Dalam Rawatan Dokter

Filed in Majalah, Tanaman hias by on 14/09/2016

Taman unik memadukan tanaman gurun dan kolam koi.

Kombinasi kontras antara tanaman gurun dengan kolam koi.

Kombinasi kontras antara tanaman gurun dengan kolam koi.

Belasan encephalartos aneka jenis antara lain Encephalartos horridus, E. arenarius, dan E. trispinosus berjajar rapi di halaman depan rumah dr Sonny Chandra. Ukuran tanaman purba itu beragam, sejengkal hingga lebih dari 150 cm. Tanaman dewasa setinggi 100 cm atau lebih tumbuh di sekitar pagar sebagai latar taman. Adapun yang masih kecil tumbuh di bagian depan.

Kehadiran puluhan tanaman anggota famili Cycadaceae tidak lantas membuat halaman itu berkesan padang pasir. Sebab, pehobi di di Margahayu, Bandung, Jawa Barat, itu menghadiran kolam koi. Itu memberi suasana segar dengan airnya yang jernih dan mengalir terus-menerus. Di pinggir kolam itu, Sonny juga menghadirkan tanaman hias lain, di antaranya nolina, pandan bali, dan dracaena.

Jenis langka

Koleksi enchephalartos ditanam langsung di tanah.

Koleksi enchephalartos ditanam langsung di tanah.

Sonny Chandra juga membuat taman encephalartos di halaman samping rumah seluas 3 m x 15 m. Ratusan encephalartos menghuni taman itu. “Saya menanamnya sebagian besar dari bibit kecil sejak 8 tahun silam,” ujar Sony. Sebelumnya Sonny mengoleksi puluhan anggrek. Namun, sejak kesibukannya sebagai dokter bertambah, perhatian ke anggrek berkurang.

Akibatnya banyak anggrek yang mati. Sejak itulah ia mencari tanaman yang mudah pemeliharaannya. Pilihannya jatuh pada encephalartos. Koleksi pertamanya E. lehmannii, encephalartos berdaun rapat berwarna kebiru-biruan. Kini koleksi itu menjadi salah satu yang terbesar. Panjang daun mencapai 100 cm dan bonggolnya hampir 30 cm. Ia lalu menambah satu demi satu koleksi dari rekan-rekan dari berbagai daerah, seperti Jakarta dan Malang.

Salah satu koleksi istimewa ialah E. arenarius dengan bonggol sebesar 20 cm, E, inopinus, dan E. latifrons. Sosok latifrons mirip dengan horridus. Menurut pehobi di Jakarta, Widi Wongso, daun latifrons lebih tebal. Bila meraba permukaan daun terasa ada rambut kasar sehingga seperti amplas. Latifrons pun berdaun lebih hijau daripada horridus. Menurut Widi, kolektor latifrons masih jarang lantaran pertumbuhannya lambat.

Karena sibuk dr Sonny Chandra memilih encephalartos untuk dipelihara.

Karena sibuk dr Sonny Chandra memilih encephalartos untuk dipelihara.

Bahkan, orang lebih berminat mengoleksi hirsutus daripada lafrons karena rentan stres. “Bila dipindahkan, belum tentu latifrons hidup,” ujar Widi. Bila membeli sucker atau tunas anakan, pun rentan mati, sehingga kebanyakan orang membeli bibit yang sudah tumbuh. “Bila ada latifrons berukuran besar, sudah pasti cantik. Sebab, jenis itu mempunyai daun yang rimbun,” kata Widi.

Untuk menyiasati agar tanaman tidak stres, Sonny menanam latifrons tanpa membongkar pot. Sebelumnya ia membuat lubang besar di dasar pot sehingga akar bisa langsung menembus tanah. Sonny pun mengoleksi E. hirsutus kecil, yang sohor sebagai ningratnya encephalartos. Menurut kolektor encephalartos di Malang, Jawa Timur, Surya Waskita, harga hirsutus sangat tinggi, berkisar Rp2-juta—Rp4-juta per sentimeter bonggol.

Mudah dirawat
Pada awal mengoleksi, beberapa tanaman mati. Menurut Sonny tanaman yang mati itu ditanam di pot dan akarnya terlalu basah. “Di pot itu suhu di dalamnya panas, apalagi jika terkena sinar matahari. Bila kemudian kena hujan, lalu kena sinar matahari, efeknya akar tanaman seperti digodok. Akibatnya tanaman mudah terserang busuk akar,” kata Sonny Chandra.

E. dyerianus salah satu koleksi perdana Sonny Chandra.

E. dyerianus salah satu koleksi perdana Sonny Chandra.

Sementara itu tanaman yang ditanam di tanah, sedikit yang mati. Oleh karena itu ia mengutamakan porositas media saat menanam. Dokter itu manggunakan pasir malang hingga 4 bagian dan tanah hanya 1—2 bagian sebagai media tanam. Adapun encephalartos yang ditanam di tanah tanpa campuran media lain. Pasir malang di permukaan tanah berasal dari media asal pot untuk mengurangi cipratan air.

Untuk mengurangi genangan air di tanah, ia menguruk tanah setinggi 30—50 cm. “Saya hanya menimbun tanah lalu menanam tanaman koleksi di situ,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universistas Kristen Maranatha itu. Pengurukan agar air yang diterima tanaman segera terbuang. Sebab, bila air menggenangi akar beberapa hari, menyebabkan kerusakan, bahkan kematian tanaman.

Agar tanaman tidak tergenang, ia memiringkan permukaan bukit tanah. Dengan demikian air akan mengalir ke tempat lebih rendah tanpa sempat masuk ke dalam tanah. Menurut Sonny tidak ada cara khusus merawat koleksinya. Perawatan setiap 1—2 pekan. Ia menyemprotkan fungisida, terutama pada musim hujan. Sebagai tanaman gurun, encephalartos tidak rakus hara. Sonny memberikan pupuk daun sekali dalam 2 bulan. (Syah Angkasa)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software