Cupang Ciamik Jutaan Rupiah

Filed in Majalah, Satwa by on 04/03/2019

Black gonzales berharga fantastis karena masih langka di kalangan para pehobi.

Cupang-cupang marble bermutu prima dan berharga jutaan rupiah.

Mirza Ghulam Ahmad menjual seekor cupang Rp2,5 juta pada 2018. Padahal, harga cupang berkualitas bagus rata-rata Rp300.000—Rp500.000 per ekor. Black gonzales—nama cupang berharga tinggi itu— spesial karena coraknya yang hijau berkilauan kontras dengan warna dasar tubuhnya yang hitam. Harganya fantastis lantaran, “Masih jarang yang punya karena baru saya yang beternak itu. Mendapatkan anakan black gonzales pun sulit,” kata penangkar cupang di Jakarta Timur itu. Bukan perkara mudah mendapatakan black gonzales.

White scale lokal menyaingi kualitas cupang sejenis dari Vietnam.

Setelah empat kali perkawinan sang induk cupang bisa menghasilkan black gonzales. Tantangan lainnya yaitu dari 300 telur hanya 10 yang menetas menjadi black gonzales. Meski begitu usaha tidak mengkhianati hasil. Konsumen pun berani membeli dengan harga tinggi. Inspirasi mencetak black gonzales ketika Mirza berekreasi ke Kediri, Jawa Timur. Di sana ia menjumpai dan terpincut cupang bercorak seperti black gonzales. Ia pun bertekad mencoba menghasilkan cupang itu dan berhasil.

Marble

Mirza memanfaatkan rosetail hitam sebagai induk jantan dan halfmoon double tail hijau sebagai induk betina. Hasil persilangan itu menghasilkan 70% anakan halfmoon doubletail dan 30% rosetail. Cupang berharga selangit lainnya disebut ikan sultan lantaran sultan saja yang membeli cupang berharga tinggi. Harap mafhum cupang itu berwarna putih solid dengan garis biru laut di pinggiran tubuhnya itu terjual dengan harga Rp2,3 juta pada 2018.

Blue rim—nama cupang mahal itu— lahir dari hasil perkawinan acak cupang solid putih dan biru. Selain blue rim, hasil perpaduan kedua cupang itu juga menghasilkan ikan berkelir putih bertotol biru laut atau hitam seperti corak anjing dalmatian. Mirza menamai cupang unik itu dot dot. Kini ia tengah mengembangkan warna blue rim dan dot dot pada cupang plakat dan halfmoon.

Blue rim lahir dari hasil perkawinan acak cupang solid putih dan biru.

“Memproduksi blue rim lebih sulit ketimbang dot dot. Dari 300 telur hanya lima yang menjadi blue rim,” kata anggota staf pengajar Bahasa Indonesia di Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), Jakarta Selatan, itu. Cupang lain milik Mirza yang menyedot perhatian yakni white scale. Itu cupang fancy teranyar Mirza. Sesuai namanya cupang itu didominasi warna putih dragon atau mutiara di tubuh dan oranye atau merah pada setengah bagian tubuh depannya.

Mayoritas white scale yang beredar di pasaran berasal dari Vietnam meski asal induknya dari Indonesia. Mirza memang bertekad mencetak white scale lokal yang kualitasnya bersaing dengan produk sejenis dari negeri jiran beribukota Hanoi itu. Induk white scale lokal yakni red dragon dan solid merah atau jingga. Alternatif lain Mirza mengawinkan dua anakan fancy yang hanya mengeluarkan 2 warna mutiara putih dan merah atau jingga.

Dot dot cupang berkelir putih bertotol biru laut atau hitam seperti corak anjing dalmatian.

Menurut Mirza memproduksi white scale relatif mudah. Saat ini ia menghasilkan cupang anyar itu dari plakat. Setiap perkawinan menghasilkan 50% white scale dan 50% red dragon. Ia menargetkan memiliki white scale bercorak dragon dan paduan warna solid merah atau jingga, berkepala botak, dan berekor seperti bintang,” kata ayah satu anak itu. Padahal dahulu ikan berciri itu dianggap cacat dan tidak laku, kini malah laku.

Induk

Black gonzales, blue rim, dot dot, dan white scale termasuk cupang fancy andalan Mirza. Ia sohor sebagai penangkar cupang fancy berkualitas premium. Buktinya cupang ternakan Mirza laku terjual dengan harga istimewa seperti black gonzales dan blue rim. Juri kontes cupang nasional dan internasional, Joty Atmadjaja, mengatakan fancy adalah merek dagang cupang beragam warna. Fancy bisa memiliki warna marble atau multiwarna.

Mirza Ghulam Ahmad, peternak cupang fancy berkualiats premium.

Berdasarkan standar kontes International Betta Congress (IBC), ciri marble antara lain adanya pola marmer pada tubuh dan sirip ikan. Lazimnya ditandai dengan adanya warna daging pada kepala. Lebih lanjut Joty menuturkan fancy bukan kategori warna pada kontes cupang. Dalam kontes cupang fancy dapat dikelompokkan dalam kategori marble atau multiwarna. Menurut Mirza tidak ada teknik khusus menghasilkan cupang fancy miliknya.

Namun ia memilih cupang varian lain sebagai induk penghasil marble. Lazimnya penangkar lain menggunakan sepasang ikan marble untuk menghasilkan marble. Mirza lebih memilih mengawinkan ikan solid untuk mencetak marble. Cara lainnya ia memadukan marble dengan solid untuk menciptakan cupang tiga kelir. Menurut Joty genetik induk enjadi penentu keberhasilan memproduksi cupang marble. Tentunya induk juga mesti sehat dan cukup umur.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah kualitas air dan pakan. Mirza mengganti total air setiap tiga hari. Tujuannya agar pH air 6,5—7,5. Ia juga memberikan kutu air Daphnia magna sebagai pakan agar warna cupang maksimal. Sejatinya kehadiran black gonzales, blue rim, dot dot, dan white scale cenderung untuk memanjakan mata pehobi. Namun tetap mumpuni untuk mengikuti kontes asal dicocokkan dengan kriteria kelas kontes. (Tamara Yunike)

Tags: , , , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software