu menyarankan agar pasien segera berobat jika terdeteksi tekanan darah tinggi.

Belimbing wuluh secara tradisional memang dikenal ampuh sebagai penurun tekanan darah.

Belimbing wuluh secara tradisional memang dikenal ampuh sebagai penurun tekanan darah.

Jika dibiarkan hipertensi akut dapat menyebabkan gangguan pada 4 organ tubuh: otak, mata, ginjal, dan jantung. Jika tekanan darah tinggi terjadi di pembuluh darah otak, bisa menyebabkan stroke yang dapat berujung kematian. Jika tekanan darah tinggi terjadi di pembuluh darah mata dapat mengurangi ketajaman penglihatan. Tekanan darah tinggi di ginjal bisa melemahkan dan menyebabkan gagal ginjal. Sementara tekanan darah tinggi pada pembuluh darah jantung  dapat menyebabkan gagal jantung.

Untuk mengatasi darah tinggi yang belum akut, tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg, Prof Nyoman menyarankan untuk memperbaiki pola hidup seperti mengurangi konsumsi makanan berlemak dan mengandung garam, mengurangi stres, dan olahraga rutin. Jika tekanan lebih besar daripada itu dokter biasanya memberikan obat-obatan yang jenisnya tergantung kondisi pasien. “Mekanisme kerja obat hipertensi ada yang bersifat mengurangi volume darah, melebarkan saluran pembuluh darah, dan penghilang stres,” katanya.

Pilih daun

Untuk mengatasi hipertensi, dokter memberikan obat captopril. Namun, ketika itu Liliana lebih memilih saran almarhumah ibunya yakni mengonsumsi air rebusan daun belimbing wuluh. Perempuan 47 tahun itu membuang dua ruas daun paling ujung, lalu merebus dua tangkai daun dalam 3 gelas air hingga mendidih dan tersisa dua gelas.

Perempuan  kelahiran Jakarta itu mengonsumsi air rebusan daun majemuk belimbing wuluh pada pagi dan sore hari. Ia juga mengurangi konsumsi garam dan hanya mengonsumsi makanan yang direbus dan sayur-sayuran. Setelah 4 pekan mengonsumsi air rebusan daun belimbing wuluh tekanan darahnya kembali normal yakni 110/80 mmHg. Sebetulnya ada pilihan lain, yakni konsumsi jus buah belimbing wuluh. Liliana menghindari konsumsi jus buah belimbing wuluh karena mengidap mag kronis. Ia khawatir lambungnya tak tahan dengan rasa masam buah belimbing wuluh.

Deddy Triadi—yang bersangkutan enggan disebut namanya—juga merasakan faedah daun tanaman anggota famili Oxalidaceae itu. Pria asal Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, itu telah lama mengidap hipertensi. Pernah suatu hari hipertensinya kambuh saat  Deddy tengah asik memancing ikan bersama keluarga. Ia tiba-tiba merasa pusing dan mata berkunang-kunang.

Untuk mengurangi sakit kepala Deddy banyak meminum air putih dan tidur. Namun, ketika bangun sakit kepala tak kunjung hilang. Ia lalu mengonsumsi obat pereda rasa sakit. Keesokan hari sesampainya di rumah, Deddy memeriksa tekanan darah menggunakan tensimeter digital. Tekanan darahnya 180/100 mmHg.

Seorang herbalis menyarankan Deddy meminum air rebusan daun belimbing wuluh. Sejak itu ia pun rutin merebus 8 tangkai daun majemuk dalam 5 gelas air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas.  Pria 54 tahun itu meminum air rebusan itu tiga kali sehari.  Setelah 5 hari rutin mengonsumsi air rebusan daun, tekanan darah Deddy berangsur normal menjadi 120/90 mmHg.

Liliana, tekanan darah kembali normal setelah rutin mengonsumsi air rebusan daun belimbing wuluh selama 4 pekan.

Liliana, tekanan darah kembali normal setelah rutin mengonsumsi air rebusan daun belimbing wuluh selama 4 pekan.

Terbukti ilmiah

Baik Liliana maupun Deddy tidak mengalami efek samping berarti selama mengonsumsi rebusan daun belimbing wuluh. Mereka hanya lebih kerap ke peturasan karena daun itu berefek diuretik alias memperlancar urine. Kisah mereka menjadi bukti empiris bahwa daun belimbing wuluh dapat membantu menurunkan tekanan darah. Bukti empiris itu sejalan dengan hasil riset ilmiah yang sahih. Para peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Dra Hernani MSc, Ir Christina Winarti MA, dan Ir Tri Marwati MSi membuktikan daun belimbing wuluh mujarab menurunkan hipertensi.

