Cobia: Satu Tahun, 6 Kg

Filed in Ikan konsumsi by on 01/10/2011

 

N

ama cobia Rachycentron canadum memang masih asing terdengar. Sosok cobia sepintas mirip hiu dengan panjang tubuhnya rata-rata 1 m. Corak tubuh sederhana mirip patin, kombinasi warna hitam dan putih. Cobia sejak lama menjadi ikan konsumsi favorit di Taiwan, Pakistan, Filipina, Jepang, Vietnam, China, dan beberapa negara di Eropa dan Amerika. Dengan tekstur daging putih dan liat, di Jepang cobia diolah menjadi sashimi. Daging cobia digemari karena mengandung DHA dan asam lemak omega 3 yang tinggi sehingga baik untuk kesehatan manusia.

Ikan cobia, potensial karena pertumbuhannya cepatSaat ini populasinya di alam kian menyusut akibat penangkapan berlebihan. Pembudidaya di Taiwan sudah merintis budidaya cobia pada 1992 untuk memenuhi permintaan filet yang cukup besar. Di tanahair, BBPBL Kabupaten Pesawaran, menangkap peluang itu dengan mengembangkan teknologi pembesaran cobia.

Cepat besar

Cobia memang potensial dibudidayakan. Ikan pelagis itu termasuk ikan yang cepat pertumbuhannya. Menurut Ir Badrudin MSi, kepala BBPBL, ukuran panen 4-6 kg/ekor dari benih hanya butuh waktu satu tahun. “Pertambahan bobotnya lebih cepat dibandingkan dengan kerapu yang pada umur 18 bulan hanya menghasilkan bobot panen 0,5 kg,” kata Badrudin.

Di BBPBL tahap pembesaran dimulai dari persiapan induk, calon gudang benih. Benih calon induk dipelihara di bak kontrol. Lalu dipindah ke keramba jaring apung (KJA) sampai ikan matang gonad atau siap untuk memijah. Induk cobia mencapai kematangan seksual pada umur 1,5-2 tahun dengan bobot rata-rata 10 kg. “Dengan kualitas induk bagus, anakan yang dihasilkan akan berkualitas,” kata Badrudin.

Induk di KJA dipindahkan ke bak beton bervolume 200 m3 saat dilakukan pemijahan. Sebelumnya, mutu sel telur dan sperma ikan dilihat dengan kanulasi, yaitu menyedot dengan kateter. Induk cobia memijah pada akhir atau awal bulan Komariah, saat bulan tidak tampak. Induk jantan memiliki ekor yang menyudut lebih dalam dibandingkan betina, dengan ukuran tubuh lebih kecil. Di bak pemijahan induk memijah alami pada malam hari.

Pagi hari pascapemijahan, air di bak induk dikurangi. Telur biasanya terlihat dekat permukaan air, sehingga saat air dialirkan telur-telur itu hanyut ke bak lain. Larva muncul 17-18 jam setelah telur menetas. Sampai umur 10 hari larva diberi pakan berupa zooplankton rotifera dengan jumlah 10 individu per 10 ml air. Pada umur 14 hari diberi pakan Artemia salinia sampai berumur 20 hari. Setelah itu ikan sepanjang 3-4 cm itu dipelihara di bak pendederan. “Pertumbuhan benih sangat cepat,” kata Asmanik SPd MSi, anggota staf perbenihan BBPBL yang menyebutkan benih kerapu rata-rata baru mencapai panjang 2 cm pada umur 35 hari.

Besar di keramba

Cobia selanjutnya dibesarkan di bak penggelondongan. Di sana cobia dirawat selama 3 bulan hingga berukuran 10-15 cm, dengan bobot 100-150 gram/ekor. Dari riset, laju pertumbuhan cobia per bulan adalah 3,47% dengan nilai konversi rasio pakan (FCR) 3,38 dan tingkat kelulusan hidup (SR) 96%. Setelah umur 3 bulan barulah ikan dipindahkan ke KJA. Pakan yang diberi berupa cacahan ikan rucah dengan dosis pemberian 3% dari bobot ikan/hari. Pelet ikan rucah dapat digantikan pelet pabrik.

Pada bulan ke-6, bobot sudah mencapai 1 kg. Dengan asupan pakan rutin, pertambahan bobot setelah itu bisa mencapai 1 kg/bulan. Syaratnya pemberian pakan dikombinasikan dengan pemberian multivitamin dosis 3 g per kg pakan setiap pekan. Selain itu di KJA perlu dilakukan seleksi untuk mencegah kompetisi pakan. “Laju pertumbuhan pada fase ini sekitar 1,12%, FCR 3-5, dan SR 100%,” kata Suryadi Saputra SPd MSi, staf bagian budidaya BBPBL.

Panen dilakukan sesuai kebutuhan. Untuk pasar domestik, panen dilakukan saat ikan berbobot 1-4 kg, pasar ekspor berbobot 4-6 kg. Secara umum ikan pengembara itu relatif tahan terhadap penyakit akibat bakteri dan virus seperti Cryptocaryon irritans, Amyloodinium ocellatum, Neobenedenia sp, dan Streptococcus sp. Infeksi parasit dikendalikan dengan merendam ikan dalam air tawar yang telah diberi Acriflavin dosis 5-7 ppm. Sebagai pencegahan dapat dilakukan perendaman ikan di air tawar selama 2-3 menit sewaktu mengganti jaring yang rutin dilakukan sebulan sekali.

Potensial

“Ikan cobia cocok untuk alternatif pemenuhan gizi karena harganya yang terjangkau sekitar Rp25.000-Rp30.000 per kg,” kata Badrudin. Sayang, belum banyak orang terbiasa mengonsumsi cobia. “Harga jualnya masih dinilai rendah oleh peternak,” tambah Badrudin yang menyebut BBPBL saat ini memiliki banyak stok benih yang dipenuhi dari 16 induk.

Peluang ekspor cobia sangat terbuka. Pembeli dari Taiwan dan Jepang, misalnya, bersedia menerima cobia beku sebagai bahan baku sashimi dan sushi. Berbeda dengan negara Uni Eropa dan Amerika yang meminta bentuk fillet. Di Taiwan, cobia berbobot di atas 8 kg mencapai harga US$9 atau setara Rp81.000 per kg, sedangkan ukuran 6-7 sekitar Rp72.000 per kg.

Keuntungan lain cobia dapat dibudidayakan di tambak. Dengan begitu populasi dalam sekali pemeliharaan bisa banyak dan dalam waktu singkat. Budidaya di tambak dilakukan saat ikan berbobot 25-100 g. “Menurut riset, cobia adaptif sampai salinitas 5 per mil karena di habitat aslinya ia mampu hidup di muara,” ungkap Suryadi. (Susirani Kusumaputri).

 

Powered by WishList Member - Membership Software