Dari Neraka Menjadi Surga

Filed in Eksplorasi by on 05/10/2010 0 Comments

 

The Eden Project, menyulap lahan bekas tambang tanah liat seluas 8 ha menjadi surga 5.000 spesies tanaman dari seluruh dunia Kurma tumbuh dalam greenhouse raksasa di Eden ProjectLubang bekas eksplorasi tambang selama 10 - 30 tahun harus ditimbun kembali dan vegetasi awalnya dikembalikanDua greenhouse itu menyatu dengan sebuah kubah ruang pamer berbentuk setengah bola. Greenhouse terbesar seluas 1,56 ha dengan tinggi 55 m menjadi habitat tanaman tropis. Kubah itu ditopang rangka baja dan diselimuti atap plastik ethylene tetrafluoroethylene (EFTE) transparan. Dengan begitu tanaman tetap leluasa memperoleh sinar matahari untuk berfotosintesis. Greenhouse kedua berisi tanaman Mediterania, Afrika, dan Amerika berukuran lebih kecil. Tingginya hanya 35 m dengan luas 6.540 m2.

Kedua greenhouse raksasa yang dibangun selama 2,5 tahun itu dilihat Dr M Reza Tirtawinata, ahli buah dari Taman Wisata Mekarsari, Bogor, Jawa Barat, saat mengunjungi Inggris pada 2009. Di The Eden Project – nama kawasan itu – Reza menyaksikan pohon karet, kopi, pisang, dan bambu yang khas tropis tumbuh subur. ‘’Luar biasa. Di negara subtropis seperti ini bisa menyaksikan tanaman tropis seperti di daerah asalnya,’’ kata Reza. Pemandangan seperti di habitat asli cepat terbentuk karena yang ditanam pohon-pohon dewasa.

Udara hangat dan lembap khas daerah tropis tercipta dengan mengatur temperatur antara 15 – 35oC. Padahal saat Reza berkunjung pada September, Inggris sedang musim gugur. Suhu udara di luar greenhouse paling pol 19oC. Kelembapan berkisar 70% terbentuk dari banyaknya uap air yang dihasilkan lewat sistem pengabutan dan beberapa air terjun buatan. Semua dikendalikan melalui komputer. Pendek kata iklim tropis yang hangat dan lembap pindah ke dalam greenhouse. ‘Buat orang Eropa kondisi itu mungkin terlalu panas. Makanya di beberapa titik disediakan pintu keluar greenhouse,’ ujar Reza yang menyaksikan sepasang kakek-nenek menuju pintu keluar dengan peluh membanjiri tubuh.

Tim menyulap lahan tandus bekas tambang dengan mendatangkan ribuan meter kubik humus dari hutan-hutan di sekitar Cornwall. Lahan gersang itu pun berubah menjadi tempat hidup yang nyaman bagi 2.215 spesies, 1.032 genus, dan 3.794 aksesi alias keragaman jenis dari seluruh dunia. ‘Humus kaya nutrisi dan mineral sehingga tanaman tumbuh subur,’ ujar Reza. Keajaiban itulah yang membuat The Eden Project menjadi pusat perhatian dunia. Sejak dibuka untuk umum pada 2001, greenhouse raksasa itu telah dikunjungi lebih dari 8-juta pengunjung.

Nun di Kenya, taman nasional Haller Park juga lahir dari area bekas tambang semen. Semula di bekas area tambang seluas 2 km2 dengan kedalaman 9 m itu tak satu pun pohon tumbuh. Berkat jasa Dr Rene Haller, ahli ilmu hayati asal Swiss, bekas tambang semen milik Bamburi Cement Co Ltd itu menjadi surga bagi ribuan spesies tanaman dan hewan.

Haller menyulap hamparan gurun kapur setelah melalui penelitian panjang. Pada awal penelitian, ia mengidentifikasi pohon yang dapat hidup di lahan tanpa humus dan berair payau. Pria kelahiran 1933 itu lalu menguji 26 jenis pohon asal kawasan tropis. Dari 26 tanaman hanya 3 yang bertahan hidup: Conocarpus lancifolius dari kawasan bergaram di Somalia, kelapa Cocos nucifera, dan cemara udang Casuarina equisetifolia asal Australia.

Pertumbuhan conocarpus dan casuarina paling subur. Keduanya lalu menjadi pilihan untuk ditanam dalam skala luas. Sebanyak 12.000 bibit ditanam di lahan seluas 13 ha. Pada umur 3 tahun tinggi conocarpus mencapai 9 m dan diameter batang 65 cm. Sementara tinggi casuarina 4 m dan diameter batang 30 cm.

Dalam 5 tahun gurun kapur itu berubah menjadi hutan cemara dan conocarpus. Populasinya semakin padat karena biji-bijian yang jatuh ke tanah tumbuh menjadi anakan baru. Lantai hutan pun tertutup serasah.

Sayang serasah pinus lamban terurai karena daunnya mengandung tanin, sehingga ‘’kurang disukai’’ mikoorganisme pengurai bahan organik. Beruntung Haller secara tidak sengaja menemukan kaki seribu Epibolus pulchripes yang ternyata ‘’lahap’’ memakan serasah pinus. Kotoran si kaki seribu itulah yang kelak menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.

