Croplife Indonesia Serius Melawan Pestisida Palsu dan Ilegal

Filed in Peristiwa by on 06/09/2019

Peredaran pestisida palsu dan ilegal (anticounterfeit, ACF) makin marak terjadi meski pengawasan berkala dilakukan Kementerian Pertanian, instansi terkait, dan lembaga penegakan hukum. Oleh sebab itulah asosiasi nirlaba yang mewakili kepentingan petani serta industri benih dan pestisida, CropLife Indonesia, mengadakan seminar nasional yang fokus membahas peredaran pestisida palsu dan ilegal.

Anggota Croplife Indonesia, Mayang Marchiany, mengatakan bisnis pestisida palsu dan ilegal di dunia bernilai $6,5 miliar. Jumlah itu sangat besar untuk produk palsu sehingga mengundang banyak investor. Apalagi para oknum tidak perlu melakukan pengujian dan registrasi produk sehingga keuntungan berlipat.



Pada acara yang bertajuk Sinergi Lintas Sektoral dalam Pengawasan Produk Palsu dan Ilegal Guna Mendukung Pertanian yang Berkelanjutan itu, Chairman Croplife Indonesia, Kukuh Ambar Waluyo mengatakan tema itu muncul setelah Croplife Indonesia dan stakeholders terkait kali pertama bekerja sama hingga penindakan dan menghukum pelaku pemalsuan pestisida.

“Beberapa tahun lalu kita hanya melakukan aksi pencegahan dan awareness,” kata Kukuh. Kepolisian dan Dinas Pertanian Kabupaten Brebes sukses membongkar kasus peredaran pestisida palsu dan ilegal beberapa bulan lalu. Itu pencapaian positif yang diharapkan dapat menjadi contoh dalam penganggulangan di wilayah lain di Indonesia. Hasil survey Insight Asia pada 2017 mengungkapkan sekitar 26% petani di Indonesia pernah membeli pestisida palsu.

Jumlah itu setara sekitar 10 juta petani. Angka yang sangat fantastis. Kukuh mengatakan pemalsuan pestisida masalah serius. Menurut Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida Indonesia, Prof. Dr. Ir. Dadang M.Sc., yang datang pada acara yang berlangsung pada 27 Agustus 2019 itu dampak pestisida palsu dan ilegal antara lain merugikan petani secara ekonomi dan waktu. Alasannya pestisida yang diharapkan dapat melindungi tanaman tidak bekerja efektif.

Artinya pengendalian hama dan penyakit pada tanaman gagal. Dampak negatif lain penggunaan pestisida palsu dan ilegal yakni merusak tanaman, mengurangi pendapatan pajak negara, dan mempengaruhi kesehatan masyarakat baik pengguna dan masyarakat luas karena residu yang mungkin tertinggal pada tanaman.

Selain itu, terjadi peningkatan kerusakan lingkungan yang meliputi penurunan kesuburan tanah dan populasi hewan berguna, pencemaran sumber air tanah, dan meningkatkan resistensi hama. Untuk mengatasi peredaran pestisida palsu dan ilegal, Dadang menyarankan pihak terkait mengedukasi petani, menghimbau petani tidak menjual kemasan pestisida bekas, memastikan kios hanya membeli pestisida dari agen resmi, dan pemberian hukuman berat bagi pengedar pestisida palsu dan ilegal.

Kukuh berharap dengan adanya seminar nasional di Hotel Aston Priority Simatupang & Conference Center Jakarta itu ada sinergi dan kolaborasi para stakeholders terkait setelah semuanya memahami dan menyebarkan pentingnya melawan peredaran pestisida palsu dan ilegal. (Riefza Vebriasnyah)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software