Cyphostemma: Punuk Molek ke Surabaya

Filed in Tanaman hias by on 04/09/2013 0 Comments

Cyphostemma yang eksotis, langka, dan mahal itu menjadi koleksi Sugita Wijaya.

Kolektor tanaman sukulen di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Ir Sugita Wijaya, langsung terpikat saat menyaksikan sebuah foto tanaman di forum tanaman di sebuah situs asing. Tinggi tanaman itu hanya 20 cm. Ia tertarik karena tanaman itu unik, batang berwarna cokelat keemasan yang menggembung. Beberapa bagian permukaan kulit batang terlihat mengelupas bak ular sedang berganti kulit. Sementara bagian kulit yang tidak mengelupas tampak mengilap. Pada ujung batang tumbuh dua cabang.

Itulah sosok Cyphostemma uter var macropus. Nama genus berasal dari bahasa Yunani, kyphos berarti punuk, stemma, karangan bunga. Keunikan itu yang membuat Sugita rela merogoh kocek setara sebuah motor baru untuk membeli tanaman langka dari Somalia itu. Padahal, tanaman itu sedang tidak berdaun. “C. uter var macropus termasuk jenis sangat langka,” kata Sugita. Menurut Ir Edhi Sandra MSi, ahli Fisiologi Tumbuhan dari Institut Pertanian Bogor, permukaan batang mengilap karena terdapat lapisan lilin. Pada tanaman gurun lapisan lilin itu mencegah evaporasi berlebih sehingga tanaman masih mampu menyimpan air untuk mempertahankan hidup.

Setahun 1 cm

Pada 2011 pesanan Sugita akhirnya datang. Ia lalu menanam tanaman anggota keluarga Vitaceae itu pada media tanam berupa pasir malang dalam pot berdiameter 20 cm. Ia tidak menambahkan pupuk atau tanah karena dapat mengundang cendawan sehingga tanaman mudah busuk. Sugita juga tidak menyiram. “Penyiraman baru dilakukan minimal 1 pekan setelah muncul daun baru,” katanya. Setelah kondisi tanaman sudah sehat, ia menyiram rutin 2 pekan sekali.

Menurut Sugita, meski berukuran mungil, tanaman yang ia beli itu sejatinya berumur tua. “Kulit batang yang mengelupas menandakan usianya telah tua,” ujarnya. Mekanisme ini menurut Edhi Sandra termasuk reaksi alami karena lapisan kulit tumbuh sehingga kulit lama mengelupas. Cyphostemma tergolong tanaman yang pertumbuhannya lambat. “Dalam setahun hanya bertambah tinggi maksimal 1 cm,” kata pria yang juga berprofesi sebagai arsitek itu. Artinya, C. uter var macropus yang Sugita beli berumur 20 tahun.

C. uter var macropus hanya salah satu cyphostemma koleksi Sugita. Pria 38 tahun itu juga mengoleksi C. montagmacii yang ia peroleh dari sebuah nurseri langganannya di Afrika. Tanaman setinggi 20 cm itu juga tak kalah unik. Tanaman kerabat anggur itu memiliki kaudeks berwarna abu-abu gelap dengan tonjolan-tonjolan kecil sehingga permukaan kulit tampak kasar. Dari ujung kaudeks tumbuh sulur yang menjuntai. Di sepanjang sulur tumbuh daun seperti menjari berselimut rambut-rambut halus.

C. sp. C lebih langka dibanding C. betiformis“Penampilan Cyphostemma montagnacii memang kurang bagus, tapi tergolong istimewa karena jenis ini sulit hidup di luar habitat aslinya (Madagaskar, red). Jadi, salah satu kebanggaan saya juga,” kata Sugita. Pantas jika ia rela mengeluarkan biaya 500 euro setara Rp6.500.000 untuk mendatangkan montagnacii dari Afrika.

Cyphostemma koleksi Sugita lainnya adalah C. betiformis. Tanaman itu sosoknya menyerupai bonsai dengan kaudeks bagian bawah besar, semakin ke atas semakin mengecil. Pada sekujur batang terlihat seperti benjolan sehingga tanaman setinggi 15 cm asal Somalia itu tampak tua. “Tanaman itu memang berumur tua, umurnya 20 tahun,” kata Sugita. Jenis lain ada juga C. sp. C.

Menurut Sugita cyphostemma itu sebelumnya bernama C. betiformis. Namun, karena terdapat beberapa perbedaan pada batang dan daun, para taksonom akhirnya memberi nama spesies berbeda. Kaudeks C. sp. C terlihat gempal, tanpa lekukan atau tonjolan di permukaan kaudeks. “Daunnya juga lebih lebar sehingga terlihat lebih kurus dibandingkan C. betiformis,” katanya.

 

Koleksi besar

Sugita juga mengoleksi cyphostemma berukuran besar. Sebut saja C. juttae asal Afrika Selatan yang tingginya mencapai 40 cm. Permukaan kulitnya mengilap dengan warna hijau bersemburat keemasan. Daunnya lebar dan tebal. “Umurnya ratusan tahun dan tingginya bisa mencapai 3 meter,” ujar pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat. Koleksi cyphostemma jumbo lainnya adalah C. currorii yang tingginya mencapai 100 cm.

C. betiformis dibeli dari Afrika Selatan seharga Rp2-jutaTanaman sukulen itu tampak gagah dalam balutan pot berdiameter 60 cm. Daunnya rimbun dan lebar. Bentuk kaudeks membentuk struktur seperti bebatuan. Tanaman asal Namibia itu menambah apik halaman rumah Sugita bersama C. bainesii. Saat Trubus berkunjung pada Mei 2013 sukulen seharga Rp30-juta itu tengah berbunga berwarna kuning. Tingginya sekitar 50 cm, tapi daunnya lebih tegak ketimbang daun C. currorii.Total jenderal terdapat 20 cyphostemma koleksi Sugita. “Saya menyukai cyphostemma karena sosoknya seperti bonsai dengan keunikan pada tekstur kulit batangnya,” katanya.

Meski habitat asli tanaman gurun itu di Benua Afrika, sebagian besar koleksinya ia peroleh dari Jerman sejak 2009. Ia lebih suka mendatangkan cyphostemma dari Negeri Panser karena, “Di sana tanaman dari habitat asli sudah diadaptasikan dahulu sebelum dikirim ke negara lain,” jelasnya. Beberapa di antaranya ia peroleh langsung dari negara asalnya seperti Afrika Selatan dan Madagaskar, terutama jenis unik dan langka.

Sugita menyimpan sebagian besar koleksinya di loteng rumah di bawah naungan atap plastik ultraviolet. Ia menghindari tempat terbuka karena khawatir terpaan hujan yang dapat menyebabkan tanaman sukulen mudah busuk. Selain itu sungkup ultraviolet meningkatkan panas akibat efek rumah kaca. Panas yang masuk akan dipantulkan kembali oleh plastik ultraviolet. Di sudut loteng ia memasang kipas angin berdaya 190 watt agar sirkulasi udara lancar dan menyerupai desiran angin seperti di habitat aslinya di gurun. Pantas jika ke-20 cyphostemma koleksinya itu hidup sejahtera meski tumbuh di luar habitat. (Lutfi Kurniawan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software