Dalam riset ilmiah itu, mereka melibatkan 6 kucing—tekanan darahnya menyerupai tekanan darah manusia. Sebelum perlakuan, periset membius kucing untuk memberikan rangsangan pada sistem kardiovaskuler dengan menyuntikkan 0,2 ml ephinephrine. Akibat penyuntikan itu tekanan darah hewan uji meningkat menjadi 177 mmHg, normal 120 mmHg. Selanjutnya tim peneliti menyuntikkan larutan uji berupa ekstrak kasar dan ekstrak murni daun belimbing wuluh dengan dosis masing-masing 8,3 mg, 16,6 mg, 25 mg  dan 33 mg per kg bobot tubuh kucing.

Hasil penelitian menunjukkan kedua jenis ekstrak (ekstrak kasar dan murni) berefek hipotensif atau menurunkan tekanan darah kucing pengidap hipertensi. Semakin tinggi pemberian dosis, maka efek hipotensif semakin tinggi (lihat tabel). Di antara kedua jenis ekstrak itu yang berefek hipotensif lebih tinggi adalah ekstrak daun belimbing wuluh murni.

Hasil penelitian itu kabar baik bagi pengidap hipertensi. Peneliti dari Departemen Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Klinis, Universitas Umea, Swedia, LH Lindholm, menyebutkan bahwa penurunan tekanan darah berefek positif. Dalam “Journal of Human Hypertension” Lindholm menyebutkan bahwa penurunan tekanan darah sistolik 10—12 mmHg dan diastolik 5—6 mmHg, mengurangi risiko terkena stroke hingga 18%, jantung koroner 16%, dan kematian akibat pecah pembuluh darah 21%.

Dalam penelitian Hernani dan rekan pemberian ekstrak daun belimbing wuluh dengan dosis 33 mg dapat menurunkan tekanan darah hingga 46,5— 54,5 mmHg. Oleh karena itu para periset berpendapat daun belimbing wuluh bisa dikembangkan sebagai obat antihipertensi. Bagaimana duduk perkara daun belimbing wuluh menurunkan tekanan darah? Para periset belum mengetahui pasti mekanisme kerja daun belimbing sayur menurunkan tekanan darah.

Di pasaran kini tersedia teh seduh dan teh celup daun belimbing wuluh sehingga lebih praktis

Di pasaran kini tersedia teh seduh dan teh celup daun belimbing wuluh sehingga lebih praktis

Hernani dan rekan berhasil mengidentifikasi kandungan senyawa aktif daun belimbing wuluh. Senyawa yang paling dominan adalah turunan asam dikarboksilat, yaitu dietil phatalat. Senyawa lain yang teridentifikasi adalah fitol, lazim sebagai materi yang cukup baik dan aman untuk memperbaharui komplemen antibodi.  Senyawa-senyawa lain yang teridentifikasi adalah asam ferulat, asam lemak seperti asam miristat, etil palmitat, dan trimetil pentadekanon.

Asam lemak rantai panjang itu jika digunakan secara tidak berlebihan dapat mengurangi risiko penyakit jantung, salah satu efek buruk hipertensi. Dari hasil ekstrak kasar, daun belimbing wuluh juga mengandung senyawa dietil phatalat dan fitol masing-masing 9,75% dan 12,64%, setelah pemurnian menjadi 4,80% dan 51,34%. Hernani dan rekan menduga senyawa fitol yang turut berperan dalam menurunkan tekanan darah.

Efek diuretik

Menurut Prof Nyoman daun dan buah belimbing wuluh dapat membantu menstabilkan tekanan darah, meski tidak sekuat daun tempuyung Sonchus arvensis, seledri Apium graveolens, kumis kucing Orthosiphon stamineus, dan alang-alang Imperata cylindrica. Keempat herbal itu lebih populer sebagai penurun tekanan darah. “Cara kerja herbal-herbal itu biasanya mengurangi volume darah dengan cara meningkatkan aktivitas berkemih atau berefek diuretik,” tuturnya.

Efek itulah yang dirasakan Nunung Nurmilah. Frekuensi buang air kecil perempuan asal Desa Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu meningkat setelah rutin mengonsumsi air rebusan daun belimbing wuluh  yang diresepkan herbalis di Bogor, Ujang Edi, untuk menurunkan tekanan darah yang mencapai 170/80 mmHg. “Walau pun sering kencing tapi badan menjadi lebih enak, tidak pegal lagi. Tekanan darah saya turun menjadi 130/80 mmHg setelah rutin minum air rebusan selama seminggu,” kata Nunung.

Menurut peneliti dari Divisi Farmakologi Klinis, Departemen Kedokteran dan Ilmu Biofarmaseutikal, Universitas Kalifornia, Amerika Serikat, Neal L. Benowitz MD, dalam “Farmakologi Dasar dan Klinis”, seperti dikutip Fitriyah Yuskha dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, obat yang bersifat diuretik amat penting untuk mengatasi hipertensi. Obat diuretik sebaiknya digunakan sebagai pengobatan pertama dalam mengatasi hipertensi sebelum diberikan obat antihipertensi lainnya.