Haller lalu mengumpulkan kaki seribu dari semak-semak yang tumbuh di tepi pantai sekitar Mombasa dan disebar di hutan cemara. Ternyata daya reproduksi kaki seribu sangat cepat sehingga populasinya terus bertambah. Alhasil, serasah cemara terurai lebih cepat. Dalam jangka waktu 5 tahun, ketebalan humus mencapai 10 cm.

Setelah pasokan humus cukup, Haller menebang sebagian cemara lalu menggantinya dengan pohon lain agar vegetasi hutan lebih beragam. Contohnya eukaliptus, mimba, baobab, kelapa, pisang, dan mangga.

Vegetasi hutan yang semakin lebat dan beragam membuat gurun kapur yang semula panas dan kering itu menjadi sejuk dan lembap. Beberapa jenis jamur mulai bermunculan di lantai hutan. Pada 1991 atau 20 tahun setelah proses rehabilitasi tambang dimulai, sudah 170 spesies jamur ditemukan. Proses pelapukan dan pembentukan humus semakin cepat dengan kehadiran rayap sehingga tanah menjadi lebih subur. Kehadiran rayap juga mengundang para predator seperti kadal dan unggas.

Ekosistem di sana semakin lengkap setelah Haller membuat beberapa danau dan kolam. Di kawasan itu sumber air memadai karena muka air tanah dangkal yakni hanya 15 – 20 cm. Haller lalu mendatangkan aneka satwa seperti antelope, jerapah, dan kudanil. Kini kawasan itu menjadi taman nasional terlengkap di Kenya. Berkat keberhasilannya Haller memperoleh penghargaan Global 500 Roll of Honor for Environmental Achievement dari United Nations Environment Programme (UNEP) pada 1987.

Di tanahair jejak kesuksesan Tim Smit dan Rene Haller mereklamasi lahan tambang diikuti oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC). Beberapa area tambang yang sudah ditutup karena cadangan batubara habis ‘dihijaukan’ kembali. ‘Ini adalah tanggung jawab kami untuk mengembalikan bekas area tambang ke kondisi habitat semula atau ke kondisi yang lebih bermanfaat,’ kata Yordhen Ampung, superintendent of public communication PT KPC. Karena itu sebelum pembukaan area tambang, vegetasi awal didata. Data itu nantinya menjadi acuan ketika melakukan reklamasi tambang.

Salah satu area bekas tambang yang sudah direklamasi adalah blok Hatari yang dibuka pada 1988 dan ditutup pada 1998. Dua belas tahun berselang bekas area tambang seluas 10,53 ha itu kembali rimbun oleh sengon, waru, meranti, dan jabon. Beberapa satwa endemik seperti orang utan dan burung kangkareng mulai berdatangan. ‘Saat ini periset di Universitas Mulawarman sedang meneliti apakah kedua hewan itu membuat sarang atau sekadar singgah di hutan bekas tambang,’ ujar Yohanis Katindo, Teknisi Monitoring Reklamasi PT KPC.

Kawasan bekas tambang lain yang sedang direklamasi adalah blok Prima Dam seluas 100 ha. Dari luasan itu baru 30 ha yang ditimbun kembali. Lima belas hektar di antaranya sudah ditutup top soil dan tanaman penutup tanah berumur 3 minggu.

Menurut Prof Dr Iswandi Anas dari Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), tanaman penutup tanah itu berperan sebagai tanaman perintis di area bekas tambang. Ia juga dapat memperbaiki struktur fisik tanah, mengurangi penguapan air, dan membatasi pertumbuhan gulma.

Jenis tanaman yang digunakan biasanya anggota famili Leguminoceae. Mereka mampu menambat nitrogen dari udara sehingga dapat memperkaya nitrogren di tanah.

Saat 50% area tertutup cover crop, barulah ditanam bibit pohon yang daya tumbuhnya cepat dan mudah beradaptasi seperti sengon, turi, jabon, dan akasia. ‘Tujuannya agar lahan cepat rimbun,’ kata Ruddie M Sulu, Acting Supervisor Nursery PT KPC. Tiga tahun berselang ditanam tanaman kayu seperti ulin dan meranti, serta tanaman lokal yang semula tumbuh di area tersebut. Kayu keras ditanam belakangan karena pertumbuhannya lamban dan tidak menghendaki intensitas cahaya matahari tinggi di awal pertumbuhan.

Menurut Yohanis luasnya areal tambang menyulitkan perawatan bibit pascatanam yang masih rentan kekeringan. Karena itu saat penanaman KPC menggunakan hidrogel yang diimpor dari Australia sebagai campuran media tanam bibit. ‘Media itu mampu memenuhi kebutuhan air bagi bibit selama 3 bulan,’ katanya.

Di KPC tidak semua lahan bekas tambang dikembalikan fungsinya menjadi hutan. ‘Beberapa area dibuat menjadi padang rumput dan kebun rumput gajah untuk peternakan sapi terpadu (PESAT),’ ujar Sugeng Wiyatno, koordinator community development KPC wilayah Rantaupulung. Contohnya lahan bekas tambang di kawasan Sangatta South East Dump. Kini lahan seluas 22 ha itu menjadi ladang gembala 100 sapi bali betina dan 10 ekor jantan.

Anakan sapi rencananya dibagikan kepada petani yang tinggal di kawasan sekitar tambang sebagai bagian dari program corporate social responsibility (CSR) PT KPC. Lewat proses reklamasi yang konsisten dilakukan bekas tambang bisa kembali jadi surga tanaman dan satwa. (Imam Wiguna/Peliput: Nesia Artdiyasa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software