Dalam beberapa penelitian daun belimbing wuluh terbukti berefek diuretik. Hasil penelitian Andhika Arie Prasetya dari Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah, menunjukkan ekstrak daun belimbing wuluh berefek diuretik terutama pada kelompok tikus putih jantan. Dalam riset itu  Prasetya memberi dosis 52,517 mg dan 105,034 mg per 100 gram bobot tubuh tikus.

Turun signifikan

Turun signifikan

Resep turun-temurun

Para herbalis juga memilih daun calincing—sebutan belimbing wuluh dalam bahasa Sunda—untuk membantu mengatasi penyakit hipertensi. Herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, meresepkan 7 tangkai daun belimbing wuluh kepada para pasien hipertensi. Menurut Lina daun ideal adalah yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Sebaiknya gunakan tangkai daun tumbuh di bagian tengah pohon, bukan di pucuk atau di bagian cabang paling bawah pohon.

“Kandungan senyawa tangkai daun yang tumbuh di bagian tengah pohon paling optimal,” kata Lina yang menyarankan pasien untuk merebus 7 daun itu dalam 5 gelas air hingga mendidih dan tersisa 3 gelas. Ia meresepkan daun belimbing wuluh secara tunggal. Air rebusan itu dikonsumsi 3 kali sehari. “Daun belimbing wuluh bersifat asam sehingga menurunkan tekanan darah,” tuturnya.

Herbalis di Kota Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati, juga menambahkan daun belimbing wuluh dalam ramuan untuk membantu mengobati hipertensi. Dalam ramuan itu ia mencampur 10 g daun belimbing wuluh kering bersama 10 g daun kepel, 5 g daun seledri, 5 g daun sembung, dan 5 g daun sambiloto. Menurut Valentina dalam ramuan itu daun belimbing wuluh berperan melarutkan penyumbatan pembuluh darah di jantung sehingga kerja jantung memompa darah lebih optimal.

Atasi hipertensi

Atasi hipertensi

Herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Lukas Tersono Adi, juga meresepkan daun belimbing wuluh untuk pasien hipertensi. Lukas menyarankan untuk merebus dua tangkai daun belimbing wuluh dan 1 lembar daun sukun—jika ukuran daun sukun kecil. “Jika ukuran daun sukun besar cukup 1/4—1/6 bagian,” kata alumnus Universitas Diponegoro itu. Rebus dengan api kecil dalam 5 gelas air hingga mendidih dan tersisa separuhnya. Minum air rebusan 2—3 kali sehari. Menurut Lukas daun belimbing wuluh berperan sebagai peluruh urine  atau diuretik. Sementara daun sukun untuk memperbaiki kinerja ginjal.

Bukti empiris dan ilmiah itulah yang mendorong beberapa produsen herbal untuk memproduksi ramuan daun belimbing wuluh. PT Liza Herbal International di Bogor, Jawa Barat, yang memproduksi 500—1.000 botol teh seduh dan 300—500 kemasan teh celup daun belimbing wuluh. “Setiap tahun permintaan naik 50%,” ujar manajer pemasaran PT Liza Herbal International, Norma Julita. Di Jakarta Barat ada CV Cherish Fidelia yang juga memproduksi teh celup daun belimbing wuluh. Harapan sembuh kini datang dari daun belimbing wuluh.  (Imam Wiguna/Peliput: Bondan Setyawan, Desi Sayyidati Rahimah, Pressi Hapsari Fadlillah, Riefza Vebriansyah, dan Rizky Fadhilah)

[box type=”shadow” align=”alignleft” ]

Faedah Buah

Bukan hanya daun, tetapi buah belimbing wuluh juga berfaedah membantu menurunkan hipertensi. Itu terbukti dalam penelitian Fitriyah Yuskha dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Ia meneliti efek diuretik buah belimbing wuluh. Menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Prof Dr dr Nyoman Kertia SpPD KR, efek diuretik salah satu cara herbal untuk membantu menurunkan tekanan darah. “Dengan sering berkemih, maka volume darah berkurang,” ujarnya.

Fitriyah melakukan riset pada 6 kelompok mencit jantan. Ia lalu mengukur aktivitas diuretik dengan mengukur volume urine mencit setiap jam selama 5 jam. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol buah belimbing wuluh pada dosis 2,5 g per kg bobot tubuh memberikan aktivitas diuretik kuat pada jam ke-2 dan mencapai maksimum pada jam ke-3 pengamatan. Sebaliknya, pada dosis 5 g per kg bobot tubuh  aktivitas diuretik mencit tidak teratur. Artinya, pada dosis 5 g sudah tidak efektif  sebagai diuretik alami.

Hasil penelitian Florentina Wulandari, Rosnaeni, dan Sylvia Soeng, dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Jawa Barat, menunjukkan jus buah belimbing wuluh Averrhoa bilimbi juga dapat menurunkan kadar kolesterol total. Kolesterol merupakan penyebab penyumbatan pada pembuluh darah, pemicu hipertensi. (Imam Wiguna)[/box]

 

Powered by WishList Member - Membership Software